Connect with us

Business

Prabowo Percepat PLTS 100 GW, Targetkan Bangun 30 GW pada 2026 dan Pensiunkan PLTD 13 GW

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendorong percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas hingga 100 gigawatt (GW) sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional.

Pada tahun 2026, pemerintah menargetkan pembangunan PLTS dengan kapasitas mencapai 30 GW. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga berencana menghentikan secara bertahap atau melakukan pensiun dini terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sebesar 13 GW yang akan digantikan dengan pembangkit berbasis energi surya.

Komitmen tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato Nota Keuangan dan pengantar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027.

“Tahun ini kita akan membangun 30 gigawatt pembangkit listrik tenaga surya, dan segera menghentikan 13 gigawatt pembangkit listrik tenaga diesel,” ujar Prabowo.

Menurut Presiden, Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar karena mendapat paparan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Potensi tersebut dinilai harus dimanfaatkan secara maksimal, terutama untuk menjawab kebutuhan listrik masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah terpencil.

BACA JUGA  BI Siapkan Transformasi Pengelolaan Rupiah di Tengah Pesatnya Transaksi Digital

Prabowo menilai, ketergantungan sejumlah daerah terhadap pembangkit diesel yang menggunakan bahan bakar minyak sudah saatnya dikurangi. Selama ini, distribusi BBM ke wilayah-wilayah terpencil membutuhkan biaya besar karena harus diangkut menggunakan kapal.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak efisien jika dibandingkan dengan pemanfaatan sumber energi yang tersedia secara melimpah di dalam negeri.

“Indonesia dianugerahi sinar matahari hampir sepanjang tahun. Tidak masuk akal jika masyarakat di pulau-pulau terpencil harus menunggu kapal membawa BBM solar untuk memperoleh listrik dengan biaya yang tidak efisien,” demikian penekanan Presiden.

Setiap Desa Didorong Memiliki PLTS

Presiden Prabowo juga memaparkan gagasannya agar pembangunan PLTS dapat menjangkau hingga ke tingkat desa. Ia menilai, idealnya setiap desa di Indonesia dapat memiliki pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas minimal 1 megawatt (MW).

BACA JUGA  IHSG Diproyeksi Bergerak Sideways Hari Ini, Investor Diminta Cermati Tekanan Jual

Kapasitas tersebut bahkan dapat ditingkatkan sesuai dengan ketersediaan lahan dan kebutuhan energi di masing-masing wilayah.

Langkah itu diharapkan mampu memperluas akses listrik, meningkatkan keandalan pasokan energi, sekaligus memperkuat kemandirian daerah, terutama di kawasan yang selama ini masih bergantung pada pasokan BBM untuk pembangkitan listrik.

Program PLTS skala besar tersebut juga dipandang sebagai bagian dari transformasi sistem energi nasional dari ketergantungan terhadap energi fosil menuju pemanfaatan energi baru dan terbarukan.

Potensi Hemat Devisa dan Biaya Listrik

Selain meningkatkan ketahanan energi, pembangunan PLTS 100 GW diyakini akan memberikan dampak signifikan terhadap penghematan anggaran negara.

Penggantian PLTD dengan energi surya diharapkan dapat mengurangi kebutuhan impor bahan bakar minyak, khususnya solar yang selama ini digunakan untuk mengoperasikan pembangkit diesel.

BACA JUGA  Bank Mandiri Bukukan Laba Rp30,4 Triliun pada Semester I 2026, Tumbuh 24,4 Persen

Di sisi lain, penggunaan energi surya juga diproyeksikan mampu menekan Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik nasional.

Prabowo mengungkapkan, berdasarkan perhitungan pemerintah, pembangunan PLTS dengan kapasitas mencapai 100 GW berpotensi menghasilkan penghematan yang sangat besar bagi negara setiap tahunnya.

“Menko Perekonomian telah menghitung, dengan PLTS 100 gigawatt, negara akan menghemat setidaknya Rp73,9 triliun setiap tahun dari penurunan biaya pokok produksi listrik kita,” tegas Prabowo.

Dengan target pembangunan 30 GW PLTS pada 2026 dan penghentian bertahap 13 GW PLTD, pemerintah menunjukkan arah kebijakan energi yang semakin menitikberatkan pada sumber energi bersih, efisien, dan tersedia secara melimpah di dalam negeri.

Program tersebut diharapkan tidak hanya menekan biaya penyediaan listrik, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, serta membawa listrik yang lebih andal dan terjangkau hingga ke pulau-pulau terpencil Indonesia.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending