Connect with us

PDAM Makassar

Air Bersih Makin Sulit, Warga Sulsel Keluhkan Pasokan hingga Air Berbau

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR – Persoalan air bersih di Sulawesi Selatan semakin menjadi perhatian. Di tengah kekeringan yang membuat sumber air menyusut, sebagian warga juga mengeluhkan kondisi air yang mereka terima, mulai dari pasokan yang tidak lancar hingga air yang disebut berbau dan kurang layak digunakan.

Di Makassar, status tanggap darurat kekeringan telah ditetapkan sejak 7 Agustus 2026. Sebanyak 47.252 jiwa atau 13.929 kepala keluarga terdampak di enam kecamatan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang dan Manggala.

Kondisi serupa terjadi di Maros. Empat kecamatan, yakni Lau, Bontoa, Maros Baru dan Marusu, masuk zona merah kekeringan dengan lebih dari 6.700 warga terdampak.

BACA JUGA  Dukung Penyelenggaraan Pilkada Serentak 2024 Aman dan Damai, Pangdam XIV/Hasanuddin Gelar Silaturahmi Dengan Komponen Masyarakat Sulsel

Persoalan kemudian menjadi semakin kompleks ketika sumber air baku PDAM ikut mengalami penurunan debit. Lekopancing, salah satu sumber air baku PDAM Tirta Bantimurung Maros, dilaporkan terus menyusut di tengah minimnya hujan.

Akibat kondisi tersebut, distribusi air menggunakan mobil tangki menjadi salah satu upaya memenuhi kebutuhan warga di wilayah terdampak.

Namun, persoalan yang dirasakan masyarakat bukan hanya soal ada atau tidaknya air. Sejumlah warga juga menyampaikan keluhan mengenai kualitas air yang mereka terima. Air yang keluar dari saluran pada waktu tertentu disebut berbau, keruh, atau kurang nyaman digunakan, sehingga sebagian warga memilih menunggu air lebih jernih atau mencari sumber air lain.

BACA JUGA  Satgas PASTI Ingatkan Warga tak Terjebak Pinjol Ilegal

Keluhan tersebut tentu perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan kualitas secara resmi. Sebab, di tengah kondisi sumber air yang semakin terbatas, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa air yang sampai ke rumah tidak hanya tersedia, tetapi juga memenuhi standar kelayakan.

Kekeringan akhirnya menghadirkan persoalan berlapis: sumber air menyusut, pasokan terbatas, sementara warga tetap membutuhkan air setiap hari.

Jika kondisi ini berlangsung lebih lama, kebutuhan air bersih masyarakat berpotensi semakin besar. Pemerintah dan pengelola layanan air pun dituntut memastikan distribusi berjalan sekaligus menjawab keluhan warga mengenai kualitas air.

Karena bagi masyarakat, air bersih bukan sekadar soal mengalir atau tidak. Air yang sampai ke rumah juga harus aman dan layak digunakan.

BACA JUGA  Wamendagri Bima Arya Pimpin Rakor Pemerintahan se-Wilayah Sulawesi 2025 di Makassar
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending