Connect with us

Camat Ujung Tanah Bersama Para Lurah Hadiri Rakor Terkait Keamanan dan Kebersihan Pelabuhan Paotere yang Dilaksanakan PT Pelindo

Published

on

Kitasulsel—Makassar-–Camat Ujung Tanah Ibrahim Chaidar Said.S.IP.M.Si Bersama Lurah Gusung Andi Imam Ilyas. S.STP. MAP dan Cambaya Andi Rosniati,S.Sos menghadiri rapat koordinasi mengenai keamanan dan kebersihan pelabuhan paotere yang dilaksanakan oleh PT PELINDO PERSERO REGIONAL IV, di Jl. Serui, Cafe Mama, Kamis 02 Maret 2023.

Dalam Pembahasan ini Camat Ujung Tanah. Ibrahim Chaidar Said. S.IP. M.Si menyampaikan terkait dengan pelabuhan paotere memang tidak terlepas dari kecamatan Ujung Tanah, karena ini kebangaan dari pemerintah kota Makassar.

“Selain itu, Kecamatan Ujung Tanah sebagai ikon sejarah bagi Kota Makassar. Untuk itu, kami dari pemerintahan kecamatan turut bertangung jawab untuk menjaga kestabilan keamanan, kebersihan dan semua yang berkaitan dengan masalah kehidupan Masyarakat,” ujarnya.

Lanjutnya, berkenaan dengan kondisi lingkungan di Pelabuhan Paotere, maka perlu upaya terobosan tersendiri guna mewujudkan pelabuhan sehat di kawasan ini.

“Bila konsep penyelenggaraannya menyatu dengan Pelabuhan Makassar, maka hasilnya tidak maksimal karena kondisi Pelabuhan Makassar sebagai Pelabuhan Laut Utama sudah menerapkan standar internasional,” kata Ibrahim Cahaidar Said.

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

NEWS

Hebat! Anggaran ‘Siluman’ Rp60 Miliar Lolos, Eks Pimpinan DPRD Sulsel: Tak Pernah Dibahas di Banggar

Published

on

KITASULSEL—MAKASSAR – Dugaan kejanggalan dalam penganggaran pengadaan bibit nanas senilai Rp60 miliar pada APBD Provinsi Sulawesi Selatan 2024 kian menguat. Sejumlah mantan pimpinan DPRD Sulsel secara tegas menyatakan bahwa proyek bernilai jumbo tersebut tidak pernah melalui mekanisme pembahasan resmi di Badan Anggaran (Banggar).

Eks Ketua DPRD Sulsel periode 2019–2024, Andi Ina Kartika Sari, mengungkapkan bahwa dirinya telah memenuhi panggilan penyidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan pada Kamis (16/4/2026) sebagai saksi. Ia hadir bersama tiga mantan Wakil Ketua DPRD lainnya untuk memberikan keterangan terkait proyek yang kini menjadi sorotan hukum.

“Kami hadir untuk mengonfirmasi keterangan guna melengkapi berkas tersangka. Baik di tingkat pimpinan maupun Banggar, tidak pernah ada penyampaian soal anggaran nanas,” ujar Andi Ina kepada awak media, Jumat (17/4).

Pernyataan senada disampaikan mantan Wakil Ketua DPRD Sulsel, Ni’matullah Erde. Ia menilai terdapat kejanggalan serius dalam proses penyusunan anggaran tersebut. Menurutnya, pembahasan legislatif kala itu lebih terfokus pada program prioritas lain, khususnya pengembangan komoditas pisang cavendish.

“Seingat kami, pengadaan bibit nanas tidak pernah dibahas secara spesifik. Justru yang menjadi perhatian utama adalah program pengembangan pisang cavendish,” jelasnya.

Penyidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan sendiri disebut telah mengantongi sejumlah dokumen penting, termasuk risalah rapat Banggar dan draf APBD 2024. Dokumen ini menjadi dasar untuk menelusuri asal-usul munculnya anggaran yang dinilai “misterius” tersebut.

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sulsel, Soetarmi, membenarkan adanya pemeriksaan terhadap para mantan legislator. Ia menyebut, proses ini penting untuk mengungkap apakah terjadi pelanggaran prosedur dalam penganggaran.

“Pemeriksaan ini krusial untuk menggali mekanisme penganggaran bibit nanas dalam APBD. Dari empat pimpinan yang dipanggil, satu orang tidak hadir,” ujarnya.

Indikasi ‘Penumpang Gelap’ Anggaran

Tidak masuknya proyek tersebut dalam pembahasan resmi Banggar memunculkan dugaan adanya praktik “penumpang gelap” dalam penyusunan APBD. Jika benar penganggaran dilakukan tanpa proses legislatif yang semestinya, maka hal ini berpotensi melibatkan oknum di level teknis eksekutif maupun pihak lain yang memiliki akses dalam proses finalisasi anggaran.

Kasus yang kini dijuluki “Nanas Berduri” ini diprediksi akan berkembang lebih luas, seiring upaya penyidik menelusuri siapa pihak yang paling bertanggung jawab atas munculnya anggaran bernilai puluhan miliar rupiah tersebut.

Kesaksian para eks pimpinan DPRD Sulsel menjadi pintu masuk penting dalam mengurai simpul perkara, sekaligus menguji transparansi dan akuntabilitas tata kelola keuangan daerah di Provinsi Sulawesi Selatan.

Continue Reading

Trending