Connect with us

Nasional

Financial Times London Soroti Ambisi Energi Prabowo , Indonesia Targetkan 100 GW Panel Surya dalam 3 Tahun

Published

on

KITASULSEL — JAKARTA – Ambisi Indonesia membangun energi surya dalam skala besar mulai mendapat sorotan internasional. Financial Times menyoroti target Presiden Prabowo Subianto untuk membangun 100 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dalam tiga tahun.

Target tersebut bukan angka kecil. Menurut Financial Times, kapasitas 100 GW itu setara sekitar 67 kali kapasitas tenaga surya Indonesia pada akhir 2025, sekaligus mendekati kapasitas seluruh sistem kelistrikan Indonesia saat ini.

Program tersebut secara resmi diluncurkan Prabowo pada 25 Agustus 2026 di Bali. Tahap awal dimulai dengan 14 proyek PLTS di enam provinsi dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp.

Pemerintah memperkirakan program 100 GW tersebut membutuhkan investasi sekitar US$73 miliar atau lebih dari Rp1.140 triliun. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut program ini juga berpotensi menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja serta menghasilkan efisiensi subsidi sekitar Rp73,9 triliun per tahun.

Mengapa Indonesia Mengejar Energi Surya?

Menurut Financial Times, salah satu alasan energi surya semakin menarik adalah perubahan ekonomi energi.

Biaya pembangkitan listrik tenaga surya telah turun sekitar 90 persen sejak 2010. Di Indonesia, laporan Institute for Energy Economics and Financial Analysis yang dikutip Financial Times memperkirakan biaya pembangkitan listrik dari batu bara berada di kisaran 10–15 sen dolar AS per kilowatt-jam, sekitar dua kali biaya tenaga surya.

BACA JUGA  Publik Dukung Swasembada Pangan saat Survei 100 Hari Kerja Prabowo

Turunnya harga baterai juga membuka peluang baru.

Kombinasi panel surya dan penyimpanan energi memungkinkan listrik yang dihasilkan pada siang hari disimpan untuk digunakan kemudian. Model ini berpotensi membantu sejumlah wilayah kepulauan yang selama ini bergantung pada pembangkit diesel.

Dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, energi surya dan baterai dapat menjadi alternatif untuk wilayah yang sulit dijangkau jaringan listrik utama.

Target 100 GW Tidak Semudah Memasang Panel

Di sinilah tantangan terbesar berada.

Financial Times mencatat dari 14 proyek yang diumumkan pada tahap awal, dua sudah beroperasi, enam sedang dibangun dan enam lainnya masih mencari investor.

Artinya, target 100 GW bukan sekadar persoalan memasang panel sebanyak mungkin.

Indonesia membutuhkan investasi besar, jaringan transmisi, sistem penyimpanan energi, kepastian regulasi serta kemampuan mengintegrasikan listrik surya ke sistem kelistrikan nasional.

BACA JUGA  Solusi untuk UMKM: Presiden Prabowo Subianto Teken PP Penghapusan Piutang Macet

Kesenjangan antara target besar dan kesiapan proyek inilah yang menjadi perhatian sejumlah pengamat energi.

Butuh Uang dan Investor dari Luar Negeri

Nilai investasi sekitar US$73 miliar membuat pembiayaan menjadi salah satu pekerjaan terbesar pemerintah.

Financial Times mengutip Randi Bachtiar dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis yang menilai Indonesia tidak akan mampu membiayai seluruh program tersebut hanya dari dalam negeri. Investasi asing dibutuhkan, sementara kepastian regulasi dan detail kebijakan menjadi faktor penting untuk menarik investor.

Sebagai gambaran, total investasi seluruh sektor ketenagalistrikan Indonesia—termasuk pembangkit, transmisi dan distribusi—pada tahun sebelumnya disebut hanya sekitar US$4,5 miliar.

Skala program 100 GW dengan demikian memang sangat besar dibandingkan kapasitas investasi sektor listrik Indonesia selama ini.

Ambisi Energi Bersih di Tengah Ketergantungan Batu Bara

Ada paradoks lain yang ikut disoroti.

Indonesia ingin mempercepat energi terbarukan, tetapi pada saat yang sama masih memiliki infrastruktur energi fosil yang besar. Bahkan, pembangunan pembangkit listrik berbasis batu bara untuk kebutuhan industri pengolahan nikel masih berlangsung.

BACA JUGA  Dana Efisiensi Penyelenggaraan Haji 2024 Mencapai Rp610 Miliar

Karena itu, transisi energi Indonesia tidak hanya membutuhkan penambahan panel surya.

Indonesia juga harus menentukan bagaimana energi terbarukan dapat benar-benar menggantikan sebagian ketergantungan terhadap pembangkit fosil.

Financial Times menilai pengalaman Indonesia memperlihatkan persoalan yang lebih luas dalam transisi energi global: janji membangun energi bersih bisa dibuat dengan cepat, tetapi membiayai dan menjalankannya membutuhkan waktu, kebijakan dan investasi yang jauh lebih besar.

100 GW, Mampukah Indonesia Membuktikannya?

Target Prabowo memberi Indonesia sebuah tantangan besar sekaligus peluang.

Jika berhasil, pembangunan 100 GW PLTS dapat memperbesar penggunaan energi terbarukan, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil di sejumlah wilayah, membuka investasi baru dan menciptakan jutaan lapangan kerja.

Namun, dunia kini tidak hanya akan melihat angka 100 GW.

Yang akan diperhatikan adalah bagaimana Indonesia membangun jaringan listriknya, mendatangkan investor, memastikan proyek benar-benar berjalan dan mengubah target tersebut menjadi listrik yang benar-benar digunakan masyarakat.

Indonesia sudah menetapkan angka yang sangat besar.

Kini tantangannya adalah membuktikan bahwa 100 GW bukan sekadar ambisi, tetapi benar-benar bisa menjadi salah satu lompatan energi terbesar Indonesia.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending