Connect with us

Perkuat Sinergitas, Tripika Kecamatan Tallo Kunjungi RT RW Kelurahan Rappokalling

Published

on

Kitasulsel—Makassar—Pererat tali silaturahmi, Camat Tallo Alamsyah Sahabuddin, S. STP, MSi, berkunjung di Kelurahan Rappokalling, 28/03/2023

Bertempat di Posko Kontainer Recover, Jalan Samping Tol Reformasi, kedatangan Alamsyah Sahabuddin bersama rombongan disambut gembira oleh Lurah Rappokalling, para ketua RT RW dan warga Kelurahan Rappokalling.

Sambil mencicipi hidangan kue kue dan menikmati secangkir kopi yang telah disiapkan, Alamsyah Sahabuddin berdiskusi ringan dengan RT RW membahas terkait kamtibmas selama bulan suci Ramadhan

Dalam diskusinya, Alamsyah Sahabuddin meminta kepada para ketua RT RW Kelurahan Rappokalling agar di bulan suci Ramadhan lebih meningkatkan pengawasan wilayah dan perkuat komunikasi dengan Tripilar

“Di bulan suci Ramadhan ini saya minta kepada ketua RT RW agar lebih meningkatkan pengawasan wilayah dan jalin komunikasi aktif dengan Tripilar Kelurahan, jika ada sesuatu yang berpotensi menganggu kamtibmas, laporkan segera agar potensi permasalahan bisa diantisipasi sedini mungkin,”tutur

Selain pengawasan wilayah, Alamsyah Sahabuddin, juga meminta kepada ketua RT RW untuk mengimbau kepada warganya agar melakukan pengawasan terhadap anak anak

Pada kunjungan tersebut juga hadir Ketua Forum Kemanusiaan Kota Makassar FKKM, dr Udin Malik, Kapolsek Tallo, Danramil 1408 – 02 Tallo, Mayor Inf Mappayukkung(**)

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

DISKOMINFO LUWU TIMUR

Tak Pernah Usai: Sehari Semalam Menjadi Irwan Bachri Syam

Published

on

Kitasulsel—Luwutimur—Ada yang berubah dari cara sebagian masyarakat memandang seorang kepala daerah. Bukan lagi sekadar soal kebijakan, program, atau pidato resmi. Tapi tentang ketahanan—tentang bagaimana seseorang menjalani hari yang seolah tak pernah selesai.

Di Luwu Timur, nama Irwan Bachri Syam kini kerap disebut dengan nada yang lebih lirih—campuran antara kagum dan haru.

“Jaga kesehatan, Pak Bupati…”

Kalimat itu bukan sekadar sapaan. Ia lahir dari pemandangan yang berulang: seorang pemimpin yang nyaris tak punya jeda.

Pagi itu dimulai seperti biasa—rapat di gedung DPR. Agenda padat, pembahasan serius. Namun itu baru awal. Selepasnya, langkah tak berhenti. Pintu ruang kerja terbuka, tamu datang silih berganti. Wajah-wajah penuh harap, membawa persoalan, aspirasi, dan cerita.

Belum selesai satu, datang lagi yang lain.

Waktu bergulir ke siang. Di sela kesibukan, ia menyempatkan diri sholat berjamaah di masjid. Singkat, khusyuk, lalu kembali pada rutinitas: menerima tamu lagi.

Sore menjelang, langkah yang sama terulang. Sholat Ashar, lalu kembali ke kursi kerja. Tak ada tanda melambat.

“Jadi bupati itu berat… biar Pak Irwan Bachri Syam saja,” celetuk seorang warga setengah bercanda, setengah takjub.

Karena memang, tak semua orang sanggup menjalani ritme seperti itu.

Menjelang malam, agenda belum juga usai. Rapat mendadak muncul. Setelahnya, sholat Magrib di musholla. Namun alih-alih beristirahat, ia kembali menemui rombongan tamu yang telah menunggu.

Dan bahkan setelah itu—masih ada lagi.

“Pagi, siang, sore, malam… beliau terus. Tidak ada shift. Tidak ada bupati pengganti,” cerita seorang warga yang menyaksikan langsung.

Ajudan boleh bergantian. Tapi seorang bupati—tak punya “stuntman”.

Lelah? Tentu itu pertanyaan yang wajar. Tapi yang tampak justru sebaliknya: energi yang seperti tak habis.

Mungkin, bagi sebagian orang, ini bukan semata soal fisik. Ada yang melihatnya sebagai bentuk pengabdian yang lebih dalam.

“Mungkin itu kelebihan yang Allah berikan… karena beliau mengurusi begitu banyak orang,” ujar seorang warga dengan nada reflektif.

Kisah-kisah kecil seperti itu terus beredar. Tentang bagaimana satu teguran ringan soal kehadiran pegawai di waktu sholat bisa langsung mengubah suasana.

Hari itu, ketika waktu Ashar tiba, masjid nyaris tak mampu menampung jamaah.

Cukup sekali bicara—dan semua tergerak.

Sederhana, tapi mengena.

Malam kian larut. Namun bagi Irwan, hari belum benar-benar selesai. Informasi dari humas menyebutkan, esok pagi ia harus bertolak ke Makassar. Agenda baru sudah menunggu.

Artinya, waktu istirahat kembali menjadi barang langka.

Dan di tengah semua itu, masyarakat hanya bisa mengirim doa yang sederhana:

“Jaga kesehatan, Pak Bupati.”

Karena di balik jabatan yang terlihat kokoh, ada manusia yang terus berjalan, menembus batas waktu—demi mereka yang dipimpinnya.

Dan mungkin benar, menjadi bupati itu berat.

Tidak semua orang sanggup.

Continue Reading

Trending