Connect with us

DISKOMINFO LUWU TIMUR

Dialog di Mangkutana: Mengurai Potensi Konflik Sosial Lewat Ruang Bicara Warga

Published

on

Kitasulsel–MANGKUTANA — Upaya menjaga stabilitas keamanan di wilayah Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, mulai diarahkan pada pendekatan yang lebih partisipatif. Tidak lagi hanya bertumpu pada aparat keamanan atau pemerintah semata, tetapi melibatkan langsung masyarakat sebagai garda terdepan menjaga kerukunan sosial di tengah dinamika kehidupan warga yang semakin kompleks.

Situasi itu terlihat dalam Dialog Tokoh Multi Stakeholder bertema “Memperkuat Kebersamaan dalam Menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat” yang berlangsung di Aula Kecamatan Mangkutana, Rabu (13/05/2026). Forum tersebut bukan sekadar seremoni formal, melainkan menjadi ruang terbuka bagi tokoh adat, tokoh agama, aparat keamanan, pemerintah, hingga masyarakat untuk membicarakan berbagai potensi persoalan sosial yang selama ini kerap muncul di lingkungan warga.

Di tengah meningkatnya arus informasi digital dan mudahnya penyebaran isu provokatif, forum seperti ini dinilai penting untuk meredam gesekan sosial sejak dini. Sejumlah peserta dialog bahkan menyoroti bahwa potensi konflik di tingkat bawah sering kali dipicu persoalan sederhana, mulai dari kesalahpahaman antarwarga, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, hingga rivalitas kelompok yang berkembang tanpa penyelesaian terbuka.

BACA JUGA  Bupati Luwu Timur Temui Menteri Desa PDT, Perkuat Sinergi Pembangunan Desa

Camat Mangkutana, Darmawati, menilai komunikasi lintas elemen menjadi instrumen penting dalam menjaga wilayah tetap kondusif. Menurutnya, keamanan daerah tidak hanya dibangun melalui pendekatan hukum, tetapi juga melalui kedekatan sosial dan kepercayaan antarwarga.

“Ketika komunikasi antara masyarakat, pemerintah, dan aparat berjalan baik, maka potensi gangguan keamanan bisa dicegah lebih awal,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kapolsek Mangkutana, Muh. Junus. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing isu yang berpotensi memecah persatuan. Dalam beberapa tahun terakhir, kata dia, tantangan terbesar bukan hanya persoalan kriminalitas, tetapi juga berkembangnya informasi liar yang dapat memicu keresahan sosial.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam mendeteksi persoalan di lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam menjaga ketertiban bersama. Ia juga meminta warga aktif berkoordinasi dengan aparat apabila menemukan potensi gangguan keamanan.

BACA JUGA  Safari Ramadan di Malili, Bupati Irwan Dorong OPD Aktif Jemput Program Pusat

Di balik pelaksanaan dialog tersebut, tersimpan pesan kuat bahwa stabilitas wilayah sejatinya tidak bisa dijaga hanya melalui pendekatan struktural. Pemerintah membutuhkan kehadiran tokoh masyarakat yang mampu menjadi penengah ketika muncul gesekan sosial di tengah warga.

Kepala Badan Kesbangpol Luwu Timur, Salam Latief, menegaskan keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan tanggung jawab kolektif. Ia menilai forum dialog menjadi langkah strategis untuk memperkuat koordinasi lintas sektor sekaligus membangun kewaspadaan dini terhadap potensi konflik sosial.

“Dialog seperti ini penting agar semua pihak bisa saling mendengar dan bertukar pandangan dalam menghadapi tantangan sosial di masyarakat,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa keberagaman suku, budaya, dan perbedaan pandangan seharusnya menjadi modal sosial untuk memperkuat persaudaraan, bukan sebaliknya dijadikan alat pemecah kebersamaan.

BACA JUGA  Seleksi Paskibraka Luwu Timur 2026 Masuki Tahap TWK, 128 Peserta Bersaing Ketat

Penguatan sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat dalam kegiatan tersebut disebut menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas daerah di tengah perubahan sosial yang terus berkembang. Terlebih, Kecamatan Mangkutana dikenal sebagai wilayah dengan keberagaman masyarakat yang membutuhkan ruang komunikasi terbuka agar potensi gesekan dapat diminimalisasi sejak awal.

Di sisi lain, sejumlah peserta forum menilai pendekatan dialogis seperti ini perlu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Sebab, tantangan menjaga kerukunan sosial di tingkat masyarakat dinilai semakin kompleks, terutama di era media sosial yang kerap mempercepat penyebaran provokasi dan polarisasi di tengah warga.

Dalam kegiatan tersebut hadir, Kapolsek Mangkutana, Muh. Junus, perwakilan Danramil Mangkutana, Muh. Rusli, tokoh adat, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

DISKOMINFO LUWU TIMUR

Bupati Lutim Pimpin Rakor Stabilitas Harga TBS Sawit, Dorong Penetapan Harga Berbasis Rendemen

Published

on

Kitasulsel–MALILI — Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Stabilitas Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang berlangsung di Ruang Rapat Kerja Bupati, Malili, Kamis (4/6/2026).

Rapat tersebut digelar sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam menjaga stabilitas harga TBS sawit sekaligus memastikan adanya acuan harga yang jelas bagi petani maupun perusahaan dalam proses pembelian TBS di daerah tersebut.

Turut hadir dalam rakor itu Wakil Ketua DPRD Luwu Timur, Hj. Harisah Suharjo, Wakapolres Lutim Kompol Hajriadi, Pabung Mayor Inf. Syarifuddin, Kepala Dinas Dagkop UKMP Senfry Oktavianus, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Subhan, APKASINDO, perwakilan perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit, serta peserta rapat lainnya.

BACA JUGA  Bupati Luwu Timur Hadiri HUT ke-50 Gereja Kibaid Wawondula, Tegaskan Dukungan Pembangunan Rumah Ibadah

Dalam arahannya, Bupati Irwan Bachri Syam menegaskan pemerintah daerah akan lebih intensif membangun komunikasi bersama seluruh pemangku kepentingan di sektor perkebunan sawit.

“Pertemuan rutin seperti ini minimal tiga kali dalam sebulan kita lakukan untuk mendengar langsung masukan dari pelaku usaha, asosiasi, maupun petani,” ujar Irwan.

Ia menekankan pentingnya penerapan klasifikasi rendemen sebagai dasar penentuan harga TBS. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai hubungan antara kualitas buah sawit dengan harga jual yang diterima petani.

“Kalau rendemen 14 persen, berapa harganya, rendemen 16 persen berapa harganya. Ini perlu kita buat lebih jelas agar masyarakat memahami bahwa kualitas buah sangat berpengaruh terhadap harga jual,” jelasnya.

BACA JUGA  Bupati Luwu Timur Tinjau Keamanan Wisata Pesisir Hingga Akhir Libur Lebaran

Lebih lanjut, Irwan juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas TBS yang dihasilkan petani, termasuk pemahaman terkait perbedaan buah jenis Dura dan Tenera serta tingkat kematangan buah saat panen.

Dalam rapat tersebut, sejumlah perwakilan perusahaan dan asosiasi petani turut menyampaikan pandangannya terkait kondisi tata niaga sawit saat ini.

Pihak pabrik kelapa sawit menjelaskan bahwa harga pembelian TBS dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya harga Crude Palm Oil (CPO), jarak angkut, kualitas buah, hingga tingkat rendemen.

Sementara itu, perwakilan asosiasi petani menilai persoalan rendemen perlu menjadi perhatian bersama agar petani dapat memahami faktor-faktor yang memengaruhi harga TBS yang diterima.

Menanggapi hal itu, Bupati Irwan menegaskan bahwa apabila nantinya telah ditetapkan standar harga berdasarkan klasifikasi rendemen namun masih ditemukan pembelian di bawah ketentuan yang berlaku, maka pemerintah daerah akan menyiapkan langkah-langkah hingga pemberian sanksi sesuai aturan.

BACA JUGA  Safari Ramadan di Malili, Bupati Irwan Dorong OPD Aktif Jemput Program Pusat

“Pemerintah daerah ingin memastikan tata niaga sawit berjalan lebih adil dan transparan sehingga petani mendapatkan harga yang sesuai dengan kualitas hasil panennya,” tegas Irwan.

Melalui rapat koordinasi tersebut, seluruh pihak diharapkan terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi guna menciptakan tata niaga kelapa sawit yang lebih baik, transparan, dan berkeadilan, khususnya bagi para petani di Kabupaten Luwu Timur.

Continue Reading

Trending