Kementrian Agama RI
Dr Bunyamin M Yapid: Ikhlas, Ilmu, dan Jalan Kesejahteraan Guru
Kitasulsel—Jakarta—Kadang, satu potongan kalimat bisa melahirkan ribut panjang. Kata yang terpisah dari konteksnya bisa terdengar dingin, bahkan menimbulkan salah paham. Itulah yang terjadi ketika beredar video singkat pernyataan Menteri Agama RI, Anregurutta Prof. Nasaruddin Umar, yang menimbulkan kesan seakan-akan beliau berkata: “jika ingin sejahtera, jangan jadi guru.”
Padahal, bila kita menyimak utuh, pesan yang beliau sampaikan justru sangat berbeda: sebuah kepedulian mendalam tentang bagaimana agar para guru bisa hidup layak dan sejahtera.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren As’adiya Pusat, Dr. Bunyamin Yapid, mencoba meluruskan pandangan ini dengan suara yang jernih. Beliau mengingatkan bahwa Prof. Nasaruddin tidak pernah lepas dari semangat membela para guru. Di forum-forum resmi, bahkan di rapat paripurna DPR RI, beliau berulang kali menyuarakan bagaimana negara harus lebih sungguh-sungguh memperhatikan nasib guru, termasuk guru madrasah yang selama ini banyak berjuang di bawah yayasan. Perlahan, ikhtiar itu mulai menemukan jawabannya. Ada kebijakan baru, ada ruang perhatian yang terbuka, dan ada harapan bagi masa depan guru.
Namun, Dr. Bunyamin juga mengajak kita untuk tidak melupakan ruh yang lebih mendalam. Bahwa hakikat seorang guru adalah niatnya yang mulia: mencerdaskan kehidupan bangsa. Seorang guru berdiri di depan kelas bukan semata karena gaji, melainkan karena amanah. Karena ada panggilan jiwa untuk menyalakan pelita ilmu di hati murid-muridnya.
Apakah itu berarti seorang guru harus pasrah hidup dalam kesederhanaan? Tidak. Sejarah Islam memberi kita teladan. Imam Malik dan Imam Abu Hanifa adalah ulama besar, guru bagi ribuan murid, sekaligus orang yang berkecukupan. Mereka kaya bukan dari hasil mengajar, melainkan dari usaha yang mereka tekuni. Boleh jadi keberhasilan usaha itu datang karena keberkahan: karena hati yang ikhlas dalam mengajar, karena niat yang lurus dalam mendidik.
Maka, menjadi guru tidaklah menutup pintu rezeki. Justru, rezeki bisa datang dari arah yang tak disangka-sangka, apalagi bila ia mengajar dengan tulus. Tetapi pada saat yang sama, negara pun punya kewajiban. Sebab, bagaimana mungkin seorang guru bisa fokus menanamkan ilmu bila ia masih cemas dengan kebutuhan hidup yang tidak tercukupi? Karena itu, perjuangan untuk menyejahterakan guru harus berjalan beriringan: ikhlas dari guru, perhatian dari negara.
Inilah yang sering disuarakan Prof. Nasaruddin Umar: agar negara memperlakukan guru madrasah di bawah yayasan dengan keadilan yang sama sebagaimana guru di sekolah negeri. Sebab keduanya sama-sama mengemban misi mulia, hanya berbeda dalam naungan.
Akhirnya, kita belajar dari riuh wacana ini bahwa pesan yang sejati sebenarnya sederhana:
Ikhlaslah dalam mengajar, sebab ikhlas membuat ilmu bercahaya. Dan negara, dengan kewajibannya, harus memastikan bahwa guru yang mulia itu juga hidup sejahtera.
Guru adalah cahaya bagi murid, pintu berkah bagi masyarakat, dan tiang penyangga peradaban. Semoga cahaya itu terus menyala, bukan hanya oleh keikhlasan hati, tetapi juga oleh hadirnya keadilan dan perhatian negara.
Kementrian Agama RI
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Lingkungan Hidup Bagian dari Tanggung Jawab Keagamaan
Kitasulsel–Kairo–Mesir Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar menegaskan bahwa persoalan lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab keagamaan. Penegasan tersebut disampaikan Menag saat menjadi pembicara dalam Seminar Internasional Fikih Lingkungan (Ekoteologi) yang digelar di Al-Azhar Conference Center, Kairo, Mesir.
“Dalam perspektif Islam, bumi bukanlah milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi yang harus dijaga keseimbangannya. Karena itu, setiap aktivitas yang merusak lingkungan sejatinya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban,” ujar Menag, Selasa (20 Januari 2026).
Menurut Menag, konsep ekoteologi menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran kolektif umat Islam terkait amanah menjaga alam semesta. Ia menekankan bahwa relasi antara manusia dan lingkungan harus didasarkan pada nilai moral dan spiritual.
“Ekoteologi mengajarkan bahwa relasi manusia dan lingkungan harus dibangun di atas prinsip amanah, tanggung jawab moral, dan keseimbangan,” lanjutnya.
Menag juga menyoroti pentingnya pendekatan etis dan nurani dalam mengelola kemajuan peradaban. Menurutnya, tantangan global saat ini tidak cukup dijawab dengan kecerdasan dan teknologi semata.
“Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga nurani dan etika dalam mengelola kemajuan serta menjaga keseimbangan lingkungan,” jelasnya.
Seminar internasional bertajuk “Tantangan Berinteraksi dengan Lingkungan dalam Tafsir dan Sunnah” ini merupakan hasil sinergi antara Kementerian Agama RI, Al-Azhar Al-Sharif, Kedutaan Besar RI di Kairo, serta Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir.
Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari ulama, dosen, peneliti, mahasiswa, serta pemerhati isu lingkungan. Forum ini menjadi ruang diskusi untuk memperkuat kontribusi pemikiran Islam dalam menjawab krisis lingkungan global melalui pendekatan teologis, yuridis, dan etis.
Di sela-sela kegiatan, Menag Nasaruddin Umar juga menyerahkan secara simbolis mushaf Al-Qur’an braille terbitan Kementerian Agama RI kepada Rektor Universitas Al-Azhar, Salama Gomaa Dawud, sebagai bentuk komitmen terhadap inklusivitas dalam pendidikan keagamaan.
Sementara itu, Rektor Al-Azhar Salama Gomaa Dawud dalam sambutannya menegaskan bahwa Islam memiliki perhatian besar terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup.
“Menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab institusi, melainkan kewajiban setiap individu, karena dampak kerusakan lingkungan akan dirasakan oleh seluruh umat manusia,” ungkapnya.
-
Nasional7 bulan agoAndi Syakira Harumkan Nama Sidrap, Lolos ke Panggung Utama Dangdut Academy 7 Indosiar,Bupati SAR:Kita Support Penuh!
-
3 tahun agoInformasi Tidak Berimbang,Dewan Pengurus KKS Kairo Mesir Keluarkan Rilis Kronologi Kejadian di Mesir
-
Politics1 tahun agoIndo Barometer:Isrullah Ahmad -Usman Sadik Pepet Budiman-Akbar,IBAS-Puspa Tak Terkejar
-
2 tahun agoTangis Haru Warnai Pelepasan Status ASN Hj Puspawati Husler”Tetaplah Kuat Kami Bersamamu”
-
2 tahun agoPj Gubernur Bahtiar Paparkan Rencana Pembangunan Sulsel di Depan Presiden Jokowi
-
3 tahun agoVideo Menolak Berjabat Tangan Dengan Seorang Warga Viral ,Ketua DPRD Luwu Timur Dinilai Tidak Mencerminkan Diri Sebagai Wakil Rakyat
-
3 tahun agoDari Kotamobagu, BMR Anies Bertekat Menangkan Anies Baswedan*
-
2 tahun agoIBAS Is Back: Siap Maju di Kontestasi Pilkada Luwu Timur










You must be logged in to post a comment Login