Connect with us

NEWS

433 Visa Jamaah Annur Travel dan JRW Rampung, Jamaah Siap Diberangkatkan Menuju Baitullah

Published

on

KITASULSEL—SIDRAP — Kabar menggembirakan datang dari penyelenggara perjalanan ibadah umrah Annur Travel dan PT Jenewa Rabbani Wisata (JRW). Sebanyak 433 visa jamaah yang tergabung dalam Grup Akbar keberangkatan 26 Januari 2026 telah dinyatakan rampung 100 persen, menandai kesiapan penuh jamaah untuk diberangkatkan menuju Tanah Suci.

Ratusan jamaah tersebut dijadwalkan berangkat menggunakan penerbangan carter (charter flight) Lion Air Indonesia, sebagai bagian dari komitmen pelayanan maksimal yang terus dijaga oleh Annur Travel dan JRW.

Sesuai agenda, pelepasan jamaah akan dilaksanakan pada Minggu pagi di Masjid Agung Sidrap, selanjutnya jamaah akan bergerak menuju Asrama Haji Sudiang, Makassar, sebelum diterbangkan menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, pada Senin dini hari.

BACA JUGA  Pembangunan Stadion Sudiang Dimulai 2025, Anggaran Sudah Siap

Direktur Utama PT Jenewa Rabbani Wisata, H. Muhammad Yasmar Yapid, memastikan seluruh proses administrasi dan kelengkapan keberangkatan jamaah telah diselesaikan tanpa kendala berarti.

“Alhamdulillah, visa yang menjadi pegangan utama bagi jamaah sudah selesai dan rampung 100 persen. Saat ini, kelengkapan melekat pada jamaah masih sementara dirampungkan oleh tim kami. InsyaAllah semua dimudahkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, 433 jamaah yang akan diberangkatkan ini akan bergabung dengan 317 jamaah Annur dan JRW yang telah lebih dulu diterbangkan pada pekan sebelumnya. Dengan demikian, total jamaah yang berada di Tanah Suci dalam periode Januari ini diperkirakan mencapai sekitar 1000 jamaah.

Lonjakan jumlah jamaah tersebut menjadi bukti meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Annur Travel, yang selama lebih dari dua dekade telah konsisten melayani tamu-tamu Allah dengan standar profesionalisme tinggi.

BACA JUGA  Amran Sulaiman Tegaskan Perang Melawan Korupsi di Kementan dengan Simbol Sajadah dan Tikus

Berbasis di Sulawesi Selatan dan memiliki jaringan cabang di berbagai daerah di Indonesia, Annur Travel dikenal sebagai penyelenggara umrah yang mengutamakan kepastian visa, kenyamanan perjalanan, serta pendampingan ibadah yang tertib dan bermartabat. Sinergi strategis bersama PT Jenewa Rabbani Wisata semakin memperkuat kapasitas layanan, termasuk dalam pengelolaan penerbangan carter dan kloter berskala besar.

Dengan estimasi ribuan jamaah yang memadati Makkah dan Madinah sepanjang Januari 2026, Annur Travel dan JRW menegaskan komitmennya untuk terus berbenah, beradaptasi dengan dinamika pelayanan umrah, serta menghadirkan perjalanan ibadah yang aman, khusyuk, dan penuh ketenangan bagi seluruh jamaah.

Keberangkatan Grup Akbar 26 Januari 2026 ini sekaligus menjadi penanda kuat bahwa Annur Travel tetap berada di garda terdepan sebagai travel umrah kebanggaan Sulawesi Selatan dan Indonesia.

BACA JUGA  195 Calon Jamaah Ikuti Manasik Terintegrasi Zona 4, Dr Bunyamin Yapid Tekankan Luruskan Niat dan Jaga Karakter di Tanah Suci

 

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

NEWS

Harga Sawit Nasional Menguat, Petani Luwu Timur Soroti Tertahannya Harga TBS di Sulsel

Published

on

Kitasulsel—Luwu Timur,– Di tengah tren kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah daerah sentra perkebunan Indonesia, petani sawit di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Luwu Timur, mengaku belum merasakan dampak positif kenaikan harga tersebut. Kondisi ini memicu desakan agar pemerintah segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) Harga Sawit guna memastikan tata niaga sawit berjalan secara adil dan transparan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai wilayah penghasil sawit, harga TBS di Sulawesi Barat dilaporkan mengalami kenaikan sekitar Rp60 per kilogram. Sementara itu, di Kalimantan Timur, harga TBS tercatat meningkat sekitar Rp40 per kilogram. Kenaikan tersebut dinilai sejalan dengan perkembangan harga minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya di pasar internasional.

Namun, kondisi berbeda justru terjadi di Sulawesi Selatan. Hingga Sabtu (13/6/2026), harga TBS di sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di Kabupaten Luwu Timur dilaporkan masih berada pada posisi yang sama dan belum mengalami penyesuaian sebagaimana yang terjadi di daerah lain.

BACA JUGA  Tarif Impor Jadi 19%, Indonesia Merasa Untung Atas Kebijakan Amerika Serikat

Seorang warga Sulawesi Selatan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mempertanyakan tidak adanya kenaikan harga TBS di wilayah tersebut. Menurutnya, apabila harga CPO global menjadi salah satu acuan utama dalam penetapan harga TBS, maka petani sawit di Sulawesi Selatan seharusnya juga memperoleh manfaat dari tren kenaikan harga yang sedang terjadi.

“Kami heran mengapa hanya Sulawesi Selatan yang tidak mengalami kenaikan harga, sementara daerah lain sudah menyesuaikan harga TBS mereka. Jika harga CPO dunia naik, maka petani di Sulawesi Selatan juga berhak menikmati kenaikan yang sama,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan di kalangan petani mengenai mekanisme penetapan harga yang diterapkan oleh pabrik kelapa sawit di Sulawesi Selatan. Karena itu, pemerintah dinilai perlu melakukan pengawasan dan evaluasi secara menyeluruh terhadap tata niaga sawit agar harga yang diterima petani dapat berjalan sesuai prinsip keadilan dan transparansi.

BACA JUGA  Ketua DPRD Sulsel : Ada 710 BUMDes Mati Suri

Lebih lanjut, ia mendesak pemerintah untuk segera membentuk Satgas Harga Sawit yang melibatkan unsur pemerintah, perwakilan petani, koperasi, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.

“Kami mendesak pemerintah untuk sesegera mungkin, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, membentuk Satgas Harga Sawit yang melibatkan pemerintah, perwakilan petani, koperasi, dan unsur terkait lainnya. Langkah ini penting untuk memastikan tidak ada pihak yang dirugikan dalam rantai tata niaga sawit,” katanya.

Menurutnya, di kalangan petani juga mulai berkembang dugaan adanya praktik-praktik yang menyebabkan harga TBS di Sulawesi Selatan tidak bergerak mengikuti tren kenaikan yang terjadi di daerah lain. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan yang lebih ketat dan investigasi yang objektif oleh pihak berwenang untuk memastikan tidak terjadi penyimpangan dalam proses penetapan harga.

BACA JUGA  Amran Sulaiman Tegaskan Perang Melawan Korupsi di Kementan dengan Simbol Sajadah dan Tikus

“Sudah muncul dugaan adanya praktik-praktik permainan harga yang sangat merugikan petani. Karena itu pemerintah harus hadir untuk memastikan harga sawit ditetapkan secara transparan dan sesuai kondisi pasar yang sebenarnya,” tegasnya.

Para petani berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, serta instansi terkait dapat segera mengambil langkah konkret untuk melindungi kepentingan petani sawit. Mereka juga mendorong terciptanya sistem penetapan harga TBS yang lebih adil, transparan, akuntabel, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat perkebunan.

Kondisi stagnannya harga TBS di Sulawesi Selatan di tengah kenaikan harga sawit di berbagai daerah dinilai perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Selain menyangkut pendapatan petani, persoalan tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan sektor perkebunan sawit yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di Kabupaten Luwu Timur dan wilayah sekitarnya.

 

Continue Reading

Trending