Connect with us

Entertainment

Digempur Teknologi dan AI, Musik Indonesia Kembali Mencari Rasa

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Di tengah industri musik yang semakin dikuasai teknologi digital dan kecerdasan buatan atau AI, ada sebuah fenomena menarik yang justru bergerak ke arah berbeda.

Musik dengan warna rock kembali mendapat ruang.

Bukan berarti musik Indonesia meninggalkan pop atau menolak perkembangan teknologi. Justru yang terlihat adalah semakin banyak musisi yang mencoba mempertemukan produksi musik modern dengan karakter musik yang lebih organik, emosional dan terasa manusiawi.

Hal tersebut terlihat dari sejumlah artis dan band yang mulai keluar dari kebiasaan genrenya, kemudian menghadirkan warna rock, pop-rock maupun pop-punk dalam karya mereka.

Salah satu contoh terbaru adalah Keisya Levronka.

Penyanyi yang selama ini lekat dengan lagu-lagu ballad tersebut menghadirkan album keduanya, Rombak, pada April 2026. Album ini membawa pendekatan pop-rock dengan sudut pandang musik Indonesia era 2000-an.

Dominasi petikan gitar dan aransemen full-band menjadi fondasi utama album tersebut. Keisya seolah membawa kembali karakter musik yang pernah sangat kuat di era tersebut, tetapi dikemas dengan produksi masa kini.

BACA JUGA  Makassar Bakal Berpesta! SUB Fest 2026 Hadirkan Ari Lasso, Reality Club hingga The Adams 3 September

Perubahan warna itu menarik karena menunjukkan bahwa nostalgia tidak selalu berarti mengulang masa lalu.

Musik lama bisa kembali hadir dengan bentuk yang berbeda.

Fenomena serupa sebenarnya sudah lebih dulu terlihat pada Isyana Sarasvati. Dari musik pop, Isyana mengeksplorasi progressive rock dan menjadikannya bagian penting dalam perkembangan musikalnya.

Pada 2022, Isyana bahkan menceritakan bagaimana perpindahan dari pop menuju rock progresif menjadi bagian dari eksplorasi kreatifnya. Ia juga menyebut perubahan tersebut justru membuka segmentasi pendengar baru.

Di ranah band, batas antara pop dan rock juga semakin cair.

for Revenge, misalnya, pada AMI Awards 2026 tercatat masuk dalam kategori Duo/Grup Pop Terbaik melalui Bandung Hari Ini. Pada saat yang sama, mereka juga masuk kategori rock melalui kolaborasi bersama Stand Here Alone dalam uKYdS.

Pee Wee Gaskins memperlihatkan bentuk eksplorasi yang berbeda.

Melalui proyek Salute From Pee Wee Gaskins: Putar Waktu Kembali, mereka mengemas kembali sejumlah lagu Indonesia lintas generasi dengan karakter pop-punk. Lagu-lagu seperti Piknik 72 milik Naif, Terbang dari GIGI, Aku Ingin milik /rif, Bermimpi dari Base Jam dan Konservatif milik The Adams dibawa ke dalam warna khas mereka.

BACA JUGA  November Jadi Milik Chaeryeong, Member ITZY Ini Akhirnya Debut Solo

Dari sejumlah contoh tersebut, terlihat satu hal yang menarik.

Musisi tidak selalu mencari sesuatu yang sepenuhnya baru.

Mereka juga kembali menggali sesuatu yang pernah ada.

Di sinilah perkembangan teknologi justru menghadirkan paradoks dalam musik.

Sekarang, proses produksi bisa dilakukan jauh lebih cepat. Instrumen dapat disimulasikan, suara bisa dikoreksi dengan sangat presisi, sementara AI mampu membantu menciptakan berbagai kemungkinan musikal dalam waktu singkat.

Namun, semakin mudah musik diproduksi, semakin terasa pula nilai dari sesuatu yang sulit dibuat secara artifisial.

Rasa.

Petikan gitar yang sedikit kasar.

Hentakan drum yang memiliki dinamika.

Bass yang mengikuti emosi lagu.

Vokal yang tidak selalu terdengar sempurna.

Interaksi antarpemain ketika sebuah band memainkan lagu secara bersama-sama.

Hal-hal seperti itu memberikan karakter yang tidak selalu muncul ketika musik hanya mengejar kesempurnaan teknis.

Karena itu, kembalinya warna rock dalam musik pop Indonesia tidak harus dibaca sebagai perlawanan terhadap teknologi.

BACA JUGA  D’MASIV Bawa Cerita Cinta Indonesia ke Abbey Road, London

Justru bisa menjadi cara musisi menggunakan teknologi tanpa kehilangan identitas manusia di dalam musik.

Musik era 1990-an dan 2000-an kembali menarik perhatian bukan hanya karena faktor nostalgia. Ada karakter dalam aransemen, permainan instrumen dan dinamika band yang membuat lagu terasa lebih hidup.

Generasi yang pernah tumbuh dengan musik tersebut mungkin menemukan kembali kenangan.

Sementara generasi baru mendapatkan kesempatan mengenal warna musik lama melalui kemasan yang lebih modern.

Pada akhirnya, teknologi dan musik tidak harus berada di dua sisi yang berlawanan.

AI bisa membantu proses produksi.

Teknologi bisa membuat rekaman semakin rapi.

Platform digital bisa memperluas jangkauan lagu.

Tetapi manusia tetap menentukan cerita, emosi dan karakter yang ingin disampaikan.

Sebab musik bukan hanya tentang bagaimana sebuah suara diproduksi.

Musik juga tentang apa yang dirasakan ketika suara itu sampai ke telinga pendengarnya.

Dan mungkin, di tengah dunia musik yang semakin digital, justru rasa manusiawi itulah yang perlahan kembali dicari.

Bukan sekadar suara yang sempurna.

Tetapi suara yang memiliki jiwa.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending