Connect with us

Wawali Makassar Dampingi Kapolda Buka Bhayangkara Competition Shot 2023

Published

on

Kitasulsel–MAKASSAR,— Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke 77 yang jatuh pada tanggal 1 Juli 2023 mendatang.

Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) menggelar Bhayangkara Competition Shoot 2023 di Lapangan Tembak SPN Batua, Selasa (13/06/2023).

Kegiatan ini diikuti 782 peserta yang berasal dari Sulsel, Kendari, Sulbar, Kalimantan dan Buton.

Dibuka langsung oleh Kapolda Sulsel, Irjen Pol Setyo Boedi Moempoeni. Wakil Wali Kota Makassar, Fatmawati Rusdi turut hadir mendampingi kemeriahan kompetisi tersebut.

Fatmawati mengaku sangat mendukung dan mengapresiasi lomba menembak ini. Katanya, ini salah satu wujud nyata dari tekad bersama pemerintah dan jajaran kepolisian untuk mendukung keberadaan olahraga menembak.

“Kegiatan ini sifatnya selain mengasah skill menembak, ini juga terdapat unsur silaturahmi dan menjalin keakraban, antara pemerintah kota, instansi terkait dan Forkompinda,” ucap Fatmawati.

Adapun kategori lomba yang diperlombakan yakni tembak eksekutif, tembak sasaran air pistol, tembak versi berburu, tembak duty challenge, tembak ipsc level 1, dan tembak 100 M 3 posisi.

Pada kesempatan itu pula, Fatmawati berterima kasih langsung kepada Kapolda Sulsel atas dukungan kepolisian yang selalu hadir bersama-sama pemerintah kota menangani berbagai masalah khususnya di Kota Makassar.

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

NEWS

Ratusan Mahasiswa Indonesia di Kairo Ikuti FGD Pemikiran Nasaruddin Umar Dipandu Dr. Bunyamin Yapid

Published

on

Kitasulsel—Kairo – Ratusan mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kairo mengikuti seminar dan forum group discussion (FGD) yang mengangkat pemikiran Prof. Nasaruddin Umar. Kegiatan ini digelar di Baruga KKS, Kairo, dan dihadiri oleh Ketua PPMI, jajaran pengurus, serta para ketua kerukunan daerah dari berbagai provinsi di Indonesia.

Forum tersebut dipimpin oleh tenaga ahli Menteri Agama bidang kerja sama luar negeri sekaligus pembina komunitas Nasaruddin Umar Official, yang secara khusus memaparkan dan mengelaborasi gagasan-gagasan besar Prof. Nasaruddin Umar di hadapan mahasiswa Indonesia di Timur Tengah.

Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa pemikiran Prof. Nasaruddin Umar memiliki nilai strategis, namun kerap disalahpahami oleh publik. “Gagasan beliau itu sangat baik, tetapi ibarat pesawat, landasan pendaratannya belum sepenuhnya siap. Akibatnya, sering terjadi salah tafsir, bahkan dipolitisasi dan dibingkai secara negatif,” ujarnya.

Beberapa isu yang menjadi sorotan dalam diskusi antara lain pengelolaan dana umat, dana masjid, hingga konsep distribusi hewan kurban. Ia menjelaskan bahwa gagasan tersebut bukan untuk mengambil alih dana umat, melainkan untuk menata pengelolaan agar lebih efektif, transparan, dan memberikan manfaat yang lebih luas.

“Sering kali masyarakat memahami secara sepotong-sepotong. Padahal yang ingin dibangun adalah sistem yang lebih baik, berbasis asas kemanfaatan dan keadilan,” lanjutnya.

Ia juga mencontohkan praktik di sejumlah negara seperti Arab Saudi, di mana regulasi negara berperan aktif dalam menegakkan nilai-nilai keagamaan, termasuk kewajiban menutup toko saat waktu salat. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa implementasi gagasan keagamaan akan lebih optimal jika didukung kebijakan negara.

Pemilihan Kairo sebagai lokasi forum dinilai strategis, mengingat kota tersebut merupakan salah satu pusat studi Islam dunia. Mahasiswa Indonesia di Timur Tengah dianggap memiliki kapasitas intelektual untuk memahami gagasan-gagasan progresif dan kontekstual yang ditawarkan.

“Mahasiswa di sini relatif lebih siap memahami pemikiran yang mungkin melampaui zamannya. Apa yang hari ini ditolak, bisa jadi akan menjadi kebutuhan di masa depan,” katanya.

Dalam diskusi tersebut juga disinggung praktik pengelolaan kurban di negara-negara Eropa, di mana distribusi hewan kurban dilakukan melalui lembaga terpercaya untuk menjangkau wilayah yang lebih membutuhkan, bahkan lintas negara. Model ini dinilai sebagai salah satu contoh implementasi asas kemanfaatan yang lebih luas.

Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis. Para mahasiswa menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap upaya kontekstualisasi ajaran Islam dalam menjawab tantangan zaman modern.

Forum ini diharapkan menjadi ruang intelektual yang mampu menjembatani pemikiran besar dengan pemahaman publik, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang kritis, terbuka, dan mampu menerjemahkan gagasan ke dalam kebijakan nyata demi kemaslahatan umat.

Continue Reading

Trending