Connect with us

Ekonomi

Rumput Laut Sulsel Mulai Diburu Australia, Bukan untuk Dimakan tapi Jadi Bahan Plastik Masa Depan

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR – Selama ini rumput laut Sulawesi Selatan lebih sering dikenal sebagai komoditas hasil laut yang dikeringkan lalu dijual.

Namun, ceritanya mulai berubah.

Perusahaan bioteknologi asal Australia, Uluu, kini menggandeng pembudi daya dan mitra lokal di Sulawesi Selatan untuk membangun rantai pasok rumput laut yang dapat ditelusuri dan tersertifikasi.

Tujuannya bukan sekadar memenuhi kebutuhan bahan baku industri, tetapi mengembangkan material berbasis rumput laut sebagai alternatif plastik berbahan bakar fosil.

Langkah tersebut dilakukan seiring pendirian PT Uluu Solusi Indonesia sebagai bagian dari ekspansi perusahaan di Indonesia.

Bagi Sulsel, perkembangan ini menarik karena rumput laut perlahan masuk ke pembicaraan yang jauh lebih besar: bagaimana hasil laut bisa diolah menjadi material bernilai tinggi untuk kebutuhan masa depan.

Dari laut Sulsel menuju pasar global

Uluu telah melakukan pengiriman perdana rumput laut yang sepenuhnya tertelusur dari mitra lokal di Sulawesi Selatan.

BACA JUGA  IHSG Diprediksi Bergerak Sideways Hari Ini, Investor Cermati Data Cadangan Devisa dan Ekonomi Global

Prosesnya tidak berhenti pada saat rumput laut dipanen.

Asal-usul dan perjalanan rumput laut dicatat secara digital, mulai dari pembudi daya hingga proses pengolahan dan pengiriman. Sistem tersebut dikembangkan bersama mitra teknologi rantai pasok untuk memastikan bahan baku yang digunakan dapat diketahui sumbernya.

Bagi industri global, ketertelusuran seperti ini semakin penting karena konsumen dan pasar mulai menuntut produk yang tidak hanya murah, tetapi juga memiliki proses produksi yang bertanggung jawab.

Dengan sistem tersebut, perjalanan rumput laut dari Sulsel menuju pasar internasional tidak lagi sekadar soal berapa ton yang dikirim, tetapi juga dari mana rumput laut itu berasal dan bagaimana proses budidayanya dilakukan.

Luwu juga masuk dalam pengembangan

Pengembangan tersebut tidak hanya berlangsung di tingkat perdagangan.

BACA JUGA  BPS: 21 Provinsi Catat Penurunan IPH pada Awal Agustus 2026

Uluu bersama mitranya juga menjalankan Aquaculture Improvement Program (AIP) di Luwu, Sulawesi Selatan, melalui Seafood Savers, sebuah inisiatif WWF-Indonesia.

Program ini diarahkan untuk memperbaiki praktik budidaya dan sistem pengelolaan agar dapat memenuhi standar rumput laut ASC-MSC sekaligus membantu pemasok menuju proses sertifikasi.

Targetnya cukup besar.

Uluu ingin mengembangkan rantai pasok rumput laut bersertifikat ASC-MSC pertama di Indonesia.

Jika target tersebut tercapai, rumput laut dari Indonesia bukan hanya memiliki pasar, tetapi juga memiliki standar dan sistem ketertelusuran yang lebih kuat untuk masuk ke rantai pasok global.

Peluang baru bagi pembudi daya

Bagi pembudi daya, perubahan ini bisa membuka peluang yang lebih besar.

Selama ini nilai ekonomi rumput laut sering berhenti pada produk mentah atau setengah jadi. Padahal, komoditas tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, termasuk material untuk industri.

BACA JUGA  Kementerian UMKM Tegaskan KUR hingga Rp100 Juta Tanpa Jaminan Tambahan, Masyarakat Diminta Lapor Jika Ada Pungutan

Sejumlah peneliti sebelumnya juga menyoroti pentingnya hilirisasi agar keuntungan dari industri rumput laut tidak hanya terkonsentrasi di bagian hilir rantai pasok.

Karena itu, masuknya perusahaan bioteknologi seperti Uluu ke Sulsel menjadi menarik untuk dilihat bukan sekadar sebagai ekspansi bisnis asing.

Ini juga menjadi pertanyaan baru bagi daerah: bisakah rumput laut Sulsel berhenti dijual sebagai bahan mentah dan mulai menjadi bagian dari industri masa depan?

Jika berhasil, tanaman laut yang selama ini tumbuh di pesisir Sulsel bisa memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang—dari tambak dan laut, menuju laboratorium, industri teknologi, hingga menjadi bagian dari upaya dunia mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbasis fosil.

Dan kali ini, rumput laut Sulsel tidak hanya bicara soal makanan atau ekspor. Ia mulai bicara tentang masa depan.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending