Connect with us

NEWS

Demam Stecu Melanda! Sidrap Music Concert Hadirkan Faris Adam, Panggung Mulai Dipersiapkan

Published

on

Kitasulsel—SIDRAP — Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) bersiap menjadi pusat ledakan euforia musik Tanah Air! Sabtu, 26 Juli 2025, Stadion Ganggawa akan disulap menjadi lautan cahaya dan suara dalam gelaran Sidrap Music Concert “Stecu”, yang digadang-gadang sebagai konser terbesar di wilayah Ajatappareng tahun ini.

Panitia telah mulai tancap gas mempersiapkan panggung megah berstandar nasional untuk menyambut ribuan pasang mata yang akan hadir.

Tak hanya soal hiburan, konser ini juga menjadi ruang kolaborasi antara seniman lokal, pelaku UMKM, dan masyarakat luas.

Diprakarsai oleh PT Malomo Enterprise, konser ini menjadi simbol kebangkitan musik lokal dan penguatan ekosistem seni-budaya.

Ketua panitia, Awaluddin Ahmad alias Alie Bro, menegaskan bahwa konser ini membawa semangat lebih besar dari sekadar tontonan.

BACA JUGA  361 CJH Sidrap Tahap II Bersiap ke Tanah Suci, Bunyamin Yapid Tekankan Kunci Sukses Ibadah Haji

“Ini panggung kebahagiaan, kreativitas, dan peluang ekonomi bagi pelaku UMKM Sidrap,” katanya, saat ditemani Robby Ukkas Koordinator Tim Work, Selasa (22/6/2025).

Bintang utama yang paling dinanti tentu saja Faris Adam dengan lagu viral “Stecu” yang sejak dirilis 5 Maret 2025 telah menembus 7,1 juta penayangan di YouTube.

Lirik ikoniknya, “kalau memang cocok bisa datang ke rumah”, menjelma menjadi anthem generasi muda di TikTok dan Instagram.

Penampilan Faris akan dilengkapi oleh Jackson Zeran sebagai guest star dan performa enerjik dari Quick Band, didukung tata cahaya dramatis dan sound system kelas atas.

Dukungan pun mengalir dari tokoh-tokoh penting di balik layar, seperti Bupati dan Wakil Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif dan Nurkanaah, Ketua DPRD, Takyuddin Masse, Alif Zulkarnaen Husain (Ocha HDS), Abdul Rahman (Mr. Lombenk), dan Abdul Rahman Mustafa (Dedi Berdhi).

BACA JUGA  Baru Menjabat, Kapolres Parepare Bongkar Peredaran Sabu dengan Nilai Fantastis Capai 16 Milliar

Tiket Presale 1 dibanderol hanya Rp110.000 dengan jumlah terbatas. E-ticket dikirim langsung ke email usai pendaftaran di situs resmi kartjis.id/events/sidrapmusicconcert dan ticket offline di harga Rp.125.000. Info ticketing bisa menghubungi nmr admin (082342075345) atau datang langsung ke sekertariat Panitia di Warkop Warna.

Sabtu malam nanti, Sidrap tak sekadar menjadi tempat konser tapi panggung sejarah bagi musik, budaya, dan semangat baru. Jangan sampai ketinggalan. Datang dan jadilah bagian dari malam tak terlupakan ini! (*)

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

NEWS

Harga Sawit Nasional Menguat, Petani Luwu Timur Soroti Tertahannya Harga TBS di Sulsel

Published

on

Kitasulsel—Luwu Timur,– Di tengah tren kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah daerah sentra perkebunan Indonesia, petani sawit di Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Luwu Timur, mengaku belum merasakan dampak positif kenaikan harga tersebut. Kondisi ini memicu desakan agar pemerintah segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) Harga Sawit guna memastikan tata niaga sawit berjalan secara adil dan transparan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai wilayah penghasil sawit, harga TBS di Sulawesi Barat dilaporkan mengalami kenaikan sekitar Rp60 per kilogram. Sementara itu, di Kalimantan Timur, harga TBS tercatat meningkat sekitar Rp40 per kilogram. Kenaikan tersebut dinilai sejalan dengan perkembangan harga minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya di pasar internasional.

Namun, kondisi berbeda justru terjadi di Sulawesi Selatan. Hingga Sabtu (13/6/2026), harga TBS di sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di Kabupaten Luwu Timur dilaporkan masih berada pada posisi yang sama dan belum mengalami penyesuaian sebagaimana yang terjadi di daerah lain.

BACA JUGA  Legislator DPRD Sulsel Hamzah Hamid Bersama Pihak Polda Sulsel Ajak Masyarakat Pererat Ukhuwah dalam Tabligh ‘Rindu Ramadhan’

Seorang warga Sulawesi Selatan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mempertanyakan tidak adanya kenaikan harga TBS di wilayah tersebut. Menurutnya, apabila harga CPO global menjadi salah satu acuan utama dalam penetapan harga TBS, maka petani sawit di Sulawesi Selatan seharusnya juga memperoleh manfaat dari tren kenaikan harga yang sedang terjadi.

“Kami heran mengapa hanya Sulawesi Selatan yang tidak mengalami kenaikan harga, sementara daerah lain sudah menyesuaikan harga TBS mereka. Jika harga CPO dunia naik, maka petani di Sulawesi Selatan juga berhak menikmati kenaikan yang sama,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan di kalangan petani mengenai mekanisme penetapan harga yang diterapkan oleh pabrik kelapa sawit di Sulawesi Selatan. Karena itu, pemerintah dinilai perlu melakukan pengawasan dan evaluasi secara menyeluruh terhadap tata niaga sawit agar harga yang diterima petani dapat berjalan sesuai prinsip keadilan dan transparansi.

BACA JUGA  361 CJH Sidrap Tahap II Bersiap ke Tanah Suci, Bunyamin Yapid Tekankan Kunci Sukses Ibadah Haji

Lebih lanjut, ia mendesak pemerintah untuk segera membentuk Satgas Harga Sawit yang melibatkan unsur pemerintah, perwakilan petani, koperasi, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.

“Kami mendesak pemerintah untuk sesegera mungkin, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, membentuk Satgas Harga Sawit yang melibatkan pemerintah, perwakilan petani, koperasi, dan unsur terkait lainnya. Langkah ini penting untuk memastikan tidak ada pihak yang dirugikan dalam rantai tata niaga sawit,” katanya.

Menurutnya, di kalangan petani juga mulai berkembang dugaan adanya praktik-praktik yang menyebabkan harga TBS di Sulawesi Selatan tidak bergerak mengikuti tren kenaikan yang terjadi di daerah lain. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan yang lebih ketat dan investigasi yang objektif oleh pihak berwenang untuk memastikan tidak terjadi penyimpangan dalam proses penetapan harga.

BACA JUGA  Pembangunan Stadion Sudiang Dimulai Tahun Ini, AIA: Semoga Segera Dinikmati Masyarakat Sulsel

“Sudah muncul dugaan adanya praktik-praktik permainan harga yang sangat merugikan petani. Karena itu pemerintah harus hadir untuk memastikan harga sawit ditetapkan secara transparan dan sesuai kondisi pasar yang sebenarnya,” tegasnya.

Para petani berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, serta instansi terkait dapat segera mengambil langkah konkret untuk melindungi kepentingan petani sawit. Mereka juga mendorong terciptanya sistem penetapan harga TBS yang lebih adil, transparan, akuntabel, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat perkebunan.

Kondisi stagnannya harga TBS di Sulawesi Selatan di tengah kenaikan harga sawit di berbagai daerah dinilai perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Selain menyangkut pendapatan petani, persoalan tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan sektor perkebunan sawit yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di Kabupaten Luwu Timur dan wilayah sekitarnya.

 

Continue Reading

Trending