Connect with us

NEWS

Keteladanan Nasaruddin Umar dan Masa Depan Pendidikan Madrasah: Pesan Dr Bunyamin dari Palu

Published

on

KITASULSEL—PALU — Tenaga Ahli Menteri Agama RI Bidang Kerja Sama Luar Negeri, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, Lc., MA., memberikan penguatan kepada jajaran tenaga pendidik dan kependidikan Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah, Senin (26/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Mandua, Palu, tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran guru madrasah dalam membangun karakter generasi masa depan melalui pendidikan agama yang benar, moderat, dan berlandaskan nilai-nilai cinta kemanusiaan.

Dalam arahannya, Dr. Bunyamin menekankan pentingnya menjadikan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., sebagai salah satu figur inspiratif dan referensi dalam pengembangan dunia pendidikan, khususnya di lingkungan madrasah.

Menurutnya, sosok Menteri Agama tidak hanya menjadi pemimpin di lingkungan kementerian, tetapi juga menghadirkan keteladanan dan gagasan yang relevan untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini.

“Sebagai guru, tentu kita memiliki banyak referensi. Namun, bagi saya, Prof. Nasaruddin Umar merupakan salah satu figur pendidik yang layak menjadi referensi bersama. Pemikiran dan keteladanan beliau penting kita pedomani dalam membina murid-murid di madrasah,” ujar Dr. Bunyamin.

Ia menegaskan, guru memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, empati, toleransi, serta pemahaman agama yang benar sejak usia dini.

Kurikulum Cinta Mendapat Perhatian di Forum Internasional

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Bunyamin juga mengangkat pentingnya Kurikulum Berbasis Cinta yang dipopulerkan Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar sebagai salah satu pendekatan strategis dalam membangun pendidikan keagamaan yang humanis dan berorientasi pada perdamaian.

BACA JUGA  Tamsil Linrung Serukan Soliditas Dukung Visi Presiden Prabowo Pada Mukernas Wahdah Islamiyah

Ia mengungkapkan, gagasan tersebut telah disuarakan dalam berbagai forum, termasuk forum internasional di kawasan ASEAN yang berlangsung di Kamboja.

Dalam forum tersebut, menurut Dr. Bunyamin, muncul kesepahaman di antara para pembicara mengenai pentingnya pendidikan agama yang benar sejak dini sebagai fondasi membangun masyarakat yang damai.

Bagi Dr. Bunyamin, perhatian terhadap gagasan tersebut di tingkat internasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar Kementerian Agama. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan agama yang menanamkan kasih sayang, penghormatan terhadap sesama, dan nilai-nilai kemanusiaan memiliki relevansi universal.

“Kita sebagai guru dan tenaga pendidik patut berbangga. Gagasan yang dirintis oleh Bapak Menteri Agama melalui Kurikulum Berbasis Cinta telah menjadi bagian dari pembicaraan di forum internasional. Ini menunjukkan bahwa pendidikan yang mengedepankan cinta dan pemahaman agama yang benar sangat penting bagi masa depan masyarakat dunia,” jelasnya.

Ia mengajak para guru madrasah untuk tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi menerjemahkan nilai-nilai Kurikulum Cinta ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari.

Menurutnya, cinta dalam pendidikan bukan sekadar ungkapan, melainkan sikap nyata dalam mendidik, membimbing, menghargai perbedaan, membangun kedisiplinan, serta memperlakukan setiap peserta didik dengan penuh tanggung jawab.

BACA JUGA  Visa Haji Jamaah Annur Maarif 100 Persen Selesai, Kemenhaj Sulsel Pastikan Kepastian Berangkat

Konsisten Menyosialisasikan Kurikulum Cinta ke Berbagai Daerah

Penguatan di Palu tersebut menjadi bagian dari upaya Dr. Bunyamin dalam menyosialisasikan dan memperluas pemahaman mengenai Kurikulum Berbasis Cinta di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, ia terus memaparkan bahwa gagasan Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar tersebut perlu dipahami sebagai pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, keteladanan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui capaian akademik. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membentuk manusia yang memiliki kedalaman spiritual, kecerdasan intelektual, kematangan emosional, serta kepedulian sosial.

Karena itu, guru madrasah harus menjadi pelaku utama dalam menghadirkan nilai-nilai tersebut di ruang kelas, lingkungan sekolah, maupun kehidupan bermasyarakat.

Dr. Bunyamin juga menghubungkan peran strategis guru dengan agenda Asta Protas Kementerian Agama. Ia menilai, keberhasilan program-program prioritas kementerian sangat bergantung pada keterlibatan aktif para pendidik dalam menerjemahkan arah kebijakan menjadi praktik nyata.

Ia mengingatkan bahwa agenda Kementerian Agama dalam mempersiapkan umat masa depan membutuhkan fondasi pendidikan yang kuat, terutama melalui penanaman pemahaman agama yang benar sejak dini.

“Peran guru sangat menentukan dalam menyukseskan program prioritas Kementerian Agama. Apa yang kita tanamkan kepada anak-anak hari ini akan menentukan bagaimana wajah masyarakat kita pada masa mendatang. Karena itu, pendidikan agama harus menghadirkan pemahaman yang benar sekaligus membangun cinta, kedamaian, dan penghormatan terhadap sesama,” tegasnya.

BACA JUGA  DPR Dorong BNPB Pimpin Pemetaan Ancaman El Nino 2026, Antisipasi Karhutla hingga Krisis Pangan

Guru sebagai Penggerak Perubahan

Kegiatan penguatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah, Kepala Bagian Tata Usaha, sejumlah kepala bidang di lingkungan Kanwil Kemenag, jajaran Kantor Kementerian Agama Kota Palu, kepala seksi, kepala madrasah, serta para guru madrasah di wilayah Mandua, Kota Palu.

Para peserta mengikuti pemaparan dengan saksama, terutama terkait arah kebijakan Kementerian Agama dan relevansinya terhadap penguatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru semakin memahami pentingnya keteladanan, penguatan karakter, serta penerapan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses pembelajaran.

Bagi Dr. Bunyamin, guru bukan sekadar penyampai pengetahuan, melainkan pembentuk karakter dan penentu arah peradaban. Dari ruang-ruang kelas madrasah, nilai kejujuran, kasih sayang, toleransi, dan kedamaian harus terus ditumbuhkan agar menjadi bagian dari kepribadian generasi mendatang.

Ia meyakini, ketika guru mampu menghadirkan agama dengan pemahaman yang benar dan pendekatan yang penuh cinta, madrasah akan semakin berperan sebagai ruang pembentukan generasi yang berilmu, berakhlak, serta mampu merawat harmoni di tengah keberagaman.

Dengan demikian, Kurikulum Berbasis Cinta tidak berhenti sebagai gagasan kebijakan, tetapi tumbuh menjadi gerakan pendidikan yang hidup dalam keseharian guru dan peserta didik, sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar Kementerian Agama dalam menyiapkan umat masa depan yang damai dan bermartabat.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending