Connect with us

Jarnas Mileanies Sumut dan Sulsel Konsolidasi Kecamatan Pastikan Jaring Laba-laba Sempurna di Level TPS

Published

on

Kitasulsel, Jakarta—Dua Provinsi terbesar di luar pulau Jawa cukup serius dikerjakan Jarnas Mileanies. Ketua Wilayah Jarnas Mileanies Sulsel Asri Tadda melakukan konsolidasi di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

Sementara Sekertaris Wilayah Jarnas Mileanies Sumatera Utara, Ady melakukan konsolidasi di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang Provinsi. Sumut.

Koordinasi Mileanies Di Sulsel sudah sampai di Level Kelurahan, pertemuan ini adalah koordinasi DPC Biringkanaya Kota Makassar, Sulsel dalam rangka membangun jejaring 3-3-3-3 dan memastikan setiap TPS ada 3 orang Mileanies jadi pengawal TPS.

Di Sulsel, Jaringan Nasional Milenial Anies (Jarnas Mileanies) bukan hanya ada di 24 Kabupaten Kota tapi sdh sampai di level Desa dan Kelurahan. Sementara Jarnas Mileanies Sumatera Utara sudah mendeklarasikan diri di beberapa kabupaten kota di Sumut dan terus membangun jejaring hingga TPS.

Di Sumatera Utara, selain Jarnas Mileanies masih ada beberapa relawan yang tumbuh dan berafiliasi dengan Konfederasi Nasional Relawan Anies (KoReAn) antara lain Sains Milenium Sumatera, Relasumut PPTI, Gerak Samara, Relawan Anies Sumatera (RAS) dan Relawan Anies Sumut Aceh (RELASAMAN)

 

 

 

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Nasional

Menag Nasaruddin Umar Minta Pesparawi Nasional 2026 Padukan Kesemarakan dan Pendalaman Spiritual

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta agar Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 tidak hanya tampil meriah secara seremonial, tetapi juga menghadirkan pendalaman spiritual yang kuat bagi seluruh peserta dan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan arahan dalam Kick Off Pesparawi Nasional XIV di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Menurut Menag, keberhasilan sebuah perhelatan keagamaan ditentukan oleh keseimbangan antara kemeriahan festival dan penghayatan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

“Satu sisi harus ada kesemarakan, pada sisi lain juga harus ada pendalamannya. Kesemarakan tanpa penghayatan itu mubazir, tetapi penghayatan tanpa kesemarakan itu tidak meriah. Jadi dua-duanya harus berbanding lurus,” ujar Nasaruddin Umar.

Ia menjelaskan, aspek kesemarakan penting untuk menghadirkan suasana meriah yang dapat dirasakan masyarakat luas. Mulai dari hadirnya umbul-umbul, tata cahaya, pakaian seragam peserta, hingga geliat ekonomi masyarakat melalui pasar kaget dan aktivitas pendukung lainnya.

Namun demikian, Menag mengingatkan agar panitia maupun kontingen tidak larut dalam kemeriahan fisik semata. Pesparawi, kata dia, harus menjadi momentum resakralisasi kehidupan beragama sekaligus ruang untuk menyentuh dimensi batin umat.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga mengajak para pimpinan gereja aras nasional dan tokoh lintas agama untuk terus memperkuat semangat moderasi beragama dengan menitikberatkan pada pencarian titik temu antarkelompok dan antarumat beragama.

“Moderasi beragama itu adalah biarkan yang berbeda itu tetap berbeda, dan biarkan yang sama itu sama. Toleransi sesungguhnya bukan berusaha memaksakan persamaan pada sesuatu yang berbeda, dan juga bukan memaksakan perbedaan pada sesuatu yang sebenarnya sama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Menag mengibaratkan kemajemukan Indonesia sebagai sebuah karya seni atau lukisan kontras yang indah dan bernilai tinggi dari Tuhan. Keindahan itu lahir dari perpaduan berbagai warna dan perbedaan yang hidup berdampingan secara harmonis.

Karena itu, melalui momentum Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus merawat persatuan dan menjaga harmoni kebangsaan.

“Jangan kita mengacak-acak lukisan Tuhan bernama Indonesia ini. Justru keberagaman itulah yang membuat bangsa ini indah dan kuat,” pungkas Nasaruddin Umar.

Continue Reading

Trending