Connect with us

Sulsel Keren

Sebelum Ada Teknologi Modern, Manusia di Sulsel Sudah Mengembangkan Teknologi Sejak 40.000 Tahun Lalu

Published

on

KITASULSEL — MAROS — Jauh sebelum listrik, internet hingga kecerdasan buatan dikenal manusia, penghuni Sulawesi Selatan ternyata sudah memiliki kemampuan yang menjadi dasar perkembangan teknologi: menciptakan alat untuk menyelesaikan masalah.

Jejak panjang itu tersimpan di Leang Panninge, Desa Batu Pute, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros.

Penelitian kolaboratif mengungkap bahwa teknologi peralatan batu di kawasan ini telah berkembang secara bertahap sejak sekitar 40.000 tahun lalu hingga masa budaya Toalean. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi khas Toalean tidak muncul tiba-tiba, tetapi memiliki akar dari tradisi teknologi lokal yang jauh lebih tua.

Pada fase awal, manusia menggunakan teknik pengolahan batu yang relatif sederhana, termasuk bipolar dan cobble core. Batu yang tersedia di lingkungan sekitar dipilih, dipecah dan dibentuk untuk menghasilkan serpihan yang dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

BACA JUGA  Pengumuman Pemenang Festival Kelong All Genre 2026, Ini Daftar Lengkapnya

Namun, teknologi tersebut tidak berhenti di sana.

Seiring berjalannya waktu, cara manusia mengolah batu semakin berkembang. Bentuk alat menjadi lebih beragam dan teknik pembuatannya semakin terarah, menunjukkan bahwa pengetahuan tersebut terus dipelajari dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam perjalanan berikutnya muncul sejumlah teknologi khas Toalean, seperti Maros Point, mikrolit hingga alat batu bergerigi. Maros Point diketahui telah muncul sekitar 8.000 tahun lalu dan menjadi salah satu penanda penting budaya Toalean di Sulawesi Selatan.

Perubahan tersebut menjadi petunjuk bahwa manusia masa lalu bukan sekadar mengambil batu lalu menggunakannya.

Mereka harus mengenali jenis batu yang tepat, memahami bagaimana batu akan pecah, menentukan bentuk yang dibutuhkan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan. Proses panjang itulah yang kemudian menghasilkan teknologi yang semakin khas.

BACA JUGA  Menelusuri Jejak Benteng Somba Opu, Benteng Terkuat di Nusantara Jauh Sebelum Indonesia Lahir

Yang menarik, perkembangan itu berlangsung tanpa mesin, listrik maupun buku petunjuk.

Pengetahuan lahir dari pengamatan dan pengalaman.

Ketika sebuah alat dianggap kurang efektif, manusia mencoba cara lain. Ketika menemukan teknik yang lebih baik, pengetahuan tersebut dapat diteruskan kepada kelompok dan generasi berikutnya.

Dengan kata lain, manusia Sulsel puluhan ribu tahun lalu sudah melakukan sesuatu yang sangat dekat dengan konsep inovasi hari ini: mengamati, mencoba, menemukan cara baru, lalu mewariskan pengetahuan.

Temuan ini juga menjadi penting untuk memahami budaya Toalean. Para peneliti melihat adanya kesinambungan teknologi dari tradisi lokal yang sudah berlangsung sejak masa Pleistosen Akhir hingga perkembangan budaya Toalean pada masa berikutnya.

BACA JUGA  7.000 Tahun Terkubur di Leang Panninge, Jejak Leluhur Sulawesi Berkerabat hingga Papua dan Australia

Leang Panninge pun bukan sekadar tempat ditemukannya benda kuno. Situs ini menjadi salah satu “arsip” yang merekam bagaimana manusia di Sulawesi beradaptasi dengan lingkungan sekaligus mengembangkan teknologi berdasarkan kebutuhan hidup mereka.

Hari ini kita mengenal AI, robot, kendaraan listrik dan teknologi digital. Puluhan ribu tahun lalu, teknologinya memang masih berupa batu.

Tetapi prinsip dasarnya ternyata tidak jauh berbeda.

Ada masalah, manusia mencari cara. Ada kebutuhan, manusia menciptakan alat.

Dan dari jejak kecil di sebuah gua di Maros, kita bisa melihat bahwa kemampuan berinovasi ternyata sudah menjadi bagian dari perjalanan manusia di Sulawesi sejak puluhan ribu tahun lalu.

Sebelum smartphone menyala di tangan manusia, tangan manusia di Sulsel sudah lebih dulu menciptakan teknologi dari batu.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending