Connect with us

NEWS

Kabid Haji dan Umrah Kemenag Sulsel Lepas 312 Jamaah Umrah Akbar JRW: Inovasi Annur Travel Jadi Inspirasi

Published

on

Kitasulsel—Makassar—Suasana haru dan penuh syukur mewarnai gedung  Asrama Haji Sudiang, Makassar, Minggu (28/9). Sebanyak 312 jamaah umrah akbar PT Jenewa Rabbani Wisata (JRW) secara resmi dilepas menuju Tanah Suci. Pelepasan ini dilakukan oleh Kepala Bidang Haji dan Umrah Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan, H. Ikbal Ismail, yang sekaligus memberikan arahan dan motivasi sebelum jamaah bertolak ke Mekkah.

Dalam sambutannya, Ikbal menyampaikan apresiasi atas langkah-langkah terobosan yang dilakukan manajemen Annur Travel dalam pelayanan haji dan umrah. Menurutnya, Annur Travel dan JRW telah menghadirkan standar baru yang patut dijadikan contoh oleh travel umrah lain di Sulawesi Selatan.

“Hampir setiap kali pemberangkatan JRW maupun Annur Travel, saya selalu ikut terlibat. Dan setiap keberangkatan, selalu ada hal baru yang dimunculkan oleh tim Annur. Inovasi-inovasi ini luar biasa, dan bisa menjadi referensi bagi travel lainnya di Sulsel,” ujar Ikbal.

BACA JUGA  Paskibraka Wanita Diminta Lepas Jilbab, Majelis Ormas Islam Jakarta: Sepertinya Ada Tekanan, Lawan

Lebih jauh, Ikbal menegaskan bahwa catatan cemerlang Annur Travel dalam memberangkatkan jamaah dalam jumlah besar adalah prestasi yang belum mampu ditandingi travel lain.

“Ini menandakan tingkat kepuasan dan kepercayaan jamaah terhadap Annur Travel sangat tinggi. Ini adalah modal besar bagi manajemen untuk terus berbuat bagi umat,” tambahnya dengan penuh optimisme.

Pesan dari Co Founder Annur Travel

Momen pelepasan ini juga diwarnai pesan khusus dari Co Founder PT Annur Maarif sekaligus Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, Lc., MH, yang menyapa jamaah melalui aplikasi Zoom.

Bunyamin menegaskan bahwa capaian Annur Travel bersama JRW serta anak perusahaan lainnya merupakan buah dari kepercayaan jamaah dan sinergi yang terjalin antara pemerintah, Kementerian Agama, dan seluruh tim kerja Annur.

BACA JUGA  Momentum Milad ke 53,RMS Gelar Buka Puasa dan Bagi Ribuan Sembako

“Capaian saat ini tidak akan mungkin terwujud tanpa sinergi semua pihak. Kepercayaan jamaah yang tumbuh atas dasar realitas pelayanan menjadi pondasi kuat bagi Annur untuk terus berbuat. Bukan hanya di Sulsel, tetapi juga untuk Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kreativitas tim Annur dalam mengembangkan pelayanan. Menurutnya, semakin solid tugas dan fungsi yang diemban, semakin padu pula kinerja yang dihasilkan.

“Dari pemikiran tim kerja inilah Annur semakin eksis, serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari nawaitu jamaah yang hendak ke Tanah Suci,” tambahnya.

Keberangkatan dengan Penerbangan Carter

Setelah prosesi pelepasan, sebanyak 312 jamaah akan bertolak pada Senin (29/9) subuh WITA melalui Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Mereka akan terbang langsung menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, menggunakan metode penerbangan carter maskapai Lion Air.

BACA JUGA  Sah! Komjen Dedi Prasetyo Dilantik Jadi Wakapolri

Dengan keberangkatan ini, Annur Travel bersama JRW sekali lagi membuktikan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan yang profesional, terukur, dan selalu selaras dengan kebutuhan jamaah.

Continue Reading
Click to comment

Warning: Undefined variable $user_ID in /www/wwwroot/kitasulsel.com/wp-content/themes/zox-news/comments.php on line 49

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

NEWS

Menag Nasaruddin Umar Optimistis Pesantren Jadi Lembaga Pendidikan Paling Diminati di Era AI

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA — Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, optimistis pesantren akan menjadi lembaga pendidikan masa depan yang paling diminati masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Optimisme tersebut disampaikan Menag saat memberikan sambutan sekaligus membuka Halaqah Nasional V Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia yang digelar di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Dalam forum yang dihadiri para pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah di Indonesia itu, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pesantren memiliki kekuatan utama yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun, termasuk AI.

Menurutnya, di tengah laju disrupsi teknologi yang semakin masif, lembaga pendidikan berbasis sekuler justru berpotensi kehilangan dimensi kemanusiaannya karena terlalu bergantung pada modernisasi digital.

Sebaliknya, pesantren dinilai tetap memiliki ruang spiritual, keteladanan, dan pembentukan karakter yang menjadi kekuatan utama pendidikan berbasis keislaman.

“Kita tetap harus optimis, pesantren itu akan menjadi sekolah masa depan yang paling diminati oleh orang, apalagi Artificial Intelligence (AI) sekarang ini semakin canggih,” ujar Nasaruddin Umar.

Ia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan memang memiliki kemampuan luar biasa dalam mentransfer ilmu pengetahuan atau transfer of knowledge secara cepat dan efisien.

BACA JUGA  Kakanwil Kemenhaj Sulsel: Pemberangkatan 1.000 Jamaah Umrah dalam Dua Pekan adalah Sejarah

Namun demikian, menurut Menag, AI tidak akan pernah mampu menggantikan peran manusia dalam mentransfer nilai-nilai kehidupan, akhlak, serta spiritualitas kepada generasi muda.

“AI itu bisa melakukan transfer of knowledge, tetapi AI tidak akan pernah bisa melakukan transfer of value. Ruang kosong spiritual, pembentukan akhlak, keteladanan, dan penguatan karakter inilah yang menjadi distingsi mutlak mutiara pesantren di bawah bimbingan para kiai,” jelasnya.

Pernyataan tersebut disambut antusias para peserta halaqah yang menilai pesantren memang memiliki karakter pendidikan yang khas dan berbeda dibandingkan lembaga pendidikan lainnya.

Menurut Nasaruddin, pesantren selama ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar ilmu agama, tetapi juga menjadi pusat pembentukan moral, kedisiplinan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Ia menilai hubungan emosional antara santri dan kiai merupakan salah satu kekuatan utama pesantren yang tidak dapat direplikasi oleh sistem digital maupun teknologi modern.

Dalam kesempatan itu, Menag juga menyampaikan kritik reflektif terhadap epistemologi sains modern Barat yang dinilai terlalu menempatkan alam sebagai objek yang harus ditaklukkan secara mekanis.

BACA JUGA  Momentum Milad ke 53,RMS Gelar Buka Puasa dan Bagi Ribuan Sembako

Menurutnya, pendekatan seperti itu berbeda dengan tradisi pesantren yang mengajarkan manusia untuk hidup berdampingan dan bersahabat dengan alam.

Karena itu, ia meminta para santri dan pengasuh pesantren agar tidak merasa minder dengan kearifan lokal dan tradisi intelektual yang selama ini berkembang di lingkungan pesantren.

“Tradisi pesantren mengajarkan manusia untuk bersahabat dengan alam, sehingga alam secara sukarela membuka rahasianya kepada mereka yang bersih hatinya,” tuturnya.

Nasaruddin juga mengingatkan agar pesantren tidak kehilangan identitasnya hanya karena ingin mengikuti pola pendidikan umum yang terlalu berorientasi pada aspek teknis dan material semata.

Menurutnya, kekuatan pesantren justru terletak pada keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kekuatan spiritual.

“Jangan sampai kita terjebak menyamakan institusi kita dengan sekolah umum yang gersang akan spiritualitas. Kekuatan kita ada pada keseimbangan intelektual dan batin,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Menag berharap Halaqah Nasional V Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia mampu melahirkan rekomendasi strategis dan peta jalan pengembangan pesantren di masa depan.

BACA JUGA  Paskibraka Wanita Diminta Lepas Jilbab, Majelis Ormas Islam Jakarta: Sepertinya Ada Tekanan, Lawan

Ia menilai pesantren memiliki posisi yang sangat penting sebagai benteng moral bangsa di tengah tantangan perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Karena itu, penguatan kualitas pendidikan pesantren dinilai menjadi kebutuhan penting agar lembaga tersebut tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang dimilikinya.

Dalam beberapa tahun terakhir, pesantren memang terus mengalami perkembangan signifikan, baik dari sisi jumlah lembaga, kurikulum pendidikan, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran.

Namun demikian, Menag menegaskan bahwa modernisasi pesantren harus tetap berpijak pada nilai utama pendidikan Islam, yakni pembentukan akhlak dan karakter manusia.

Forum Halaqah Nasional V tersebut juga menjadi ruang diskusi bagi para pimpinan pesantren untuk membahas berbagai tantangan pendidikan Islam ke depan, termasuk transformasi digital, penguatan ekonomi pesantren, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia santri.

Dengan perkembangan AI yang semakin pesat, Nasaruddin Umar meyakini pesantren justru akan semakin dibutuhkan masyarakat karena mampu menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga membentuk hati dan karakter generasi bangsa.

Continue Reading

Trending