Connect with us

PKB Luwu Timur Resmi Daftar Bacaleg ke KPU, Sunawar Arisal: Target Satu Fraksi di DPRD

Published

on

Kitasulsel–LUWU TIMUR — Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel) resmi mendaftarkan Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) di Kantor KPU, Sabtu 13 Mei 2023.

Pendaftaran bacaleg itu dipimpin langsung oleh Ketua PKB Luwu Timur, Sunawar Arisal beserta pengurus partai.

Setelah menyerahkan berkas para bacaleg ke komisioner KPU untuk diverifikasi ke lima Daftar Pemilih (Dapil) di Luwu Timur, semuannya memenuhi syarat.

“Setelah memverifikasi berkas para bacaleg PKB dari lima dapil di Luwu Timur. Semuanya dinyatakan berkas administrasi bacaleg PKB memenuhi Syarat,” ungkap Komisioner KPU Muhammad Abu.

Sementara, Ketua PKB Luwu Timur, Sunawar Arisal mengatakan setelah melakukan pendaftaran bacaleg ke KPU dan semuanya dinyatakan memenuhi syarat. Lanjutnya, maka hal ini merupakan langkah awal dalam perjuangan.

Nama-nama yang diusung oleh PKB, Sunawar menegaskan adalah orang-orang pilihan yang dapat membesarkan partai yang bersimbolkan lebah.

“Jadi, Insya Allah. PKB akan target satu fraksi di DPRD Luwu Timur nantinya,” tegasnya.

Disinggung tentang arti lebah di logo PKB. Sunawar menjelaskan bahwa lebah cukup memberikan manfaat dan berkah bagi seluruh umat manusia. Dibalik sosok lebah, juga tersimpan kekuatan yang tidak diperlihatkan tetapi dapat memberikan kejutan setiap orang.

“Jadi, kenapa harus lebah? Karena kita punya komitmen untuk hinggap di tempat-tempat baik, tidak juga makan kecuali makanan yang baik serta memproduksi hal-hal yang baik untuk kemanfaatan umat, rakyat dan bangsa,” tandasnya. (*)

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

DISKOMINFO LUWU TIMUR

Tak Pernah Usai: Sehari Semalam Menjadi Irwan Bachri Syam

Published

on

Kitasulsel—Luwutimur—Ada yang berubah dari cara sebagian masyarakat memandang seorang kepala daerah. Bukan lagi sekadar soal kebijakan, program, atau pidato resmi. Tapi tentang ketahanan—tentang bagaimana seseorang menjalani hari yang seolah tak pernah selesai.

Di Luwu Timur, nama Irwan Bachri Syam kini kerap disebut dengan nada yang lebih lirih—campuran antara kagum dan haru.

“Jaga kesehatan, Pak Bupati…”

Kalimat itu bukan sekadar sapaan. Ia lahir dari pemandangan yang berulang: seorang pemimpin yang nyaris tak punya jeda.

Pagi itu dimulai seperti biasa—rapat di gedung DPR. Agenda padat, pembahasan serius. Namun itu baru awal. Selepasnya, langkah tak berhenti. Pintu ruang kerja terbuka, tamu datang silih berganti. Wajah-wajah penuh harap, membawa persoalan, aspirasi, dan cerita.

Belum selesai satu, datang lagi yang lain.

Waktu bergulir ke siang. Di sela kesibukan, ia menyempatkan diri sholat berjamaah di masjid. Singkat, khusyuk, lalu kembali pada rutinitas: menerima tamu lagi.

Sore menjelang, langkah yang sama terulang. Sholat Ashar, lalu kembali ke kursi kerja. Tak ada tanda melambat.

“Jadi bupati itu berat… biar Pak Irwan Bachri Syam saja,” celetuk seorang warga setengah bercanda, setengah takjub.

Karena memang, tak semua orang sanggup menjalani ritme seperti itu.

Menjelang malam, agenda belum juga usai. Rapat mendadak muncul. Setelahnya, sholat Magrib di musholla. Namun alih-alih beristirahat, ia kembali menemui rombongan tamu yang telah menunggu.

Dan bahkan setelah itu—masih ada lagi.

“Pagi, siang, sore, malam… beliau terus. Tidak ada shift. Tidak ada bupati pengganti,” cerita seorang warga yang menyaksikan langsung.

Ajudan boleh bergantian. Tapi seorang bupati—tak punya “stuntman”.

Lelah? Tentu itu pertanyaan yang wajar. Tapi yang tampak justru sebaliknya: energi yang seperti tak habis.

Mungkin, bagi sebagian orang, ini bukan semata soal fisik. Ada yang melihatnya sebagai bentuk pengabdian yang lebih dalam.

“Mungkin itu kelebihan yang Allah berikan… karena beliau mengurusi begitu banyak orang,” ujar seorang warga dengan nada reflektif.

Kisah-kisah kecil seperti itu terus beredar. Tentang bagaimana satu teguran ringan soal kehadiran pegawai di waktu sholat bisa langsung mengubah suasana.

Hari itu, ketika waktu Ashar tiba, masjid nyaris tak mampu menampung jamaah.

Cukup sekali bicara—dan semua tergerak.

Sederhana, tapi mengena.

Malam kian larut. Namun bagi Irwan, hari belum benar-benar selesai. Informasi dari humas menyebutkan, esok pagi ia harus bertolak ke Makassar. Agenda baru sudah menunggu.

Artinya, waktu istirahat kembali menjadi barang langka.

Dan di tengah semua itu, masyarakat hanya bisa mengirim doa yang sederhana:

“Jaga kesehatan, Pak Bupati.”

Karena di balik jabatan yang terlihat kokoh, ada manusia yang terus berjalan, menembus batas waktu—demi mereka yang dipimpinnya.

Dan mungkin benar, menjadi bupati itu berat.

Tidak semua orang sanggup.

Continue Reading

Trending