Connect with us

Daerah

Sadar Nggak? Kota Makassar yang Kita Tinggali Ternyata Dikelilingi Puluhan Cagar Budaya dan Situs Bersejarah

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR – Siapa sangka, kota yang setiap hari kita lintasi ternyata menyimpan puluhan cagar budaya dan situs bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga kini. Tak hanya Fort Rotterdam dan Makam Pangeran Diponegoro, Makassar masih memiliki banyak peninggalan sejarah yang tersebar di berbagai sudut kota. Menariknya, sebagian besar lokasi tersebut saling berdekatan sehingga bisa dijelajahi dalam satu hari perjalanan.

Perjalanan wisata sejarah paling mudah dimulai dari Fort Rotterdam di Jalan Ujung Pandang, Kecamatan Ujung Pandang. Benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo abad ke-16 ini menjadi ikon wisata sejarah Makassar. Di dalam kompleksnya terdapat Museum La Galigo, bekas ruang tahanan Pangeran Diponegoro, serta koleksi benda-benda bersejarah yang menceritakan perjalanan Sulawesi Selatan dari masa kerajaan hingga kolonial.

Hanya beberapa menit berjalan kaki dari Fort Rotterdam, wisatawan akan memasuki kawasan bersejarah di sekitar Jalan Balaikota, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Riburane, dan Jalan Kajaolalido. Di kawasan inilah berdiri sejumlah bangunan cagar budaya yang masih difungsikan hingga sekarang, seperti Museum Kota Makassar yang dahulu merupakan Balai Kota, Gedung Bank Indonesia Kuno, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, serta Societeit de Harmonie, gedung pertemuan kaum elite Belanda yang kini menjadi ruang seni dan budaya.

BACA JUGA  Komitmen Tangani Sampah, Munafri Kembali Tinjau TPA-Siapkan 100 Armada Baru dan Perbaiki Akses Jalan

Masih di kawasan yang sama, terdapat Gereja Katedral Makassar di Jalan Kajaolalido dan Gereja Immanuel di Jalan Balaikota, dua rumah ibadah bersejarah yang tetap mempertahankan arsitektur kolonialnya. Dari sini, perjalanan bisa dilanjutkan ke Jalan Diponegoro, Kecamatan Wajo, untuk mengunjungi Makam Pangeran Diponegoro, tempat peristirahatan terakhir pemimpin Perang Jawa yang diasingkan ke Makassar hingga wafat pada tahun 1855.

Tak jauh dari Jalan Diponegoro, wisatawan dapat menjelajahi kawasan Pecinan Makassar yang membentang di sekitar Jalan Jampea, Jalan Lombok, Jalan Sumba, dan Jalan Serui. Kawasan ini masih mempertahankan deretan rumah toko tua peninggalan abad ke-19, sekaligus menjadi lokasi Vihara Ibu Agung Bahari (Klenteng Ma Tjo Poh) yang dibangun sekitar tahun 1738 dan menjadi salah satu klenteng tertua di Sulawesi Selatan.

Di kawasan Wajo pula berdiri Gedung SMP Negeri 5 Makassar di Jalan Sumba, bangunan bekas Sekolah Loen Djie Tong yang dibangun pada era 1930-an. Sementara di Jalan Jenderal Sudirman terdapat Gedung MULO, sekolah menengah peninggalan Hindia Belanda yang kini menjadi Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan.

BACA JUGA  Pjs Wali Kota Arwin Azis Pimpin Rakor Persiapan HUT Kota Makassar ke-417, Dorong Kolaborasi dan Pengabdian Masyarakat

Jika ingin melihat jejak kejayaan Kerajaan Gowa, perjalanan bisa dilanjutkan ke Benteng Somba Opu di kawasan Barombong. Dahulu benteng ini menjadi pusat pemerintahan sekaligus pelabuhan utama Kerajaan Gowa. Kini kawasan tersebut berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang dilengkapi rumah-rumah adat dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Tak jauh dari perbatasan Makassar dan Kabupaten Gowa, terdapat Kompleks Makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Jalan Syekh Yusuf, yang menjadi salah satu tujuan wisata religi paling penting di Sulawesi Selatan. Dari lokasi ini, wisatawan juga dapat mengunjungi Kompleks Makam Raja-Raja Gowa (Katangka) beserta Masjid Katangka, salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dibangun pada awal abad ke-17.

Sementara itu, di kawasan Tamalate terdapat Situs Pasanggrahan Tamalate, yang diyakini sebagai lokasi istana awal Kerajaan Gowa sebelum dipindahkan ke Benteng Somba Opu. Adapun di kawasan Kodam XIV/Hasanuddin, masih terdapat bunker peninggalan Jepang dari masa Perang Dunia II, meski aksesnya terbatas karena berada di area militer.

BACA JUGA  Pemkot Makassar Kolaborasi BBWS Pompengan Atasi Banjir, Siapkan Kolam Retensi

Perjalanan belum lengkap tanpa singgah di Pelabuhan Paotere, Kecamatan Ujung Tanah. Pelabuhan rakyat yang telah beroperasi sejak abad ke-14 ini hingga kini masih menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal Phinisi tradisional. Suasana aktivitas pelabuhan yang berpadu dengan kapal-kapal kayu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan pencinta fotografi.

Makassar juga masih menyimpan banyak situs bersejarah lainnya, seperti Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat, Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, kawasan rumah tua di Pecinan, hingga berbagai bangunan kolonial yang masih berdiri kokoh di pusat kota. Semua itu menjadi bukti bahwa Makassar bukan hanya kota modern dan pusat ekonomi di Indonesia Timur, tetapi juga kota yang menyimpan jejak sejarah panjang di hampir setiap sudutnya.

Bagi Anda yang ingin menikmati sisi lain Makassar, wisata sejarah bisa menjadi pilihan menarik. Selain mudah dijangkau, setiap lokasi menawarkan cerita yang berbeda, mulai dari kejayaan kerajaan, perdagangan rempah, kolonialisme, hingga perjuangan para pahlawan yang membentuk wajah Makassar seperti yang kita kenal saat ini.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending