Connect with us

Pemprov Sulsel

Pemprov Sulsel Buka Musda III Permabudhi, Perkuat Kerukunan Umat Beragama dan Kepedulian Lingkungan

Published

on

KITASULSEL–MAKASSAR – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mendorong penguatan kerukunan antarumat beragama sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup. Komitmen tersebut disampaikan dalam pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) III Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional Ekoteologi di Hotel Horison Makassar, Sabtu (24/10/2026).

Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Winarno Eka Putra, hadir mewakili Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman untuk membuka kegiatan tersebut.

Musda III Permabudhi Sulsel mengangkat agenda penguatan organisasi, penyusunan program kerja, serta peningkatan kontribusi umat Buddha dalam kehidupan bermasyarakat dan pembangunan daerah.

Sementara itu, Seminar Nasional Ekoteologi mengusung tema “Ego to Eco: Merawat Bumi, Menjaga Kehidupan”. Seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yakni anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) sekaligus Ketua Umum Permabudhi, Prof. Philip K. Widjaja; Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan; serta Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa.

Dalam sambutannya, Andi Winarno berharap Musda III Permabudhi menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, mempertautkan nurani, serta memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai luhur agama dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, nilai-nilai keagamaan memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang berakhlak mulia, harmonis, dan menjunjung tinggi toleransi di tengah keberagaman.

Ia menegaskan, Sulawesi Selatan merupakan daerah yang kaya akan keberagaman suku, budaya, dan agama. Kerukunan serta kedamaian yang selama ini terjaga tidak terlepas dari semangat persaudaraan, toleransi, dan gotong royong seluruh elemen masyarakat, termasuk umat Buddha.

“Permabudhi menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga keharmonisan sosial dan memperkuat persatuan serta nilai-nilai kebangsaan,” kata Andi Winarno.

BACA JUGA  Bulan K3 Nasional, Pj Gubernur Prof Fadjry Djufry Minta Pengawasan Diperketat Demi Keselamatan dan Kesehatan Pekerja di Perusahaan

Ia juga berharap Musda III dapat menghasilkan kepengurusan yang solid dan visioner, serta mampu meningkatkan peran Permabudhi Sulawesi Selatan dalam mendukung kehidupan sosial yang rukun dan harmonis.

Menurutnya, organisasi keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai wadah pembinaan umat, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam menanamkan nilai-nilai moral, memperkuat pemahaman tentang toleransi, serta membimbing masyarakat agar mampu menyikapi perbedaan secara bijaksana.

Dengan peran tersebut, organisasi keagamaan diharapkan dapat menjadi agen perubahan sosial yang turut membangun masyarakat yang damai, inklusif, dan saling menghormati.

“Semoga Musda ini akan menghasilkan keputusan yang bijaksana dan program kerja yang bermanfaat, serta memperkuat peran Permabudhi dalam menjaga kerukunan, memperkokoh persatuan, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa,” ujarnya.

Ekoteologi, Perkuat Tanggung Jawab Moral terhadap Lingkungan

Selain membahas penguatan organisasi dan kerukunan umat beragama, kegiatan tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui pendekatan moral dan spiritual.

Andi Winarno menyampaikan bahwa Pemprov Sulawesi Selatan menyambut baik penyelenggaraan Seminar Nasional Ekoteologi dengan tema “Ego to Eco: Merawat Bumi, Menjaga Kehidupan”.

Menurutnya, persoalan lingkungan hidup tidak semata-mata berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral dan spiritual seluruh elemen masyarakat.

Menjaga kelestarian alam, lanjutnya, merupakan bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan kehidupan sekaligus tanggung jawab bersama untuk memastikan generasi mendatang tetap dapat menikmati lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun sinergi antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan kalangan akademisi dalam mendorong pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Kolaborasi lintas sektor dinilai diperlukan agar kesadaran menjaga alam tidak berhenti pada wacana, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan nyata di tengah masyarakat.

BACA JUGA  Nonton Langsung Atlet Judo Sulsel Berlaga, Prof Zudan Puji Penampilan Aditya Wahyudi

“Menjaga kelestarian alam merupakan wujud kepedulian terhadap kehidupan dan masa depan bersama. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus mendorong sinergi antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan kalangan akademisi dalam mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan,” tuturnya.

Ia berharap semangat yang dibangun melalui seminar tersebut dapat memperluas kesadaran masyarakat bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, tanpa dibatasi latar belakang agama maupun kelompok sosial.

“Dengan kolaborasi dan kepedulian bersama, kita dapat mewujudkan Sulawesi Selatan yang maju, sejahtera, harmonis, dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Ketua Umum Permabudhi Tekankan Pentingnya Evaluasi Organisasi

Ketua Umum Permabudhi, Prof. Philip Kuntjoro Widjaja, yang juga merupakan anggota Wantimpres, menyampaikan bahwa Musda III menjadi momentum penting untuk merumuskan arah kebijakan organisasi ke depan.

Melalui forum tersebut, peserta diharapkan dapat membahas dan menetapkan kepengurusan, menyusun program kerja, serta melakukan koreksi dan revisi terhadap hal-hal yang dinilai perlu demi kemajuan organisasi.

Ia juga menyoroti kehadiran perwakilan dari berbagai agama dalam kegiatan tersebut sebagai gambaran hubungan lintas agama yang telah terbangun dengan baik.

“Kehadiran dari rekan-rekan dari berbagai agama juga menandakan betapa harmonisnya hubungan yang telah kita bangun bersama lintas agama. Semoga Musda ini dapat menghasilkan keputusan yang baik yang dapat membawa manfaat bagi masyarakat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan,” ungkap Philip.

Menurutnya, kebersamaan lintas agama menjadi modal penting dalam memperkuat persatuan dan menciptakan kehidupan masyarakat yang saling menghormati.

Ia berharap hasil Musda tidak hanya bermanfaat bagi internal organisasi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas dan pemerintah daerah.

BACA JUGA  Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman Raih Indonesia's SDGs Action Awards 2025 Berkat Program Mandiri Benih

Permabudhi Sulsel Perkuat Persatuan Antar-Majelis

Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah Permabudhi Sulawesi Selatan, Yonggris Lao, menjelaskan bahwa organisasi tersebut terbentuk pada 2018. Selama delapan tahun perjalanan organisasi, Permabudhi Sulsel terus berupaya membangun komunikasi dan mempererat hubungan antar-majelis Buddha.

Ia mengungkapkan bahwa pada periode kepengurusan pertama, fokus utama organisasi adalah membangun komunikasi antar-majelis, menyatukan berbagai unsur organisasi, serta mewujudkan harapan umat Buddha agar kehidupan di lingkungan vihara dapat berlangsung dalam suasana persatuan dan harmoni.

“Pada periode pertama, tugas kami bagaimana membangun komunikasi antar-majelis, mempersatukan majelis dan harapan umat vihara bisa bersatu dan harmoni, berhasil kami jalankan,” sebut Yonggris.

Memasuki periode kedua, fokus kepengurusan diarahkan pada upaya mempertahankan persatuan organisasi sekaligus memperluas kontribusi Permabudhi terhadap pembangunan daerah.

Upaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan organisasi untuk memperkuat peran umat Buddha dalam kehidupan sosial, membangun hubungan yang baik dengan berbagai kelompok masyarakat, serta mendukung terciptanya kerukunan antarumat beragama di Sulawesi Selatan.

Melalui Musda III ini, Permabudhi Sulsel diharapkan mampu mengevaluasi capaian kepengurusan sebelumnya, merumuskan program kerja yang relevan dengan kebutuhan umat dan masyarakat, serta menetapkan kepengurusan yang dapat melanjutkan agenda organisasi ke depan.

Penyelenggaraan Musda yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional Ekoteologi juga memperlihatkan pentingnya mempertemukan agenda penguatan organisasi keagamaan dengan kepedulian terhadap persoalan lingkungan.

Dengan semangat persatuan, toleransi, dan tanggung jawab bersama dalam merawat bumi, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi Permabudhi Sulawesi Selatan dalam menjaga keharmonisan sosial sekaligus mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending