Connect with us

Entertainment

Monster Banyak Mata Kuasai Singapura , Sindiran untuk Manusia yang Tak Bisa Lepas dari Layar

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR – Monster bermata banyak, sosok bertopeng hingga figur manusia bercampur mesin memenuhi ruang Singapore Tyler Print Institute (STPI), Singapura.

Monster-monster tersebut merupakan bagian dari STRANGE MONSTER VIEW, pameran terbaru seniman Indonesia Eko Nugroho yang berlangsung pada 22 Agustus hingga 10 Oktober 2026. Lebih dari 50 karya ditampilkan, mengangkat kehidupan manusia yang semakin dipengaruhi teknologi, layar dan koneksi digital.

Melalui karakter-karakter surealis, Eko mempertanyakan perubahan identitas manusia di tengah kehidupan digital. Ketika teknologi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, apakah manusia masih sepenuhnya mengendalikannya?

Monster yang Lahir dari Kehidupan Sehari-hari

Karya-karya tersebut lahir dari pengamatan Eko selama menjalani residensi keduanya di STPI.

Kehidupan Singapura, mulai dari arsitektur, pariwisata, budaya hingga masyarakat yang hidup dalam lingkungan teknologi tinggi, menjadi sumber inspirasinya.

BACA JUGA  16 Talenta dari 7 Daerah Siap Panaskan Grand Final Festival Kelong All Genre. Siapa jagoanmu ?

Eko menyampaikan kritik tersebut melalui bahasa visual yang dekat dengan budaya populer, seperti komik, graffiti, street art, karakter bertopeng dan figur hibrida.

Di balik tampilannya yang absurd, karya-karya tersebut membawa isu tentang identitas, pengawasan dan hubungan manusia di era digital.

Salah satunya WE WATCH BEHIND THE GRASS yang mengangkat gagasan tentang pengawasan. Sementara KEEP IN TOUCH BUT NOT TOUCH menyentil paradoks komunikasi digital: manusia semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin dekat secara nyata.

Identitas Indonesia Tetap Kuat

Meski terinspirasi kehidupan Singapura, karya Eko tetap membawa identitas Indonesia.

Ia memadukan batik, bordir dan wayang kulit dengan street art, karikatur, animasi dan komik.

BACA JUGA  Generasi Tamiya Turun Gunung, Mini 4WD Naik Kelas Jadi Cabang Olahraga

Karakter bertopeng yang menjadi salah satu ciri khasnya juga berkaitan dengan persoalan identitas—tentang bagaimana manusia menyembunyikan, membentuk atau mempertanyakan dirinya sendiri.

Gagasan tersebut terasa semakin relevan ketika kehidupan digital membuat seseorang dapat memilih bagaimana dirinya ingin ditampilkan kepada publik.

Ada Eksperimen di Balik Pameran

STRANGE MONSTER VIEW juga memperlihatkan proses eksperimentasi Eko bersama para ahli STPI.

Ia mengeksplorasi sejumlah teknik seni grafis, termasuk mokulito, yaitu teknik cetak menggunakan papan kayu sebagai medium litografi. Teknik lain yang digunakan antara lain screen printing, embossing, flocking dan pembuatan kertas.

STPI juga menghadirkan program publik berupa kelas mokulito, screen printing dan flocking serta tur pameran.

BACA JUGA  Boleh Anak Main Roblox, Asal Orang Tua Tahu Cara Mendampinginya dan Aturan Baru Ini

Monster yang Sebenarnya Dekat dengan Kita

Kekuatan STRANGE MONSTER VIEW terletak pada cara Eko membicarakan persoalan teknologi tanpa menggunakan bahasa yang rumit.

Monster-monsternya terlihat seperti makhluk imajinasi, tetapi gagasan di baliknya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: layar yang terus kita lihat, identitas yang terus kita bentuk dan hubungan sosial yang semakin banyak berlangsung secara digital.

Eko tidak sedang mengajak manusia memusuhi teknologi.

Ia justru mengajak penonton berhenti sejenak dan melihat kembali hubungan mereka dengan dunia digital.

Melalui pameran ini, seniman Indonesia tersebut membawa pertanyaan sederhana ke panggung seni internasional:

Ketika teknologi membuat manusia semakin mudah terhubung, apakah manusia juga masih mampu tetap terhubung dengan dirinya sendiri?

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending