Connect with us

NEWS

Ma’ruf Amin Tekankan Arah Kepemimpinan NU: Jaga Moderasi, Perkuat Umat dan Bangun Bangsa

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA – Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin menegaskan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) ke depan harus mampu menjadi kekuatan yang memperbaiki persoalan umat sekaligus menjaga persatuan bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Ma’ruf saat menghadiri Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Ma’ruf menilai prinsip al-ishlah wal ishlah harus menjadi salah satu pijakan kepemimpinan NU. Prinsip tersebut, kata dia, menekankan pentingnya menghadirkan perbaikan serta mendamaikan berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

Menurut Ma’ruf, NU juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga umat agar tidak terseret ke dalam pemikiran keagamaan yang ekstrem.

Ia mengingatkan terdapat dua kecenderungan yang perlu dihindari, yakni pemahaman yang terlalu tekstual hingga menjadi kaku dan jumud, serta pemikiran yang kehilangan akar tradisi hingga bergerak terlalu liberal.

Karena itu, Ma’ruf mendorong NU terus mempertahankan karakter Islam moderat atau Islam wasathiyyah. Sikap i’tidal dan tawasuth dinilai penting agar umat tetap berada dalam koridor Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

BACA JUGA  Bupati Kuansing dan Sekda Serahkan Diri ke KPK Usai Jadi Target OTT, Jalani Pemeriksaan Intensif

“Umat itu dari pemikiran dan pemahaman yang menyimpang. Baik kembali kepada tekstualis, terlalu tekstualis, jumud, ataupun sudah kehilangan akarnya menjadi liberal,” kata Ma’ruf.

NU Diminta Perkuat Kualitas Umat

Selain menjaga pemahaman keagamaan, Ma’ruf menekankan pentingnya taqwiyatul-ummah atau penguatan umat.

Ia mengatakan NU memiliki tanggung jawab membangun kualitas sumber daya manusia melalui berbagai bidang, terutama pendidikan.

Pendidikan NU, menurutnya, harus mampu melahirkan dua kelompok penting. Pertama, generasi yang memiliki pemahaman agama mendalam dan mampu berperan sebagai ulama untuk menjaga umat. Kedua, generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun kehidupan masyarakat.

“Menyiapkan orang-orang fakih, para ulama, untuk menjaga umat supaya tetap dalam paham dan cara berpikir yang benar. Kemudian menyiapkan orang yang akan membangun bumi, yang menguasai sains dan teknologi,” ujarnya.

Ma’ruf menilai penguasaan ilmu agama dan teknologi tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya justru perlu berjalan beriringan agar NU memiliki sumber daya manusia yang kuat secara spiritual sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.

BACA JUGA  Konsolidasi NasDem Sulsel II, Syaharuddin Alrif Tekankan Soliditas Kader dan Target Politik 2029

Ekonomi Umat Jadi Perhatian

Penguatan ekonomi juga disebut sebagai bagian penting dari agenda NU ke depan.

Ma’ruf mengingatkan, tradisi pemberdayaan ekonomi sebenarnya telah lama tumbuh di lingkungan ulama, bahkan sebelum NU berdiri. Ia menyinggung keberadaan Nahdlatut Tujjar sebagai salah satu jejak awal gerakan ekonomi tersebut.

Menurutnya, penguatan pengusaha dari kalangan santri diperlukan agar gerakan keumatan memiliki fondasi ekonomi yang kokoh. Kemandirian ekonomi akan membuat berbagai aktivitas sosial dan keumatan dapat berjalan lebih kuat.

Dua Tugas Besar NU untuk Indonesia

Ma’ruf juga menyoroti peran NU dalam perjalanan kebangsaan Indonesia. Menurut dia, kecintaan terhadap tanah air telah menjadi bagian dari tradisi NU sejak sebelum Indonesia merdeka.

Ia mencontohkan semangat Nahdlatul Wathan dan syair Ya Lal Wathan yang mencerminkan kecintaan terhadap bangsa dan tanah air.

Ma’ruf juga mengingatkan peran Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan Fatwa Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa tersebut, kata dia, menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan kemudian menjadi salah satu landasan penetapan Hari Santri Nasional.

BACA JUGA  Tagih Hak Gaji Guru Berujung Dugaan Penganiayaan, Ketua Prodi Pascasarjana UMS Rappang Dipolisikan

Atas dasar sejarah tersebut, Ma’ruf menyebut ada dua agenda besar yang perlu terus diperkuat NU dalam konteks kebangsaan, yakni hifzhul-wathon atau menjaga tanah air dan imaratul-wathon atau memakmurkan negara.

“Gerakan kebangsaan ini menurut saya ada dua yang kita kembangkan. Satu namanya hifzhul-wathon, menjaga tanah air. Yang kedua adalah imāratul-wathon, memakmurkan negara ini,” tegasnya.

Ia menilai menjaga Indonesia bukan sekadar mempertahankan keutuhan wilayah, tetapi juga merawat kerukunan, mencegah konflik, serta menghadapi berbagai bentuk kerusakan yang dapat mengancam kehidupan berbangsa.

Dengan pijakan tersebut, Ma’ruf berharap kepemimpinan NU ke depan mampu menjaga keseimbangan antara penguatan keagamaan, pemberdayaan umat, kemandirian ekonomi, serta tanggung jawab kebangsaan.

NU diharapkan tidak hanya menjadi penjaga tradisi keislaman moderat, tetapi juga tampil sebagai kekuatan yang aktif menyelesaikan persoalan umat dan ikut memakmurkan Indonesia.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending