Connect with us

NEWS

Kapolri Pastikan Situasi Aceh Terkendali Usai Kericuhan Peringatan Hari Damai

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA — Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan kondisi keamanan di Aceh telah kembali terkendali setelah sempat terjadi kericuhan dalam rangkaian peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Listyo saat ditemui di kawasan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026). Ia menegaskan jajaran kepolisian telah mengambil sejumlah langkah untuk menangani berbagai dinamika keamanan yang muncul di sejumlah daerah, termasuk Aceh.

Menurut Listyo, aparat terus melakukan pemantauan dan penanganan guna memastikan situasi tetap aman serta aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.

“Beberapa kegiatan yang tentunya muncul di beberapa waktu terakhir di beberapa wilayah, seluruh jajaran tentunya sudah melaksanakan langkah-langkah dan saat ini situasinya seluruhnya sudah terkendali,” kata Listyo.

Kapolri tidak merinci bentuk langkah penanganan yang dilakukan aparat di Aceh. Namun, ia memastikan kepolisian tetap melakukan upaya pengamanan untuk mencegah terjadinya gangguan keamanan lanjutan.

“Saat ini situasinya seluruhnya sudah terkendali,” tegasnya.

BACA JUGA  Audisi DA8 Dibuka 10 April–10 Mei 2026, Gratis! Begini Caranya!

Kericuhan Terjadi Saat Peringatan Hari Damai Aceh

Kericuhan di Banda Aceh terjadi saat masyarakat memperingati Hari Damai Aceh ke-21 di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Sabtu (15/8).

Peringatan tersebut digelar untuk mengenang momentum bersejarah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005.

MoU Helsinki menjadi tonggak penting berakhirnya konflik bersenjata yang berlangsung selama bertahun-tahun di Aceh. Karena itu, setiap tanggal 15 Agustus diperingati sebagai momentum untuk mengenang perdamaian sekaligus memperkuat komitmen menjaga stabilitas di Aceh.

Rangkaian acara pada awalnya berlangsung dengan tertib. Namun, suasana berubah setelah muncul pengibaran bendera Bulan Sabit di lokasi kegiatan.

Aparat keamanan kemudian melakukan tindakan untuk menurunkan bendera tersebut. Langkah itu kemudian memicu ketegangan antara sebagian massa dengan aparat hingga berujung kericuhan.

Situasi sempat memanas di sekitar lokasi. Aparat TNI-Polri kemudian melakukan pengamanan untuk mencegah kericuhan meluas dan menjaga kondisi tetap terkendali.

BACA JUGA  Peaceful Muharam, Menag Hadiri Nikah Massal 20 Pasangan di Pemalang: Pernikahan Tercatat Hadirkan Kepastian Hukum dan Keberkahan

Seiring berjalannya waktu, massa mulai meninggalkan lokasi. Kelompok-kelompok masyarakat yang sebelumnya berada di sekitar kawasan masjid membubarkan diri secara bertahap.

Aparat Perketat Pengamanan

Pasca-kericuhan, personel TNI dan Polri tetap disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya gangguan keamanan lanjutan.

Pengamanan dilakukan dengan pendekatan untuk memastikan situasi tetap kondusif sekaligus menjaga aktivitas masyarakat di Banda Aceh tetap berjalan.

Pemerintah dan aparat keamanan juga terus memantau perkembangan di lapangan. Kondisi yang telah berangsur normal menjadi perhatian agar momentum perdamaian Aceh tidak kembali terganggu oleh insiden yang berpotensi memicu ketegangan.

Kapolri memastikan seluruh jajaran kepolisian tetap menjalankan langkah-langkah pengamanan sesuai kondisi di masing-masing wilayah.

Pernyataan Listyo tersebut sekaligus menegaskan bahwa aparat tidak mengabaikan dinamika yang terjadi di Aceh. Penanganan tetap dilakukan untuk menjaga ketertiban umum dan mencegah potensi gangguan keamanan.

BACA JUGA  Edukasi PHBI dan Penyebaran Penyakit Menular, PDUI Sulsel Gelar TOT Bareng Guru UKS di Makassar

Momentum Perdamaian Harus Dijaga

Hari Damai Aceh memiliki arti penting bagi masyarakat Aceh maupun Indonesia secara keseluruhan. Penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 menjadi salah satu tonggak utama dalam proses perdamaian setelah konflik panjang di Aceh.

Karena itu, berbagai pihak diharapkan dapat menjaga suasana damai yang telah berlangsung selama 21 tahun. Stabilitas keamanan dinilai menjadi salah satu faktor penting agar pembangunan dan kehidupan sosial masyarakat Aceh dapat terus berjalan.

Dengan kondisi yang kini dinyatakan terkendali, aparat keamanan masih melakukan pemantauan di sejumlah titik untuk memastikan tidak ada perkembangan baru yang dapat mengganggu ketertiban.

Kapolri kembali menegaskan bahwa jajaran kepolisian siap mengambil langkah yang diperlukan apabila muncul situasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Untuk saat ini, pemerintah dan aparat keamanan memastikan kondisi Aceh telah kembali kondusif setelah kericuhan yang terjadi dalam peringatan Hari Damai Aceh ke-21.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending