Connect with us

Nasional

Pujon Mendadak Gelap di Tengah Siang, Ada yang Terjadi di Atmosfer Kalteng

Published

on

KITASULSEL — PUJON — Warga Pujon, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, dibuat terkejut ketika langit mendadak berubah gelap di tengah siang hari.

Suasana yang sebelumnya terang tiba-tiba berubah seperti menjelang malam. Kondisi tak biasa tersebut memicu kekhawatiran warga, terlebih perubahan langit terjadi bersamaan dengan pekatnya kabut asap yang menyelimuti wilayah.

Bagi masyarakat yang melihat langsung fenomena tersebut, perubahan kondisi langit dalam waktu singkat tentu menimbulkan pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa cahaya Matahari seolah menghilang dan siang hari berubah begitu gelap?

Fenomena tersebut kemudian menjadi perhatian karena bukan sekadar perubahan warna langit. Ada proses atmosfer yang terjadi di baliknya.

Ketika hutan dan lahan terbakar, pembakaran menghasilkan asap yang membawa berbagai jenis gas dan partikel sangat kecil atau aerosol. Partikel tersebut kemudian terbawa ke atmosfer dan dapat menyebar mengikuti pergerakan udara.

Dalam kondisi tertentu, terutama ketika atmosfer relatif stabil dan angin tidak cukup kuat untuk mengurai asap, partikel tersebut dapat berkumpul dalam konsentrasi tinggi.

BACA JUGA  Wamenag Minta Publik Tak Terburu-buru Kaitkan Insiden MAN 3 Padang dengan Radikalisme

Lapisan asap yang semakin pekat kemudian berinteraksi dengan cahaya Matahari.

Sebagian cahaya dihamburkan, sementara sebagian lainnya diserap oleh partikel asap. Akibatnya, intensitas cahaya yang mencapai permukaan Bumi berkurang drastis.

Itulah yang dapat membuat langit berubah warna, mulai dari kuning, jingga, merah, kecokelatan hingga terlihat sangat gelap.

Jadi, ketika Pujon terlihat seperti mengalami malam di tengah siang, bukan berarti Matahari tiba-tiba menghilang.

Yang terjadi adalah cahaya Matahari harus menembus lapisan atmosfer yang dipenuhi partikel asap.

Yang Berbahaya Justru Tak Terlihat

Warna langit yang gelap memang menarik perhatian mata. Namun, bahaya sebenarnya justru berada pada partikel-partikel yang tidak terlihat.

Asap karhutla dapat membawa PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang mampu masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

Semakin buruk kualitas udara dan semakin lama seseorang terpapar, semakin besar pula risiko terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia dan kelompok yang rentan terhadap gangguan pernapasan.

Pekatnya asap juga dapat mengurangi jarak pandang. Kondisi ini menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, termasuk pengguna kendaraan.

BACA JUGA  Hadir di Pelantikan Prabowo, Seto Siap Dukung Program Nasional di Makassar

Dampaknya bahkan merambah dunia pendidikan.

Di sejumlah wilayah Kalteng yang kualitas udaranya masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya, pemerintah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengurangi paparan siswa terhadap udara tercemar.

Artinya, kabut asap bukan lagi sekadar persoalan pemandangan langit.

Aktivitas masyarakat pun ikut terganggu.

Ketika Asap Terus Naik dan Menyebar

Asap yang dilepaskan dari karhutla tidak selalu berhenti di lokasi kebakaran.

Partikel aerosol dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah lain. Pada kebakaran yang sangat besar, sebagian asap bahkan dapat terdorong ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

Di sana, aerosol kembali berinteraksi dengan radiasi Matahari. Dampaknya cukup kompleks.

Ada partikel yang memantulkan atau menghamburkan cahaya, sementara partikel lain seperti karbon hitam dapat menyerap radiasi.

Dalam kondisi tertentu, aerosol juga dapat memengaruhi pembentukan awan dan proses hujan.

BACA JUGA  Presiden RI Terpilih Prabowo Subianto Sambut Hangat Tamu Negara di Acara Pelantikannya

Karena itu, jika kebakaran hutan dan lahan terus terjadi berulang dalam skala besar, persoalannya tidak lagi hanya tentang asap di permukaan.

Kualitas udara, kesehatan, jarak pandang, cuaca lokal, ekosistem hingga keseimbangan iklim dapat ikut terdampak.

Bukan Hanya Soal Hari Ini

Fenomena langit gelap di Pujon tidak berarti atmosfer Bumi akan langsung mengalami kerusakan permanen.

Namun, kejadian seperti ini menjadi pengingat bahwa atmosfer dan lingkungan memiliki hubungan yang sangat erat.

Kebakaran hutan melepaskan emisi dan asap. Di sisi lain, kondisi lingkungan yang semakin panas dan kering dapat meningkatkan risiko kebakaran.

Jika terus berulang, terbentuk persoalan yang semakin sulit diputus.

Kita sebagai sesama manusia perlu memiliki kesadaran yang lebih tinggi untuk kembali menjaga hutan, mencegah kebakaran dan mengurangi berbagai bentuk kerusakan lingkungan.

Sebab hutan bukan hanya tempat tumbuhnya pepohonan.

Hutan ikut menjaga udara, air, iklim dan kehidupan.

Dan ketika alam kehilangan keseimbangannya, manusia pula yang pada akhirnya harus menghadapi dampaknya.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending