Entertainment
Riset Ungkap Fakta Mengejutkan , Anak yang Diberi Waktu Bermain Justru Lebih Siap Belajar
KITASULSEL — MAKASAR — Selama ini waktu bermain anak sering dianggap sebagai kegiatan yang bisa dikurangi ketika sekolah atau orang tua ingin menambah waktu belajar. Namun, para ahli justru kembali menegaskan bahwa bermain dan istirahat memiliki peran penting dalam membantu anak berkembang dan kembali siap menerima pelajaran.
American Academy of Pediatrics (AAP) memperbarui kebijakannya mengenai recess atau waktu istirahat dan bermain di sekolah pada Mei 2026. AAP menyebut recess berperan dalam perkembangan fisik, sosial, emosional dan kognitif anak serta membantu menjaga konsentrasi dan mengelola stres.
Artinya, ketika anak meninggalkan meja belajar untuk bermain, bergerak atau berbicara dengan teman, mereka sebenarnya tidak sedang membuang waktu.
Mereka sedang memberi kesempatan kepada tubuh dan pikiran untuk beristirahat sebelum kembali belajar.
Bermain Bantu Anak Kembali Fokus
Menurut AAP, jeda dari aktivitas akademik memberi anak kesempatan melakukan aktivitas fisik, bermain bebas, bersosialisasi hingga mendapatkan waktu tenang.
Guru dan peneliti juga melaporkan adanya perbaikan perhatian dan perilaku setelah siswa kembali ke kelas usai mendapatkan waktu istirahat. Penelitian yang dirujuk AAP menunjukkan aktivitas fisik juga dapat mendukung perhatian, fungsi eksekutif, pemrosesan informasi dan daya ingat.
Namun, bukan berarti semakin lama anak bermain, semakin tinggi nilai akademiknya.
Pesan utamanya adalah keseimbangan. Anak membutuhkan waktu untuk belajar, bergerak, beristirahat dan bersosialisasi agar proses perkembangannya berlangsung secara menyeluruh.
Bukan Sekadar Berlari
Recess tidak selalu berarti olahraga atau permainan fisik. Anak dapat bermain dalam kelompok, melakukan aktivitas yang lebih tenang, berbicara dengan teman atau memilih sendiri kegiatan yang mereka sukai.
Saat bermain bersama teman, anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, bergantian, menyelesaikan konflik, memimpin dan mengendalikan emosi.
Keterampilan tersebut tidak selalu bisa diperoleh hanya melalui buku pelajaran. Karena itu, bermain juga menjadi bagian dari proses pembentukan kemampuan sosial dan emosional anak.
Anak Besar Juga Butuh Jeda
Kebutuhan terhadap waktu istirahat tidak berhenti ketika anak semakin besar.
AAP merekomendasikan recess berkualitas untuk siswa mulai taman kanak-kanak hingga kelas 12. Bentuk aktivitasnya dapat menyesuaikan usia, tetapi prinsipnya tetap sama: anak membutuhkan jeda dari tuntutan akademik untuk mengurangi stres dan mengembalikan fokus.
Sejumlah penelitian yang dirujuk AAP menunjukkan bahwa beberapa kali jeda dengan total setidaknya sekitar 20 menit setiap hari dapat memberikan manfaat kognitif, fisik dan sosial.
AAP juga menekankan bahwa recess sebaiknya menjadi bagian yang terlindungi dalam jadwal sekolah dan tidak digunakan sebagai hukuman atau dikurangi hanya untuk menambah waktu akademik.
Bagaimana dengan Anak di Indonesia?
Pesan ini relevan bagi orang tua di Indonesia. Setelah sekolah, sebagian anak masih harus mengerjakan pekerjaan rumah, mengikuti les atau belajar kembali di rumah. Ketika jadwal semakin padat, waktu bermain sering menjadi bagian pertama yang dikurangi.
Padahal, memberikan waktu bermain bukan berarti mengabaikan pendidikan.
Anak tetap membutuhkan matematika, membaca, sains dan berbagai keterampilan akademik. Tetapi mereka juga membutuhkan kesempatan untuk bergerak, bersosialisasi, beristirahat dan belajar mengelola diri.
Karena itu, pertanyaan bagi orang tua seharusnya bukan hanya:
“Berapa lama anak belajar hari ini?”
Tetapi juga:
“Apakah anak sudah cukup bergerak, bermain dan beristirahat?”
Recess juga berbeda dengan pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani merupakan bagian dari pembelajaran, sementara recess memberi ruang bagi anak untuk bermain dan bersosialisasi secara lebih bebas. Keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Pada akhirnya, belajar tidak selalu berarti duduk diam di depan buku.
Ketika anak bermain, mereka belajar berkomunikasi. Ketika bergerak, tubuh dan otak ikut bekerja. Ketika menyelesaikan perselisihan dengan teman, mereka belajar mengendalikan emosi dan mencari solusi.
Jadi, bermain bukan lawan dari belajar. Bermain adalah salah satu bagian yang membantu anak tumbuh dan kembali siap belajar.
Anak memang membutuhkan pendidikan.
Tetapi mereka juga membutuhkan waktu untuk berlari, bermain, tertawa, bersosialisasi dan menjadi anak-anak.
-
Nasional1 tahun agoAndi Syakira Harumkan Nama Sidrap, Lolos ke Panggung Utama Dangdut Academy 7 Indosiar,Bupati SAR:Kita Support Penuh!
-
3 tahun agoInformasi Tidak Berimbang,Dewan Pengurus KKS Kairo Mesir Keluarkan Rilis Kronologi Kejadian di Mesir
-
Politics2 tahun agoIndo Barometer:Isrullah Ahmad -Usman Sadik Pepet Budiman-Akbar,IBAS-Puspa Tak Terkejar
-
2 tahun agoTangis Haru Warnai Pelepasan Status ASN Hj Puspawati Husler”Tetaplah Kuat Kami Bersamamu”
-
3 tahun agoVideo Menolak Berjabat Tangan Dengan Seorang Warga Viral ,Ketua DPRD Luwu Timur Dinilai Tidak Mencerminkan Diri Sebagai Wakil Rakyat
-
3 tahun agoPj Gubernur Bahtiar Paparkan Rencana Pembangunan Sulsel di Depan Presiden Jokowi
-
4 tahun agoDari Kotamobagu, BMR Anies Bertekat Menangkan Anies Baswedan*
-
2 tahun agoDuet Birokrat dan Legislatif, NasDem Usung Syahar-Kanaah di Pilkada Sidrap










You must be logged in to post a comment Login