Entertainment
Benteng Rotterdam Jadi Panggung Budaya, MATAPPA Festival Tantang Generasi Muda Merawat Identitas Sulsel

KITASULSEL — MAKASSAR – Warisan budaya Sulawesi Selatan tidak cukup hanya dikenang melalui cerita masa lalu. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana tradisi, pengetahuan, dan identitas lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Persoalan itu mengemuka melalui MATAPPA Festival 2026 yang digelar di Benteng Rotterdam, Makassar, Kamis (15/10/2026). Mengusung tema “Energizing Sulawesi Selatan through Culture”, festival yang diinisiasi Indika Foundation tersebut mempertemukan seni, literasi, dan kebudayaan dalam satu ruang publik.
Kegiatan ini menghadirkan lokakarya kreatif, diskusi kebudayaan, bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peluncuran trilogi buku yang memuat nama Matthes, Colliq Pujié, dan Matappa.
Pemilihan Benteng Rotterdam bukan sekadar persoalan lokasi. Situs bersejarah yang menjadi salah satu ikon Makassar itu menghadirkan simbol pertemuan antara warisan masa lalu dan kreativitas masa kini.
Di tengah bangunan bersejarah tersebut, kebudayaan tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan yang harus dijaga, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi untuk menjawab tantangan generasi sekarang.
Budaya Lokal Jangan Berhenti pada Seremoni
Festival budaya kerap menjadi ruang untuk menampilkan kesenian, mengenakan pakaian tradisional, atau merayakan identitas daerah. Namun, keberlanjutan budaya membutuhkan lebih dari sekadar pertunjukan sesaat.
Bahasa daerah, tradisi lisan, naskah kuno, karya sastra, dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi membutuhkan ruang agar tetap dipelajari dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
MATAPPA Festival membuka ruang pertemuan antara komunitas kreatif, pegiat budaya, dan masyarakat melalui kegiatan yang menggabungkan pertunjukan, diskusi, serta literasi.
Pendekatan tersebut penting karena pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada keberadaan benda bersejarah. Pengetahuan di baliknya juga harus dipahami, ditafsirkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tanpa proses tersebut, budaya berisiko hanya menjadi simbol kebanggaan yang dikenal namanya, tetapi semakin jauh dari kehidupan masyarakat.
Colliq Pujié dan Tantangan Merawat Ingatan Sejarah
Salah satu perhatian dalam festival ini adalah peluncuran trilogi buku yang memuat nama Matthes, Colliq Pujié, dan Matappa.
Nama Colliq Pujié memiliki arti penting dalam sejarah intelektual Bugis. Ia dikenal sebagai bangsawan, penulis, dan tokoh yang berperan dalam pelestarian naskah sastra Bugis, termasuk tradisi yang berkaitan dengan Sureq Galigo.
Kehadirannya dalam narasi literasi menjadi pengingat bahwa kebudayaan Sulawesi Selatan tidak hanya kaya akan seni pertunjukan dan tradisi lisan, tetapi juga memiliki warisan pengetahuan yang bernilai.
Membawa nama tokoh sejarah ke dalam ruang literasi masa kini dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal kembali karya, pemikiran, dan perjalanan intelektual yang membentuk identitas daerah.
Namun, pengenalan tersebut perlu dilanjutkan dengan akses terhadap bacaan, kegiatan pendidikan, serta ruang diskusi yang membuat warisan itu semakin mudah dipahami masyarakat.
Benteng Rotterdam dan Masa Depan Budaya Sulsel
Benteng Rotterdam selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi sejarah utama di Makassar. Kompleks tersebut menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah kawasan Sulawesi Selatan dan kini juga menjadi ruang penyelenggaraan kegiatan seni serta kebudayaan.
Melalui MATAPPA Festival, kawasan bersejarah itu kembali dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan gagasan dan kreativitas.
Momentum ini sekaligus membuka pertanyaan penting tentang masa depan kebudayaan Sulawesi Selatan: apakah warisan lokal hanya akan dikenang dalam festival, atau benar-benar menjadi bagian dari pendidikan, kreativitas, dan kehidupan generasi muda?
Jawabannya tidak hanya bergantung pada penyelenggara kegiatan. Sekolah, komunitas, keluarga, pemerintah, pelaku seni, dan masyarakat memiliki peran dalam memastikan pengetahuan budaya tidak terputus.
MATAPPA Festival 2026 menghadirkan ruang untuk memulai percakapan tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan semangat yang muncul dari festival dapat berlanjut menjadi kegiatan nyata, sehingga kebudayaan Sulawesi Selatan tidak sekadar bertahan sebagai warisan, tetapi terus berkembang tanpa kehilangan akar sejarahnya.
-
Nasional1 tahun agoAndi Syakira Harumkan Nama Sidrap, Lolos ke Panggung Utama Dangdut Academy 7 Indosiar,Bupati SAR:Kita Support Penuh!
-
3 tahun agoInformasi Tidak Berimbang,Dewan Pengurus KKS Kairo Mesir Keluarkan Rilis Kronologi Kejadian di Mesir
-
Politics2 tahun agoIndo Barometer:Isrullah Ahmad -Usman Sadik Pepet Budiman-Akbar,IBAS-Puspa Tak Terkejar
-
2 tahun agoTangis Haru Warnai Pelepasan Status ASN Hj Puspawati Husler”Tetaplah Kuat Kami Bersamamu”
-
4 tahun agoVideo Menolak Berjabat Tangan Dengan Seorang Warga Viral ,Ketua DPRD Luwu Timur Dinilai Tidak Mencerminkan Diri Sebagai Wakil Rakyat
-
3 tahun agoPj Gubernur Bahtiar Paparkan Rencana Pembangunan Sulsel di Depan Presiden Jokowi
-
4 tahun agoDari Kotamobagu, BMR Anies Bertekat Menangkan Anies Baswedan*
-
2 tahun agoDuet Birokrat dan Legislatif, NasDem Usung Syahar-Kanaah di Pilkada Sidrap










You must be logged in to post a comment Login