Connect with us

Entertainment

Memoar Seorang Pelacur Diluncurkan, Potret Satir tentang Manusia dan Penghakiman

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Memoar Seorang Pelacur, karya Ute Nurul Akbar, hadir membawa sebuah tulisan yang tidak sekadar bercerita tentang kehidupan seseorang, tetapi juga mencoba membedah cara masyarakat memandang dosa, kesalahan, masa lalu dan kesempatan untuk berubah.

Karya ini menggunakan karakter “pelacur” sebagai metafora satir untuk mengkritik realitas sosial yang terbiasa menghitam-putihkan sesuatu, tetapi jarang menjadikannya sebagai refleksi terhadap diri masing-masing.

Pelacur, dalam konteks karya ini, bukanlah sebuah realitas tunggal.

Ada banyak situasi yang sangat mirip dengan karakter tersebut. Di sana ada penjilat, koruptor, maling, makelar kasus, pengemplang pajak, pegawai korup, dokter, guru, bahkan ustaz cabul dan berbagai perilaku lain yang secara personal kerap dihujat.

Namun, persoalannya berubah ketika perilaku tersebut memberikan keuntungan secara pragmatis.

Sosok yang perilakunya dihujat secara moral dapat berubah menjadi pemujaan dan dukungan ketika keberadaannya memberikan keuntungan bagi orang lain.

BACA JUGA  Misteri Suanggi dari Papua Kini Menghantui Layar Bioskop , Tayang 10 September 2026

Di titik itulah Memoar Seorang Pelacur mencoba mengajak pembaca bercermin. Bukan hanya bertanya siapa yang salah, tetapi juga mengapa standar moral masyarakat dapat berubah ketika berhadapan dengan kepentingan.

Kritik kemudian diperluas pada persoalan kapitalisasi manusia.

“Kapitalisasi tidak hanya terjadi pada barang, tanah, dan pabrik. Yang paling dalam dan paling menyakitkan adalah kapitalisasi terhadap tubuh manusia.”

Manusia menjual tenaga, pikiran, waktu dan keringat demi bertahan hidup. Bahkan dalam kondisi tertentu, bagian paling intim dari dirinya ikut menjadi sesuatu yang dipertukarkan.

Pada saat yang sama, masyarakat menentukan siapa yang pantas dihormati dan siapa yang harus dihina.

Penilaian tersebut tidak selalu lahir dari kebenaran atau keadilan, tetapi dapat dipengaruhi oleh siapa yang memiliki kekuasaan dan siapa yang memberikan keuntungan.

BACA JUGA  JJ dan Teman-Temannya Siap Bertualang! CoComelon Hadir di Bioskop

Dari kritik sosial itu, karya ini kemudian membawa pembaca masuk pada persoalan agama dan penghakiman.

“Aku tidak menolak agama. Aku tidak menolak Tuhan. Aku tahu apa yang aku lakukan mungkin melanggar ajaran-Nya. Mungkin aku berdosa. Itu urusanku dengan-Nya. Bukan urusan manusia.”

Pengakuan tersebut menjadi pintu bagi pertanyaan yang lebih besar.

Jika Tuhan adalah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pengampun, mengapa manusia yang mengaku sebagai hamba-Nya justru menjadi algojo yang paling kejam?

Mengapa seseorang yang pernah jatuh tidak diberi jalan untuk bertaubat, berubah dan menjadi manusia kembali?

Mengapa sekali jatuh, mereka justru dikubur hidup-hidup oleh kata-kata manusia?

Pertanyaan tersebut dirangkum dalam salah satu gagasan yang ditawarkan Memoar Seorang Pelacur:

“Jika agama memberi jalan pulang, mengapa manusianya yang menutup jalan itu dengan tembok tinggi yang tak bisa dilewati?”

BACA JUGA  Gara-Gara Passobis , 400 Orang Adu Aksi di Makassar

Memoar Seorang Pelacur memasuki periode pre-order pada 27 September hingga 7 Oktober 2026. Buku karya Ute Nurul Akbar ini ditawarkan dengan harga Rp50 ribu selama masa pre-order, dari harga normal Rp65 ribu.

Pemesanan dapat dilakukan melalui Bank Mandiri 1520046407777 atas nama Subaltern Inti Media. Konfirmasi pemesanan melalui Admin Subaltern di nomor 0823-4894-8881.

Melalui karya ini, pembaca diajak melihat bahwa persoalan tentang seseorang yang pernah jatuh tidak berhenti pada kesalahan masa lalu.

Ada pertanyaan tentang kesempatan untuk berubah, ruang untuk bertaubat, cara masyarakat memberikan label, dan batas antara dosa dengan penghakiman.

Pada akhirnya, Memoar Seorang Pelacur meninggalkan satu pertanyaan sederhana tetapi mengusik: benarkah seseorang yang pernah jatuh tidak berhak untuk kembali?

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending