Connect with us

Kurasi Program Longwis Tangguh Bencana,Plt Kadis DKP Kembali Kunjungi 6 Kecamatan

Published

on

Kitasulsel—MAKASSAR. Hari ini Dinas Ketahanan Pangan (DKP} Kota Makassar, kembali melakukan kurasi Lorong Wisata tangguh bencana, di beberapa Kecamatan. Minggu, 25/02/2024

Kegiatan ini, berkolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) kota Makassar, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Makassar

Hari ini melakukan kurasi di enam Kecamatan yaitu, Kecamatan Tamalate, Kecamatan Mariso, Kecamatan Makassar, Kecamatan Tamalanrea, Kecamatan Biringkanaya, dan Kecamatan Manggala

Meskipun diguyur hujan, terlihat Plt Kadis Ketahanan Pangan kota Makassar Dr Alamsyah Sahabuddin, S.Stp, MSi dan Tim masih terus turun di Lorong Lorong Wisata

Menurut Alamsyah Sahabuddin program Lorong Wisata tangguh bencana merupakan komitmen Pemerintah kota Makassar untuk memberikan rasa nyaman, aman kepada masyarakat yang tinggal di Lorong

“Lorong Wisata Tangguh Bencana merupakan upaya Pemerintah kota Makassar untuk menjadikan Lorong yang resiliensi terhadap bencana apapun, dan tindakan ini juga dapat mengurangi dampak bencana di Lorong,”tutur Alamsyah Sahabuddin

“Kita patut bersyukur memilki pemimpin seperti pak Danny Pomanto, yang mana beliau sangat memperhatikan masyarakatnya baik kesejahteraannya, kemananan dan kenyamanannya,”tambah Alamsyah Sahabuddin

Pelaksanaan kurasi ini direspon baik oleh Camat, Lurah, RT RW dan tokoh masyarakat, serta mendapat apresiasi dari masyarakat Lorong

“Kami atas nama masyarakat, menyampaikan rasa terimakasih kepada pak Wali, dan kami sangat bangga memiliki pemimpin seperti beliau yang betul betul memperhatikan masyarakatnya,”tutur salah satu warga(**)

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Pemkot Makassar

Pemkot Makassar Tertibkan Lapak di Sunu dan Datuk Patimang, Camat Ujung Pandang Kedepankan Pendekatan Humanis

Published

on

Kitasulsel–Makassar Pemerintah Kota Makassar terus melakukan penataan kawasan perkotaan, khususnya di sejumlah ruas jalan yang selama ini dipadati lapak usaha di atas fasilitas umum. Penataan difokuskan di Jalan Sunu dan Jalan Datuk Patimang agar lebih tertata dan bebas dari pelanggaran pemanfaatan ruang publik.

Camat Ujung Pandang, Nanin Sudiar, menyampaikan bahwa langkah penertiban dilakukan secara bertahap melalui dialog langsung dengan para pemilik usaha.

Salah satu penertiban dilakukan terhadap satu unit lapak warung ikan bakar di Jalan Emitailan (Emisailan) yang telah beroperasi kurang lebih 20 tahun. Lapak tersebut ditertibkan karena berdiri di atas fasilitas umum dan akan direlokasi ke Pasar Baru agar aktivitas usaha tetap berjalan di tempat yang telah disiapkan.

“Pendekatan yang kami lakukan tetap mengedepankan komunikasi dan solusi. Pedagang tidak dilarang berusaha, tetapi diarahkan agar menempati lokasi yang sesuai peruntukannya,” ujar Nanin.

Selain di Jalan Emitailan, pemerintah kecamatan juga melakukan pendekatan humanis di Jalan Sungai Poso. Di lokasi tersebut, pedagang diberikan pemahaman sehingga melakukan pembongkaran mandiri terhadap bangunan yang tidak sesuai aturan.

Penertiban juga menyasar trotoar di sepanjang Jalan Penghibur. Sejumlah lapak yang selama ini menetap atau bermalam di atas trotoar dibersihkan guna mengembalikan fungsi jalur pejalan kaki serta menjaga estetika kawasan kota Makassar.

Tak hanya itu, penjual ikan bakar di Jalan Gunung Merapi yang telah berjualan sekitar 20 tahun juga menjadi perhatian pemerintah kecamatan. Sementara di kawasan Sungai Pareman, terdapat sekitar 10 lapak yang menggunakan area di atas drainase untuk berusaha.

Terhadap para pedagang tersebut, pemerintah melakukan pendekatan persuasif agar bersedia direlokasi ke tempat yang lebih tertib dan aman. Relokasi disebut sebagai solusi agar para pelaku usaha tetap dapat menjalankan aktivitas ekonomi tanpa melanggar aturan tata ruang.

Nanin menegaskan, seluruh langkah penataan dilakukan sebagai bagian dari upaya mengembalikan fungsi drainase dan trotoar, sekaligus meminimalisir potensi banjir dan gangguan ketertiban umum.

“Kami ingin kawasan tetap tertata, drainase berfungsi optimal, dan masyarakat bisa beraktivitas dengan nyaman. Relokasi menjadi solusi agar pedagang tetap bisa berusaha tanpa melanggar aturan,” tutupnya.

Continue Reading

Trending