Connect with us

Sosialisasikan Program “APPANTAMA”Kepala UPT SPF SMPN 15 Makassar Jadi Narasumber di Televisi Nasional

Published

on

Kitasulsel–Makassar–Kepala UPT SPF SMPN 15 MAkassar menjadi narasumber dalam sebuah program budaya ditelevisi nasional bertajuk Apresiasi Budaya sabtu 17/06/2023.

KehadiranKepala UPT SPF SMPN 15 Makassar Herni Marlinda.SPd,.M.Pd dalam program budaya stationĀ  Televisi TVRI ini dalam rangka mensoaialisasikan Program APPANTAMA atau Apresiasi Permainan Tradisional Makassar.

Acara yang dipandu precenter senior TVRI sulsel ini mengangkat tema permainan tradisional makassar di P5 (Projek penguatan profil pelajar pancasila)

Menjawab Pertanyaan presenter senior TVRI,Kepala UPT SPF SMPN 15 Makassar begitu mendalami dan menguasai pendalaman materi program APPANTAMA ini.

“Program ini memiliki terget utama yakni memberikan edukasi lebih dini kepada anak anak kita tentang permainan tradisional,kita ketahui bersama diera yang serba gadget ini permaian tradional jika tidak dilestarikan akan beresiko puna dengan kehadiran game game online dan sejenisnya,hal ini yang menjadi motivasi lebih dari kami agar permainan tradisional khususnya dimakassar bisa tetap lestari,urai Herni Marlinda.

lebih lanjutKepala sekolah yang identik dengan Publik speking yang cukup baik ini menambahkan bahwa,program APPANTAMA ini juga diharapkan menjadi ruang fiter bagi anak anak kita terhadap budaya luar yang semakin muda mereka lihat di sosial media maupun platfom media lainnya.

“APPANTAMA ini kita harap dapat menumbuh kembangkan minat peserta didik terhadap permainan tradisional danĀ  meminimalisir perhatian peserta didik terhadap budaya luar,tutup kepala UPT SPF SMPN 15 Makassar Herni Marlinda S,Pd,.M.Pd.

 

 

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

NEWS

Harga Sawit Nasional Menguat, Petani Luwu Timur Soroti Tertahannya Harga TBS di Sulsel

Published

on

Kitasulsel—Luwu Timur,– Di tengah tren kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah daerah sentra perkebunan Indonesia, petani sawit di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Luwu Timur, mengaku belum merasakan dampak positif kenaikan harga tersebut. Kondisi ini memicu desakan agar pemerintah segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) Harga Sawit guna memastikan tata niaga sawit berjalan secara adil dan transparan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai wilayah penghasil sawit, harga TBS di Sulawesi Barat dilaporkan mengalami kenaikan sekitar Rp60 per kilogram. Sementara itu, di Kalimantan Timur, harga TBS tercatat meningkat sekitar Rp40 per kilogram. Kenaikan tersebut dinilai sejalan dengan perkembangan harga minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya di pasar internasional.

Namun, kondisi berbeda justru terjadi di Sulawesi Selatan. Hingga Sabtu (13/6/2026), harga TBS di sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di Kabupaten Luwu Timur dilaporkan masih berada pada posisi yang sama dan belum mengalami penyesuaian sebagaimana yang terjadi di daerah lain.

Seorang warga Sulawesi Selatan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mempertanyakan tidak adanya kenaikan harga TBS di wilayah tersebut. Menurutnya, apabila harga CPO global menjadi salah satu acuan utama dalam penetapan harga TBS, maka petani sawit di Sulawesi Selatan seharusnya juga memperoleh manfaat dari tren kenaikan harga yang sedang terjadi.

ā€œKami heran mengapa hanya Sulawesi Selatan yang tidak mengalami kenaikan harga, sementara daerah lain sudah menyesuaikan harga TBS mereka. Jika harga CPO dunia naik, maka petani di Sulawesi Selatan juga berhak menikmati kenaikan yang sama,ā€ ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan di kalangan petani mengenai mekanisme penetapan harga yang diterapkan oleh pabrik kelapa sawit di Sulawesi Selatan. Karena itu, pemerintah dinilai perlu melakukan pengawasan dan evaluasi secara menyeluruh terhadap tata niaga sawit agar harga yang diterima petani dapat berjalan sesuai prinsip keadilan dan transparansi.

Lebih lanjut, ia mendesak pemerintah untuk segera membentuk Satgas Harga Sawit yang melibatkan unsur pemerintah, perwakilan petani, koperasi, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.

ā€œKami mendesak pemerintah untuk sesegera mungkin, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, membentuk Satgas Harga Sawit yang melibatkan pemerintah, perwakilan petani, koperasi, dan unsur terkait lainnya. Langkah ini penting untuk memastikan tidak ada pihak yang dirugikan dalam rantai tata niaga sawit,ā€ katanya.

Menurutnya, di kalangan petani juga mulai berkembang dugaan adanya praktik-praktik yang menyebabkan harga TBS di Sulawesi Selatan tidak bergerak mengikuti tren kenaikan yang terjadi di daerah lain. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan yang lebih ketat dan investigasi yang objektif oleh pihak berwenang untuk memastikan tidak terjadi penyimpangan dalam proses penetapan harga.

ā€œSudah muncul dugaan adanya praktik-praktik permainan harga yang sangat merugikan petani. Karena itu pemerintah harus hadir untuk memastikan harga sawit ditetapkan secara transparan dan sesuai kondisi pasar yang sebenarnya,ā€ tegasnya.

Para petani berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, serta instansi terkait dapat segera mengambil langkah konkret untuk melindungi kepentingan petani sawit. Mereka juga mendorong terciptanya sistem penetapan harga TBS yang lebih adil, transparan, akuntabel, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat perkebunan.

Kondisi stagnannya harga TBS di Sulawesi Selatan di tengah kenaikan harga sawit di berbagai daerah dinilai perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Selain menyangkut pendapatan petani, persoalan tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan sektor perkebunan sawit yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di Kabupaten Luwu Timur dan wilayah sekitarnya.

 

Continue Reading

Trending