Connect with us

NEWS

KPK Evaluasi Prosedur OTT Usai Dua Operasi Senyap Diduga Terdeteksi Target

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mengevaluasi pelaksanaan operasi tangkap tangan (OTT) setelah dua operasi senyap yang digelar dalam sepekan terakhir diduga telah diketahui oleh pihak yang menjadi target.

Dua OTT tersebut menjerat Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Suhardiman Amby, dan Bupati Langkat, Syah Afandin. Dalam kedua kasus tersebut, KPK menemukan indikasi bahwa target operasi telah mengetahui keberadaan tim penyelidik sebelum dilakukan penindakan.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein, mengatakan penyelidikan tertutup pada prinsipnya dirancang agar tidak diketahui publik maupun pihak yang menjadi sasaran operasi.

“Terkait untuk penyelidikan tertutup memang semestinya itu tidak diketahui publik atau artinya tidak ada pihak-pihak yang dimintai oleh tim penyelidik untuk diklarifikasi. Artinya tim penyelidik langsung turun ke lapangan,” ujar Taufik dalam konferensi pers, Jumat (3/7).

BACA JUGA  Hari Kedua Manasik Haji Akbar Annur, Empat Ustaz Kondang Perdalam Materi, Jamaah Kian Mantap Berangkat

OTT Kuansing dan Langkat Diduga Terendus

Dalam operasi di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, tim KPK sempat kesulitan menemukan keberadaan Bupati Suhardiman Amby. Saat melakukan pencarian, penyidik memperoleh informasi bahwa yang bersangkutan sempat dijemput oleh pihak tertentu.

KPK kini masih mendalami bagaimana Suhardiman dapat mengetahui keberadaan tim penyelidik yang sedang melakukan operasi di wilayah tersebut.

Sementara itu, dalam OTT di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, KPK mengungkapkan bahwa Bupati Syah Afandin diduga telah mengetahui dirinya tengah dipantau. Ia disebut membatalkan pertemuan dengan pihak yang diduga sebagai pemberi suap.

Namun, Syah Afandin membantah telah mengetahui rencana operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK.

KPK Dalami Dugaan Kebocoran Informasi

BACA JUGA  Respon APIH Soal DPRD Sulsel Sidak Sejumlah THM

Menurut Taufik, dugaan terdeteksinya operasi bukan berarti terjadi kebocoran informasi dari internal KPK. Ia menilai kemungkinan target mengenali keberadaan petugas atau mencurigai aktivitas tim penyelidik di lapangan.

“Nah ketika turun ke lapangan itulah ada mungkin indikasi-indikasi diketahui karena memang mungkin orangnya sudah pernah datang ke Langkat atau memang ada informasi-informasi yang diketahui ini orang-orang KPK,” katanya.

Ia menegaskan, KPK masih melakukan pendalaman untuk mengetahui penyebab target dapat mengantisipasi operasi yang sedang berlangsung.

“Jadi memang ini masih perlu pendalaman lebih lanjut untuk kenapa pihak-pihak luar itu mengetahui kemudian informasi-informasi bahwa tim akan turun ke Langkat. Jadi ini bukan memang bocor dari luar tapi memang ini dugaan-dugaan saja bahwa orang itu mungkin pun juga mengira-ngira bahwa ada tim KPK yang turun ke daerah sehingga kemudian dilakukan antisipasi-antisipasi,” ujarnya.

BACA JUGA  Diduga Jadi Otak Penipuan Jual Beli Sawah Rp300 Juta, Andi Rusdi Akhirnya Ditahan Polisi

Metode Operasi Akan Dievaluasi

KPK memastikan akan melakukan evaluasi terhadap metode pengerahan tim penyelidik dalam operasi tertutup agar keberadaan petugas tidak mudah dikenali oleh pihak yang menjadi target.

Meski demikian, Taufik menegaskan dugaan antisipasi yang dilakukan para target tidak menggagalkan proses penindakan. Tim penyelidik tetap berhasil mengumpulkan bukti dan mengungkap dugaan tindak pidana korupsi.

“Dari ilmu kejahatan kan selalu ada meninggalkan jejak-jejak sehingga tim di lapangan tetap berupaya untuk melakukan penyelidikannya,” tutur Taufik.

Evaluasi tersebut diharapkan dapat memperkuat efektivitas operasi tangkap tangan KPK sehingga proses penyelidikan tetap berlangsung secara tertutup dan peluang keberhasilan penindakan semakin optimal.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending