Kapolres Sidrap dan Ketua Bhayangkari Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya AKP Madu Sarfin
Kitasulsel, Sidrap – Kapolres Sidrap AKBP Erwin Syah,SIK bersama Ketua Bhayangkari Ny. Siska Erwin Syah dan PJU mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya AKP Madu Sarfin Haslim.
“Saya beserta Bhayangkari, Staff dan jajaran mengucapkan turut berduka atas meninggalnya AKP Madu. Semoga amal ibadahnya diterima disisinya”, Ucap Kapolres. Minggu (22/1/2023).
Kematian almarhum karena sakit yang dideritanya dan sering dirawat inap di RS. Nene Mallomo Kab.Sidrap dengan diagnosa DM, HT, serta Gangguan Ginjal.
Kunjungan terakhir Urkes ke kediaman Hari Selasa 17 Jan 2023 jam 09.00 Wita, dengan menyarankan untuk di rawat di Rumah Sakit, karena Melihat Kondisi Pada Saat itu, terdapat Luka di Bagian dalam Paha Kiri dan Kanan yang tak kunjung sembuh karena tingginya Kadar Glukose.
Dikarenakan kondisi tambah menurun, maka pada Hari Sabtu 21 Januari 2023 Sekitar jam 16 00 Wita, di larikan ke RS. A. Makkasau Pare pare dan selanjutnya dilakukan tindakan perawatan sebagaimana mestinya.
Tiba di RS. A. Makkasau Pare pare dengan Tanda tanda Vital, Rencana almarhum akan di Rujuk Ke Makassar namun kesadaran makin menurun akibatĀ tingginya gula darah dan pembengkakan pada Ginjal.
Pada akhirnya Pasien dinyatakan meninggal 22 Jan 2023 SekitarĀ pukul 05.00 Wita di RS. A. Makkasau Pare pare dengan diagnosa Diabetes Melitus, gagal ginjal dan Hipertensi. (win)
DISKOMINFO KAB SIDRAP
Tampil Ikonik āMakkanyarengā di Pesta Pernikahan, Bupati SAR Tegaskan: Pemimpin Milik Semua
KITASULSELāSIDRAP ā Sosok Syaharuddin Alrif kembali mencuri perhatian publik saat tampil ikonik dalam balutan tradisi lokal āMakkanyarengā di sebuah pesta pernikahan di Desa Otting, Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Minggu (5/4/2026).
Di tengah derasnya arus modernisasi, orang nomor satu di Bumi Nene Mallomo itu memilih menanggalkan atribut formal pejabat dan tampil menyatu dengan tradisi. Ia menunggang kuda menuju lokasi acara, menyusuri jalanan desa yang dipadati warga dengan penuh antusias.
Momen tersebut bukan sekadar penampilan simbolik. Dalam tradisi Bugis, āMakkanyarengāāyang identik dengan kudaāmerepresentasikan ketangkasan, kehormatan, serta keberanian. Kehadiran bupati di atas pelana menjadi pesan kuat bahwa pemimpin tidak hanya hadir secara administratif, tetapi juga secara kultural dan emosional di tengah masyarakat.
āIni bukan sekadar seremoni. Ini tentang menjaga identitas dan memperlihatkan bahwa pemimpin adalah bagian dari masyarakatnya,ā ujar salah satu tokoh adat yang turut menyaksikan prosesi tersebut.
Dalam suasana pesta pernikahan anak dari Wa Pacinongi dan cucu Wa Gilingeng itu, Syaharuddin Alrif tampak mengenakan busana khas dengan penuh kharisma. Ia menyapa warga, menebar senyum, dan berbaur tanpa sekat, memperlihatkan kedekatan yang jarang ditemui dalam konteks formal pemerintahan.
Menjaga Marwah di Atas Pelana
Kehadiran bupati di atas kuda juga dimaknai sebagai bentuk menjaga marwah kepemimpinan. Dalam filosofi Bugis, seorang pemimpin sejati tidak boleh tercerabut dari akar budaya yang membesarkannya.
Langkah tersebut menjadi refleksi bahwa kemajuan daerah tidak harus mengorbankan nilai-nilai tradisi. Justru, dengan menghidupkan kembali kearifan lokal, identitas daerah dapat diperkuat di tengah globalisasi.
Pesan untuk Generasi Muda
Lebih dari sekadar atraksi budaya, penampilan ini membawa pesan penting bagi generasi muda di Sidrap. Di tengah penetrasi budaya luar yang begitu cepat melalui teknologi digital, figur pemimpin yang tampil membumi dan menjunjung tinggi tradisi menjadi contoh nyata tentang pentingnya menjaga jati diri.
Warga yang memadati lokasi tidak menyia-nyiakan momen tersebut. Banyak yang mengabadikan kehadiran bupati sebagai simbol kebanggaan daerahāsebuah narasi bahwa Sidrap bukan hanya bergerak maju, tetapi juga tetap berakar kuat pada nilai-nilai leluhur.
Simbol Pemimpin untuk Semua
Acara yang dihadiri berbagai tokoh masyarakat dan adat itu menjadi ruang silaturahmi yang hangat. Kehadiran Syaharuddin Alrif dengan gaya āMakkanyarengā seolah menegaskan satu pesan penting: pemimpin bukan milik kelompok tertentu, melainkan milik seluruh masyarakat.
Di atas pelana kuda, ia tidak hanya tampil sebagai kepala daerah, tetapi sebagai representasi identitas kolektif masyarakat Sidrapāmenyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu langkah yang penuh makna.
Hingga acara berakhir, suasana tetap semarak. Momen ini menjadi pengingat bahwa di tengah modernitas, nilai-nilai budaya tetap memiliki tempat istimewa dalam kepemimpinanādan justru menjadi kekuatan utama dalam membangun daerah.
-
Nasional10 bulan agoAndi Syakira Harumkan Nama Sidrap, Lolos ke Panggung Utama Dangdut Academy 7 Indosiar,Bupati SAR:Kita Support Penuh!
-
3 tahun agoInformasi Tidak Berimbang,Dewan Pengurus KKS Kairo Mesir Keluarkan Rilis Kronologi Kejadian di Mesir
-
Politics2 tahun agoIndo Barometer:Isrullah Ahmad -Usman Sadik Pepet Budiman-Akbar,IBAS-Puspa Tak Terkejar
-
2 tahun agoTangis Haru Warnai Pelepasan Status ASN Hj Puspawati HuslerāTetaplah Kuat Kami Bersamamuā
-
2 tahun agoPj Gubernur Bahtiar Paparkan Rencana Pembangunan Sulsel di Depan Presiden Jokowi
-
3 tahun agoVideo Menolak Berjabat Tangan Dengan Seorang Warga Viral ,Ketua DPRD Luwu Timur Dinilai Tidak Mencerminkan Diri Sebagai Wakil Rakyat
-
3 tahun agoDari Kotamobagu, BMR Anies Bertekat Menangkan Anies Baswedan*
-
2 tahun agoIBAS Is Back: Siap Maju di Kontestasi Pilkada Luwu Timur









You must be logged in to post a comment Login