Connect with us

Lurah Kaluku Bodoa: Terima Kasih Dokter Udin sudah bantu Kain Kafan Hingga Penguburan Bayi Tak Mampu

Published

on

Kitasulsel—Makassar—Lurah Kaluku Bodoa, Suryadi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada dokter Udin Malik atas atensi dan kepeduliannya yang besar dalam bidang kemanusiaan.

Kejadian meninggalnya seorang bayi berusia tiga bulan bernama Hidayat, dari keluarga tidak mampu di Jalan Galangan Kapal Kelurahan Kaluku Bodoa mendapat perhatian dari dokter Udin Malik.

Info yang didapat dari grup penggiat kemanusiaan tersebut, segera ditindaklanjuti dengan menurunkan tim dari Forum Kemanusiaan Kota Makassar (FKKM) yang diketuainya.

Ketua Srikandi FKKM, Jamila mengatakan dokter udin  memerintahkan membawa kain kafan untuk sang bayi dan telah menghubungi pihak pengelola pemakaman beroanging untuk kemudahan proses penguburannya.

“Saat ke rumah duka, kami bertemu Pak Lurah, Ketua LPM, pengurus shelter warga dan Pj Ketua RW/RT dan pihak keluarga, dan menyampaikan bantuan Pak Dokter” Ucapnya Sabtu (01/04/2023).

Ketua Shelter Warga Kelurahan Kaluku Bodoa, Rukiah bersyukur atas bantuan Dokter Udin Malik dan banyaknya stakeholder kelurahan yang terlibat memberikan bantuan.

” Alhamdulillah Pak Lurah, Ketua LPM, Pak RW 05 dan Pak RT semuanya terlibat mulai dari proses administrasi, memandikan jenazah hingga penguburan”, Ungkapnya.

 

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Nasional

Menag Nasaruddin Umar Minta Pesparawi Nasional 2026 Padukan Kesemarakan dan Pendalaman Spiritual

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta agar Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 tidak hanya tampil meriah secara seremonial, tetapi juga menghadirkan pendalaman spiritual yang kuat bagi seluruh peserta dan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan arahan dalam Kick Off Pesparawi Nasional XIV di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Menurut Menag, keberhasilan sebuah perhelatan keagamaan ditentukan oleh keseimbangan antara kemeriahan festival dan penghayatan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

“Satu sisi harus ada kesemarakan, pada sisi lain juga harus ada pendalamannya. Kesemarakan tanpa penghayatan itu mubazir, tetapi penghayatan tanpa kesemarakan itu tidak meriah. Jadi dua-duanya harus berbanding lurus,” ujar Nasaruddin Umar.

Ia menjelaskan, aspek kesemarakan penting untuk menghadirkan suasana meriah yang dapat dirasakan masyarakat luas. Mulai dari hadirnya umbul-umbul, tata cahaya, pakaian seragam peserta, hingga geliat ekonomi masyarakat melalui pasar kaget dan aktivitas pendukung lainnya.

Namun demikian, Menag mengingatkan agar panitia maupun kontingen tidak larut dalam kemeriahan fisik semata. Pesparawi, kata dia, harus menjadi momentum resakralisasi kehidupan beragama sekaligus ruang untuk menyentuh dimensi batin umat.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga mengajak para pimpinan gereja aras nasional dan tokoh lintas agama untuk terus memperkuat semangat moderasi beragama dengan menitikberatkan pada pencarian titik temu antarkelompok dan antarumat beragama.

“Moderasi beragama itu adalah biarkan yang berbeda itu tetap berbeda, dan biarkan yang sama itu sama. Toleransi sesungguhnya bukan berusaha memaksakan persamaan pada sesuatu yang berbeda, dan juga bukan memaksakan perbedaan pada sesuatu yang sebenarnya sama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Menag mengibaratkan kemajemukan Indonesia sebagai sebuah karya seni atau lukisan kontras yang indah dan bernilai tinggi dari Tuhan. Keindahan itu lahir dari perpaduan berbagai warna dan perbedaan yang hidup berdampingan secara harmonis.

Karena itu, melalui momentum Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus merawat persatuan dan menjaga harmoni kebangsaan.

“Jangan kita mengacak-acak lukisan Tuhan bernama Indonesia ini. Justru keberagaman itulah yang membuat bangsa ini indah dan kuat,” pungkas Nasaruddin Umar.

Continue Reading

Trending