Connect with us

Nasional

WARNING! Bumi Makin Kritis, Ancaman Lingkungan Masuk ke Rumah dan Mengintai Keseharian Manusia

Published

on

KITASULSEL – MAKASSAR — Ancaman kerusakan lingkungan kini bukan lagi sekadar gambaran hutan yang terbakar, sungai yang tercemar, atau laut yang dipenuhi sampah. Bahayanya semakin dekat dengan kehidupan manusia, mulai dari udara yang dihirup, air yang digunakan, makanan yang dikonsumsi, hingga suhu panas yang mengganggu aktivitas di dalam rumah.

Peringatan ini bukan sekadar narasi untuk menggambarkan bumi yang sedang tidak baik-baik saja. Sejumlah laporan dan penelitian nasional maupun global memperlihatkan bahwa pencemaran, degradasi lahan, pemanasan global, dan kerusakan ekosistem telah menjadi persoalan serius yang berkaitan langsung dengan kesehatan, keselamatan, serta kehidupan ekonomi masyarakat.

Ironisnya, manusia membutuhkan alam untuk bertahan hidup, tetapi aktivitas manusia juga menjadi salah satu pendorong utama tekanan terhadap lingkungan. Ketika dampaknya semakin terasa, masyarakat tidak selalu memiliki kemampuan untuk menghindarinya.

Ancaman Sudah Masuk ke Rumah, Dimulai dari Udara

Udara yang tampak bersih belum tentu bebas dari pencemaran. Partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung, stroke, kanker paru, serta penyakit pernapasan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan polusi udara luar ruang menyebabkan sekitar 4,2 juta kematian dini secara global pada 2019. Jika polusi udara luar ruang dan polusi udara rumah tangga diperhitungkan bersama, keduanya dikaitkan dengan sekitar 6,7 juta kematian dini setiap tahun berdasarkan estimasi yang dipublikasikan WHO.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pencemaran udara bukan sekadar persoalan kabut atau bau yang mengganggu. Dampaknya dapat menyentuh kesehatan manusia, bahkan ketika sumber pencemaran berada jauh dari tempat tinggal mereka.

Sumber polusi antara lain emisi kendaraan, industri, pembakaran bahan bakar, pembakaran sampah, serta kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, menjaga kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan tindakan individu. Pengendalian emisi, pengawasan sumber pencemaran, dan kebijakan udara bersih juga menentukan tingkat perlindungan yang diterima masyarakat.

Karhutla di Indonesia, Ratusan Ribu Kasus Gangguan Pernapasan Dipantau

Ancaman tersebut terlihat nyata dalam situasi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Kementerian Kesehatan mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak karhutla hingga 12 Oktober 2026. Data tersebut dipantau untuk mengantisipasi peningkatan kasus dan memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Asap kebakaran mengandung PM2.5 dan zat berbahaya lain yang dapat memicu batuk, sesak napas, serta memperburuk asma.

Pemerintah juga melaporkan pengerahan 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan serta distribusi lebih dari 2,8 juta masker dari persediaan pemerintah pusat dan daerah. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit paru kronis termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap. <Cite refs={[“turn426367search3”]}/>

BACA JUGA  Menkes Tegaskan Kasus Covid-19 Yang Meningkat Tidak Mematikan

Angka tersebut perlu dibaca secara tepat: data itu merupakan jumlah kasus ISPA yang dipantau di provinsi terdampak, bukan bukti bahwa seluruh kasus secara individual telah dipastikan disebabkan oleh asap karhutla.

Namun, situasi ini tetap memperlihatkan besarnya beban kesehatan yang harus diantisipasi ketika kebakaran meluas. Ancaman lingkungan dapat mengganggu kegiatan belajar, pekerjaan, mobilitas, dan kehidupan keluarga, bahkan bagi masyarakat yang tidak tinggal tepat di lokasi kebakaran.

Sampah: Masalah Nasional yang Belum Tuntas

Selain polusi udara, sampah menjadi persoalan lingkungan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sampah yang tidak terkelola dapat menyumbat saluran drainase, menimbulkan bau, mencemari perairan, serta meningkatkan risiko paparan terhadap lingkungan yang tidak sehat.

Masalah ini bukan hanya soal perilaku membuang sampah sembarangan. Sistem pengangkutan, pemilahan, pengolahan, ketersediaan fasilitas, pembiayaan, dan pengawasan juga menentukan keberhasilan pengelolaan sampah.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada 27 Februari 2026 mengumumkan hasil penilaian kinerja pengelolaan sampah untuk 420 kabupaten/kota sepanjang 2025.

Hasil evaluasi tersebut menunjukkan tidak ada daerah yang meraih predikat Adipura Kencana maupun Adipura. Sebanyak 35 kabupaten/kota memperoleh predikat Sertifikat Menuju Kabupaten/Kota Bersih, sementara 253 daerah masuk kategori Dalam Pembinaan dan 132 daerah berada dalam kategori Dalam Pengawasan. Sebanyak 52 daerah dikecualikan dari penilaian karena terdampak bencana. <Cite refs={[“turn426367search4”]}/>

Temuan ini menjadi peringatan tentang pekerjaan besar yang masih harus diselesaikan dalam tata kelola persampahan nasional. Meski penilaian tersebut bukan berarti semua daerah memiliki kondisi yang sama, hasilnya memperlihatkan bahwa penguatan sistem pengelolaan sampah masih menjadi kebutuhan mendesak.

Di kota-kota besar, termasuk Makassar, persoalan sampah harus dilihat sebagai bagian dari kualitas hidup warga. Pembenahan tidak cukup dilakukan melalui kegiatan bersih-bersih sesaat, tetapi membutuhkan sistem yang konsisten dari rumah tangga hingga tempat pemrosesan akhir.

Bumi Semakin Panas, Rumah dan Aktivitas Manusia Ikut Terdampak

Peningkatan suhu bumi juga memperbesar ancaman terhadap kehidupan manusia. Panas ekstrem dapat mengganggu tidur, menurunkan produktivitas, meningkatkan risiko gangguan kesehatan, serta menambah kebutuhan pendinginan ruangan.

Laporan State of the Global Climate 2025 yang diterbitkan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 23 Maret 2026 mengonfirmasi bahwa 2015–2025 merupakan 11 tahun terpanas dalam catatan pengamatan. Tahun 2025 tercatat sebagai tahun terpanas kedua atau ketiga, dengan suhu rata-rata global sekitar 1,43 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1850–1900. <Cite refs={[“turn426367search2”]}/>

BACA JUGA  Menko Polkam Tegaskan Wacana Larangan Vape Hanya untuk yang Mengandung Narkotika

WMO juga melaporkan bahwa laut terus menyerap panas dan karbon dioksida. Dalam dua dekade terakhir, laut menyerap energi dalam jumlah sangat besar—sekitar 18 kali penggunaan energi tahunan manusia setiap tahun, menurut laporan tersebut. Pemanasan laut dapat memengaruhi ekosistem dan memperbesar tekanan terhadap kehidupan yang bergantung pada laut. <Cite refs={[“turn426367search2”]}/>

Dampak panas tidak dirasakan sama oleh semua orang. Rumah dengan perlindungan panas yang buruk, pekerja luar ruangan, masyarakat berpenghasilan rendah, serta kelompok rentan dapat menghadapi risiko yang lebih berat.

Meski demikian, tidak setiap kejadian panas, banjir, atau kekeringan dapat dikaitkan dengan perubahan iklim secara tunggal. Kondisi setempat, tata ruang, kualitas infrastruktur, dan faktor cuaca lainnya juga berperan. Yang menjadi perhatian adalah meningkatnya risiko ketika perubahan iklim bertemu dengan lingkungan yang tidak siap.

Degradasi Lahan Mengancam Jutaan Kehidupan

Kerusakan lingkungan tidak berhenti pada udara dan suhu. Lahan yang mengalami degradasi dapat kehilangan kemampuan untuk mendukung kehidupan, menjaga fungsi ekosistem, dan menopang produksi pangan.

Laporan Global Environment Outlook 7 dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), yang dirilis pada Desember 2025, memperkirakan 20–40 persen wilayah daratan dunia mengalami degradasi, dengan dampak terhadap sekitar tiga miliar orang.

Laporan yang disusun melalui kontribusi hampir 300 ilmuwan tersebut juga menyoroti keterkaitan antara krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi lahan, serta pencemaran dan sampah. Persoalan-persoalan itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat dan dapat memperbesar tekanan terhadap manusia serta ekosistem. <Cite refs={[“turn426367search1”]}/>

Ketika lahan rusak, dampaknya dapat menjalar pada produktivitas pertanian, ketersediaan air, habitat satwa, dan mata pencaharian masyarakat. Tingkat dampaknya berbeda menurut wilayah dan jenis kerusakan, tetapi skalanya menunjukkan bahwa degradasi lahan merupakan persoalan global yang memerlukan penanganan serius.

Laut Rusak, Pangan dan Kehidupan Pesisir Terancam

Laut juga menghadapi tekanan dari pemanasan, pencemaran, sampah plastik, dan kerusakan habitat. Bagi masyarakat pesisir, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan keindahan alam, melainkan berkaitan dengan sumber pangan dan penghidupan.

Kerusakan ekosistem laut dapat memengaruhi habitat berbagai spesies, sementara perubahan kondisi perairan dapat menambah tekanan terhadap sektor perikanan. Dampaknya terhadap hasil tangkapan dan harga pangan tidak selalu sama, karena turut dipengaruhi cuaca, pengelolaan sumber daya, distribusi, dan kondisi ekonomi.

Di Indonesia sebagai negara kepulauan, perlindungan ekosistem pesisir dan laut menjadi bagian penting dari ketahanan pangan serta perlindungan mata pencaharian masyarakat.

Pencemaran yang dibiarkan juga berpotensi menimbulkan biaya pemulihan lingkungan yang besar. Karena itu, mencegah kerusakan sering kali lebih masuk akal daripada menunggu sampai dampaknya meluas dan membutuhkan penanganan yang jauh lebih mahal.

BACA JUGA  Mentan Andi Amran Sulaiman Masuk Enam Besar Menteri Memuaskan era Prabowo – Gibran

Pembangunan untuk Siapa Jika Lingkungan Menjadi Korban?

Di tengah kebutuhan akan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, muncul pertanyaan yang tidak boleh dihindari: apakah suatu kegiatan benar-benar membawa keuntungan jika sebagian biaya kerusakan lingkungannya justru harus ditanggung masyarakat?

Keuntungan ekonomi dari suatu kegiatan tidak selalu menggambarkan seluruh dampaknya. Ketika air tercemar, masyarakat mungkin harus mencari sumber air alternatif. Ketika banjir merusak rumah, keluarga menanggung biaya perbaikan. Ketika polusi memburuk, risiko kesehatan dan kebutuhan pelayanan medis dapat meningkat.

Beban tersebut tidak selalu tercatat sebagai biaya langsung dari aktivitas yang menghasilkan pencemaran. Sebagian justru tersebar ke rumah tangga, pemerintah, dan generasi berikutnya.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi perlu disertai pengawasan lingkungan, keterbukaan data, kajian dampak yang dapat diperiksa, serta penegakan hukum yang konsisten. Pembangunan dan perlindungan lingkungan seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua kepentingan yang selalu bertentangan.

WARNING! Jangan Tunggu Kerusakan Menjadi Hal Biasa

Ancaman terbesar bukan hanya lingkungan yang semakin rusak, tetapi juga kemungkinan masyarakat mulai menganggap udara kotor, sampah menumpuk, suhu panas, dan gangguan lingkungan sebagai keadaan normal.

Ketika kerusakan dianggap biasa, dorongan untuk memperbaiki keadaan dapat melemah. Padahal, berbagai laporan global dan data nasional menunjukkan bahwa persoalan lingkungan memiliki kaitan nyata dengan kesehatan, ketahanan pangan, kehidupan ekonomi, serta keselamatan masyarakat.

Pemerintah perlu memperkuat kebijakan dan pengawasan. Pelaku usaha harus bertanggung jawab atas dampak kegiatannya. Masyarakat juga perlu mengurangi kebiasaan yang memperburuk pencemaran dan mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Namun, tanggung jawab tidak boleh berhenti pada slogan, kampanye, atau seremoni. Keberhasilannya harus diukur melalui kualitas udara dan air, berkurangnya pencemaran, membaiknya pengelolaan sampah, serta perlindungan nyata terhadap masyarakat yang paling rentan.

Pada akhirnya, rumah seharusnya menjadi tempat berlindung. Namun, ketika udara tercemar, air terancam, suhu meningkat, dan lingkungan sekitar memburuk, ancaman itu dapat menembus batas rumah dan mengintai hampir setiap aspek kehidupan.

WARNING! Bumi yang makin kritis bukan sekadar persoalan alam yang sedang rusak. Ini adalah peringatan bagi manusia yang setiap hari bergantung pada lingkungan yang sama. Jika kerusakan terus dibiarkan, pertanyaannya bukan lagi apakah manusia akan merasakan dampaknya, melainkan seberapa besar biaya yang harus dibayar dan siapa yang paling berat menanggung akibatnya.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending