Connect with us

Kriminal

Viral Ribut dengan Satpam di Bundaran HI, Sopir Alphard Ternyata Anggota Polda Jabar – Propam Pastikan Tetap Sidang Etik Meski Sudah Damai

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA – Kasus keributan antara petugas sekuriti dengan sopir mobil Toyota Alphard di dekat Bundaran HI, Jakarta Pusat, memasuki babak baru.

Meski kedua belah pihak telah sepakat berdamai, terungkap bahwa sopir dan penumpang mobil mewah tersebut merupakan anggota Polda Jawa Barat. Propam Polda Jabar memastikan proses etik tetap berjalan.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menyampaikan permohonan maaf resmi kepada petugas sekuriti yang menjadi korban dalam insiden tersebut.

“Kabid Humas Polda Jabar menyampaikan permohonan maaf kepada Satpam di Bundaran HI atas perlakuan arogan dan tidak pantas oleh tiga anggota Polda Jabar,” dikutip dari unggahan akun resmi Propam Polda Jabar, Sabtu (25/7).

Polda Jabar menegaskan, perdamaian tidak menghapus pelanggaran.

“Perdamaian antar para pihak, tidak menghapuskan sanksi kode etik terhadap ketiga saudara,” tegasnya.

BACA JUGA  Polda Bongkar Penyalahgunaan Sabu di Kosan Makassar, Libatkan Oknum Wartawan

Identitas Sopir Alphard dan Akan Dipatsus

Tiga anggota yang dimaksud adalah Ipda DG, Bripka BS, dan Briptu RPW. Ketiganya telah menjalani pemeriksaan maraton oleh Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Jawa Barat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, Propam menyatakan telah menemukan bukti cukup adanya dugaan pelanggaran kode etik profesi Polri.

“Ditemukan cukup bukti melakukan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri sebagaimana Perpol Nomor 7 Tahun 2022. Dan hasilnya akan dilanjutkan melalui proses kode etik dan sidang kode etik profesi Polri,” kata Hendra.

Ketiganya juga akan ditempatkan di tempat khusus (patsus) setelah proses pemeriksaan rampung.

“Polda Jabar proses kode etik tiga anggota dan lanjut patsus, selanjutnya hari ini kami secara maraton telah melakukan pemeriksaan dan kita lanjutkan nanti apabila sudah selesai proses penyidikannya kita akan langsung patsus-kan,” jelasnya.

BACA JUGA  Kakak Tikam Adik hingga Tewas di Makassar, Buron 3 Bulan Ditangkap di Samarinda

Polda Jabar menegaskan komitmen untuk menindak tegas dan transparan setiap pelanggaran yang dilakukan anggotanya, serta mengapresiasi perhatian publik dan menerima kritik sebagai bahan evaluasi institusi.

Sebelumnya, momen damai antara satpam dan sopir Alphard terjadi di Polsek Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/7). Keduanya saling bersalaman dan berpelukan yang disaksikan Kapolsek Menteng Kompol Braiel Arnold Rondonuwu dan kuasa hukum.

KDM Temui Satpam, Ternyata Warga Bandung dan Ditawari Kerja di Gedung Sate

Kasus ini juga menarik perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM). Ia bertemu langsung dengan petugas sekuriti tersebut yang diketahui bernama Fiktor Harefa.

Dalam pertemuan itu, Dedi menyebut Fiktor menjalankan tugasnya dengan benar saat menegur pengendara Alphard yang melanggar aturan lalu lintas.

BACA JUGA  Resmob Polda Sulsel Amankan Wanita Diduga Curi Ponsel di Ujung Tanah Makassar

“Fiktor Harefa, sekuriti yang menegur oknum aparat, kemudian oknum aparatnya tidak terima karena ditegur di Bundaran HI, yaitu menabrak rambu lalu lintas, tanda lampu merah, sehingga membahayakan keselamatan pejalan kaki yang menyeberang. Betul, kan?” kata Dedi dalam video yang diunggah di akun Instagram @dedimulyadi71.

Dedi juga mengungkap bahwa Fiktor ternyata merupakan warga Bandung asal Nias yang tinggal di kawasan Pasteur.

Mengetahui Fiktor ingin pindah tempat kerja, Dedi langsung menawarkan pekerjaan sebagai petugas keamanan di kawasan Gedung Sate, Bandung.

“Dan sengaja datang bertemu saya hari ini untuk ingin pindah kerja sebagai sekuriti. Jadi rencananya insyaallah nanti pindah kerja sebagai sekuriti di Bandung. Nanti jaga sekitar Gedung Sate yang hari ini lagi proyek pembangunan penataan areal halaman Gedung Sate,” ucap Dedi.

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Kriminal

Kakak Tikam Adik hingga Tewas di Makassar, Buron 3 Bulan Ditangkap di Samarinda

Published

on

Kitasulsel–MAKASSAR Pria bernama Ardi Heriansyah (27) akhirnya ditangkap aparat kepolisian usai menikam adik kandungnya, Ayyub Febriansyah (25), hingga tewas di Makassar, Sulawesi Selatan. Pelaku dibekuk setelah buron hampir tiga bulan.

Penangkapan dilakukan tim Resmob Polda Sulsel bersama jajaran Polsek Bontoala di Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (25/2/2026) dini hari.

“Resmob Polda Sulsel bersama Polsek Bontoala melakukan penangkapan pelaku tindak pidana penganiayaan yang menghilangkan nyawa orang lain,” ujar Kanit Resmob Polda Sulsel, AKP Wawan Suryadinata, Rabu (25/2/2026).

Dari hasil pemeriksaan, motif pembunuhan dipicu konflik keluarga antara kakak dan adik kandung tersebut. Perselisihan bermula saat korban dituduh membiarkan kamar pelaku dalam kondisi berantakan. Korban yang tersinggung kemudian terlibat perkelahian dengan pelaku.

BACA JUGA  Laksus-Maspekindo Serahkan Daftar Hitam 9 Brand Skincare ke Polda Sulsel

“Jadi memang antara pelaku dan korban ini adik kakak kandung. Kejadiannya sebetulnya karena sakit hati, ada konflik keluarga,” kata Wawan.

Perkelahian sempat dilerai keluarga. Bahkan, sepekan setelah insiden tersebut, korban mengira persoalan telah selesai.

“Pada saat itu kemudian dilerai oleh keluarganya, hingga satu minggu setelahnya korban berpikiran masalah sudah selesai,” jelasnya.

Namun pelaku ternyata masih menyimpan dendam. Sepekan setelah perkelahian, Ardi mengambil barang-barangnya dari rumah sambil membawa sebilah parang. Ia kemudian mendatangi korban yang tengah makan siang di sebuah warung.

Cekcok kembali terjadi hingga berujung aksi brutal. Pelaku menikam korban sebanyak lima kali.

“Jadi sudah dilakukan perkelahian, kemudian juga ditikam oleh pelaku sebanyak lima tusukan sampai korban meninggal dunia,” tutur Wawan.

BACA JUGA  Resmob Polda Sulsel Amankan Wanita Diduga Curi Ponsel di Ujung Tanah Makassar

Peristiwa berdarah itu terjadi tak jauh dari rumah korban di Jalan Gunung Latimojong, Kelurahan Gaddong, Kecamatan Bontoala, Senin (1/12/2025) pagi. Korban ditemukan dalam kondisi tergeletak bersimbah darah.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, korban sempat berupaya menyelamatkan diri dari kejaran kakaknya dan bersembunyi di rumah warga. Dalam kondisi luka parah, ia meminta pertolongan.

“Sudah ditusuk, bersimbah darah di sini di belakang pintu. Sempat minta tolong di saya bilang, ‘angkat ka dulu’, minta tolong,” ujar seorang warga, Rafli.

Korban akhirnya meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sementara itu, pelaku kini telah diamankan dan menjalani proses hukum lebih lanjut.

Continue Reading

Trending