Connect with us

NEWS

Dilepas Ketua IMI, Touring The Stroke 135 Rappang Kenalkan Potensi Sidrap ke Toraja

Published

on

KITASULSEL—SIDRAP — Nuansa kebersamaan dan semangat promosi daerah terasa kuat dalam pelepasan touring komunitas motor The Stroke 135 Rappang dengan rute Sidrap–Toraja, Sabtu (28/3/2026). Kegiatan ini secara resmi dilepas oleh Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sidrap, Wasianto, yang memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif komunitas otomotif tersebut.

Touring ini tidak sekadar menjadi ajang penyaluran hobi berkendara, tetapi juga membawa misi strategis memperkenalkan potensi Kabupaten Sidenreng Rappang ke wilayah yang lebih luas. Para peserta diharapkan menjadi representasi daerah, membawa cerita tentang kekayaan budaya, keramahan masyarakat, hingga potensi wisata dan kuliner khas Sidrap.

Dalam sambutannya, Wasianto menegaskan bahwa komunitas motor memiliki peran penting sebagai agen promosi yang efektif. Dengan mobilitas tinggi dan jejaring lintas daerah, komunitas otomotif dinilai mampu menyampaikan pesan positif tentang daerah secara lebih dinamis.

BACA JUGA  Audisi “D’Academy 8” Digelar di Sidrap-Makassar Akhir Pekan Ini, Selfi Yamma Jadi Juri

“Ini bukan hanya touring biasa, tapi perjalanan yang membawa nama baik daerah. Kita ingin menunjukkan bahwa Sidrap punya banyak potensi yang layak dikenal luas,” ujarnya.

Rute Sidrap menuju Tana Toraja sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Selain menawarkan tantangan perjalanan yang menarik, destinasi Toraja dikenal sebagai salah satu ikon wisata unggulan di Sulawesi Selatan, sehingga menjadi ruang strategis untuk memperluas jejaring promosi antar daerah.

Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antar komunitas motor sekaligus membangun citra positif generasi muda Sidrap yang aktif, kreatif, dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Wasianto berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan berkembang menjadi agenda rutin. Ia meyakini, pendekatan promosi berbasis komunitas seperti ini mampu memberikan dampak nyata dalam memperkenalkan potensi daerah, sekaligus membuka peluang bagi sektor pariwisata dan investasi.

BACA JUGA  Menunda 5 Tahun Demi Keyakinan, La Beddu Akhirnya Berangkat Haji Bersama Annur dan Sang Anak

Touring The Stroke 135 Rappang ini pun menjadi simbol bahwa hobi, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi kekuatan sosial yang mampu mendorong kemajuan daerah. (*)

Continue Reading
Click to comment

Warning: Undefined variable $user_ID in /www/wwwroot/kitasulsel.com/wp-content/themes/zox-news/comments.php on line 49

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

NEWS

Menag Minta Tim Hisab Rukyat Jadi Jembatan Persatuan Umat Jelang Sidang Isbat Iduladha 1447 H

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA — Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama Tahun 2026 menjadi jembatan persatuan umat dalam penetapan awal bulan Hijriah, termasuk menjelang sidang isbat Iduladha 1447 Hijriah.

Hal tersebut disampaikan Menag saat mengukuhkan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama Tahun 2026, Selasa (12/5/2026). Menurutnya, perbedaan penetapan hari besar keagamaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan, melainkan harus dikelola melalui dialog, pendekatan ilmiah, dan semangat kebersamaan.

“Penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia bukan sekadar urusan kalender, tetapi menyangkut keyakinan dan kebersamaan sosial umat. Karena itu, tim ini memiliki tanggung jawab besar dalam menghadirkan keputusan yang kuat secara syar’i sekaligus saintifik,” ujar Nasaruddin Umar.

BACA JUGA  Prabowo: 2025 Gaji Guru Naik Satu Kali Gaji Pokok

Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan dari Mahkamah Agung, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, serta Majelis Ulama Indonesia.

Selain itu, hadir pula unsur organisasi kemasyarakatan Islam, pimpinan pondok pesantren, dan tokoh-tokoh falak perempuan.

Menurut Menag, keberadaan Tim Hisab Rukyat merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menghadirkan kepastian hukum terkait pelaksanaan ibadah umat Islam melalui pendekatan yang dialogis dan inklusif.

“Kementerian Agama mengedepankan dialog dan sinergi. Perbedaan metode yang berkembang di masyarakat harus dipertemukan melalui ruang komunikasi yang sehat demi kemaslahatan bersama,” lanjutnya.

Nasaruddin Umar juga menekankan pentingnya peran Tim Hisab Rukyat sebagai jembatan informasi kepada masyarakat. Ia menilai perbedaan penetapan hari besar keagamaan sering kali dipengaruhi minimnya pemahaman publik terhadap metode hisab dan rukyat yang digunakan.

BACA JUGA  Kunjungan DPC, Saudara Kandung Camat Gilireng Resmi Bergabung Ke PSI

“Tim ini harus menjadi jembatan informasi. Ketegangan sering muncul karena masyarakat tidak memahami proses dan metode yang digunakan dalam penentuan awal bulan Hijriah,” katanya.

Lebih lanjut, Menag meminta seluruh unsur tim untuk terus mengedepankan pendekatan moderasi beragama dalam setiap proses pengambilan keputusan.

“Astronomi adalah sains yang presisi, tetapi dalam konteks kehidupan berbangsa, data dan perhitungan itu harus diramu menjadi kebijakan yang menyejukkan serta menjaga harmoni umat,” jelasnya.

Ia juga mendorong penguatan sinergi lintas sektor antara pemerintah, ilmuwan, dan organisasi masyarakat Islam agar hasil pengamatan hilal dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun keagamaan.

“Koordinasi antara BRIN, para pakar astronomi, kiai, dan ahli falak ormas Islam harus terus diperkuat agar hasil yang kita capai benar-benar akurat dan dipercaya masyarakat,” tandas Nasaruddin Umar.

BACA JUGA  Gema Audisi DA8 di Sidrap Kian Terasa, Jalan Protokol Dipenuhi Spanduk dan Umbul-Umbul
Continue Reading

Trending