Connect with us

BPBD Sidrap Salurkan Ratusan Paket Bantuan Korban Banjir

Published

on

Kitasulsel,Sidrap – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sidrap menyalurkan 280 paket bantuan bagi korban banjir di Kelurahan Wette’e dan Desa Teteaji, Jumat (27/1/2023).

Kepala Pelaksana BPBD Sidrap, H. Sudarmin mengatakan, ratusan paket berupa logistik Dana Siap Pakai (DSP) diserahkan di dua lokasi dan disaksikan oleh pemerintah setempat, serta TNI-Polri.

Di Kelurahan Wette’e, Kecamatan Panca Lautang, terdapat 280 rumah yang terdampak banjir. Adapun bantuannya sebanyak 188 paket.

“Paket tersebut berupa selimut BNPB, matras BNPB, beras 5kg, minyak goreng, gula lasir, sarden, teh celup, mie instan, kecap manis,” ujarnya.

Sementara di Desa Teteaji, Kecamatan Tellu Limpoe, sebanyak 92 paket bantuan diserahkan kepada para korban banjir.

“Total ada 280 paket bantuan yang kita serahkan di dua lokasi banjir di Kabupaten Sidrap,” tandasnya.

Seperti diketahui, meskipun sudah surut, saat ini air masih merendam rumah-rumah warga di dua lokasi tersebut akibat luapan Danau Tempe dan Danau Sidenreng beberapa waktu lalu.(win)

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

NEWS

Menunda 5 Tahun Demi Keyakinan, La Beddu Akhirnya Berangkat Haji Bersama Annur dan Sang Anak

Published

on

KITASULSEL—SIDRAP — Di tengah riuh persiapan keberangkatan jamaah calon haji tahun 2026, terselip kisah penuh keteguhan dari seorang lansia asal Kabupaten Sidrap, La Beddu.

Pria berusia 67 tahun asal Panreng, Kecamatan Baranti ini telah menunggu selama 15 tahun untuk menunaikan ibadah haji. Penantian panjang itu bukan semata karena antrean, tetapi karena sebuah keyakinan—bahwa ia ingin berangkat ke Tanah Suci bersama pendamping yang ia percayai sepenuh hati: PT Annur Maarif.

Padahal, lima tahun lalu namanya telah lebih dulu dipanggil. Kesempatan berhaji sudah terbuka. Namun saat itu, La Beddu memilih menunda.

“Sudah naik nama lima tahun lalu, tapi bukan Annur… Melo mokka ko Annur yola,” ujarnya dengan logat khas Bugis, yang berarti ia ingin berangkat jika bersama Annur.

Bagi La Beddu, haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan batin yang membutuhkan rasa tenang dan keyakinan penuh. Ia mengaku sering mendengar cerita tentang pelayanan Annur Maarif—tentang bagaimana jamaah diperlakukan dengan penuh perhatian, dibimbing dengan sabar, dan dijaga sejak keberangkatan hingga kembali ke tanah air.

Cerita-cerita itulah yang tertanam kuat di benaknya, hingga ia rela menunda keberangkatan demi mendapatkan pengalaman ibadah yang menurutnya lebih “sempurna”.

Kini, penantian panjang itu akhirnya terbayar. Tahun ini, La Beddu dipastikan berangkat sebagai jamaah calon haji, bahkan lebih istimewa lagi, ia akan menunaikan rukun Islam kelima tersebut bersama anaknya.

Keduanya tergabung dalam KBIHU Kecamatan Baranti dan masuk dalam kloter 2 jamaah calon haji asal Sidrap embarkasi Ujung Pandang.

Bagi La Beddu, kebersamaan dengan anaknya menjadi anugerah tersendiri dalam perjalanan suci ini. Ia tidak hanya membawa harapan pribadi, tetapi juga doa dan cinta seorang ayah yang ingin menapaki jejak spiritual bersama darah dagingnya.

Di usianya yang tidak lagi muda, langkah La Beddu mungkin tak sekuat dulu. Namun tekadnya justru semakin kokoh. Ia percaya, dengan pendampingan yang tepat, perjalanan hajinya akan menjadi lebih ringan dan bermakna.

Kisah La Beddu menjadi potret sederhana tentang bagaimana ibadah haji bukan hanya soal giliran, tetapi juga tentang keyakinan, kesiapan hati, dan rasa percaya.

Di balik angka-angka kuota dan jadwal keberangkatan, ada cerita-cerita seperti La Beddu—yang mengajarkan bahwa menunggu dengan sabar, memilih dengan yakin, dan melangkah dengan tenang adalah bagian dari perjalanan menuju panggilan Ilahi.

Continue Reading

Trending