Connect with us

NEWS

Mentan Amran Sebut Stok Beras Nasional Aman hingga Juli 2027, Total Cadangan Pangan Capai 25 Juta Ton

Published

on

KITASULSEL–JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memperkirakan ketersediaan pangan nasional, khususnya beras, mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Juli 2027. Perkiraan tersebut didasarkan pada total kekuatan pangan Indonesia yang disebut mencapai sekitar 25 juta ton.

Hal itu disampaikan Amran kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026). Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa perhitungan tersebut mencakup stok beras di gudang, estimasi produksi tanaman yang masih berada di lahan, serta persediaan di sektor hotel, restoran, dan rumah tangga.

Amran menyebut kebutuhan beras nasional mencapai sekitar 2,5 juta ton per bulan. Dengan total kekuatan pangan yang diperkirakan mencapai 25 juta ton, pemerintah menilai ketersediaan tersebut dapat menopang kebutuhan hingga sekitar 10 bulan.

“(Stok pangan) total 25 juta ton. Kebutuhan per bulan itu 2,5 juta ton. Artinya apa? Kalau 25 juta ton bagi 2,5 itu 10 bulan, sampai bulan Juli tahun depan stok kita aman,” kata Amran dalam paparannya di Istana Kepresidenan, sebagaimana dikutip Jumat (23/10/2026).

Meski demikian, angka 25 juta ton tersebut merupakan perhitungan total kekuatan pangan berdasarkan sejumlah komponen, bukan semata-mata beras yang tersimpan di gudang. Ketersediaan aktual tetap bergantung pada realisasi produksi, distribusi, serta kebutuhan konsumsi masyarakat.

Stok Beras di Gudang Disebut Tertinggi Sepanjang Sejarah

Dalam kesempatan itu, Amran mengungkapkan stok beras di gudang pada Oktober 2026 mencapai 4,56 juta ton. Ia menyebut angka tersebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.

Bahkan, menurutnya, stok beras nasional pernah menyentuh angka 5,37 juta ton.

BACA JUGA  Pemprov Sulsel Ikuti Uji Publik Keterbukaan Informasi Publik

Selain stok yang tersedia di gudang, pemerintah turut memperhitungkan potensi produksi dari tanaman yang masih tumbuh di lahan atau standing crop. Komponen ini diperkirakan mencapai 10 juta ton.

Amran juga memasukkan persediaan pangan yang berada di sektor hotel, restoran, dan rumah tangga dalam perhitungan kekuatan pangan nasional.

“Kemudian horeka, hotel, rumah tangga, dan seterusnya, itu ada 10 juta ton. Di gudang, 4,5 juta ton. Total 25 juta ton,” lanjutnya.

Perhitungan tersebut menjadi dasar pemerintah dalam memperkirakan kemampuan pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam beberapa bulan mendatang.

Namun, penghitungan stok dan proyeksi produksi perlu dibedakan karena hasil panen dari tanaman yang masih berada di lahan belum seluruhnya menjadi persediaan siap konsumsi. Ketersediaan beras bagi masyarakat juga dipengaruhi kelancaran panen, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi ke berbagai daerah.

Mentan Klaim Kesejahteraan Petani Meningkat

Selain memaparkan kondisi stok pangan, Amran turut menyoroti perkembangan kesejahteraan petani yang tercermin dari kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP).

Ia menyebut NTP meningkat dari level 48 menjadi 131. Menurutnya, peningkatan tersebut berkaitan dengan kebijakan pemerintah menurunkan harga pupuk sebesar 20 persen serta menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan beras.

“Karena kebijakan Bapak Presiden, harga pupuk turun 20 persen dinikmati 115 juta petani Indonesia. Kemudian HPP, harga gabah beras naik, sehingga sekarang NTP-nya, Nilai Tukar Petani 131, dan ini tertinggi sejak ’92 bahkan sejak merdeka,” tutur Amran.

NTP merupakan indikator yang digunakan untuk melihat perbandingan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. Perubahan indikator ini dapat memberikan gambaran mengenai daya beli petani, meskipun tidak secara langsung menggambarkan tingkat pendapatan seluruh petani secara merata.

BACA JUGA  KSAD Maruli Tegaskan Tindak Tegas Oknum TNI yang Salahgunakan Fasilitas, Rumah Dinas di Cijantung Diduga Jadi Markas Judol

Pemerintah menilai penurunan harga pupuk dan penyesuaian HPP menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian, terutama melalui pengendalian biaya produksi dan peningkatan nilai hasil panen.

PDB Pertanian Tumbuh 5,74 Persen

Amran juga memaparkan kinerja sektor pertanian dari sisi ekonomi. Ia menyebut produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh 5,74 persen, yang diklaim sebagai pertumbuhan tertinggi dalam periode 2001–2025.

Selain itu, nilai ekspor sektor pertanian dilaporkan meningkat Rp166 triliun, sedangkan nilai impor turun Rp41 triliun.

“Totalnya 208 triliun. Itu nilai tambah yang didapatkan petani karena harga pupuk turun 20 persen, HPP dinaikkan oleh Bapak Presiden,” sebut Amran.

Paparan tersebut menyoroti upaya pemerintah memperkuat produksi dalam negeri sekaligus meningkatkan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional.

Peningkatan produksi dan penguatan rantai pasok menjadi aspek penting dalam menjaga ketahanan pangan. Di sisi lain, keberlanjutan capaian tersebut juga membutuhkan dukungan terhadap produktivitas lahan, ketersediaan sarana produksi, serta akses pasar bagi hasil pertanian.

Pemerintah Siapkan Pengembangan Dua Juta Hektare Lahan Pertanian

Untuk memperkuat kapasitas produksi pangan dalam jangka panjang, Amran menyampaikan rencana pengembangan lahan pertanian seluas 2 juta hektare di lahan mineral.

Menurutnya, pengembangan tersebut diarahkan untuk mendukung produksi berbagai komoditas pangan, termasuk beras, jagung, dan kedelai, sesuai kebutuhan nasional.

Ia memperkirakan pengembangan lahan itu dapat mendukung penyediaan pangan bagi kebutuhan hingga 500 juta penduduk.

“Beras, jagung, kedelai, apa saja tanaman pangan yang kita butuhkan, itu kita tanam. Jadi yang mana minus, ini yang kita tanam nanti ke depan,” lanjutnya.

BACA JUGA  Kemensos Buka 853 Formasi PPPK Guru 2025, Ini Syarat dan Jadwal Lengkapnya

Amran juga mengungkapkan telah berkoordinasi dengan Menteri Pertahanan dan TNI untuk mempersiapkan tahap awal penggarapan lahan seluas 500.000 hektare.

Rencana tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas kapasitas produksi dan mengantisipasi kebutuhan pangan pada masa mendatang.

Meski demikian, pelaksanaan pengembangan lahan dalam skala besar membutuhkan perencanaan yang matang, mulai dari kesesuaian lahan, ketersediaan air, infrastruktur pertanian, tenaga kerja, hingga kepastian distribusi hasil panen.

Ketahanan Pangan Bergantung pada Produksi dan Distribusi

Perkiraan ketersediaan pangan hingga Juli 2027 yang disampaikan Mentan Amran menjadi gambaran optimisme pemerintah terhadap kondisi pasokan nasional. Dengan total kekuatan pangan yang diperkirakan mencapai 25 juta ton, pemerintah menilai kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, pemantauan berkala tetap diperlukan untuk memastikan proyeksi tersebut sesuai dengan perkembangan di lapangan. Realisasi panen, perubahan kebutuhan konsumsi, serta kelancaran distribusi menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi ketersediaan pangan di berbagai wilayah.

Pemerataan pasokan juga menjadi perhatian penting agar kecukupan pangan secara nasional dapat dirasakan masyarakat di daerah, termasuk wilayah yang memiliki tantangan distribusi dan akses transportasi.

Pemerintah pun dihadapkan pada tantangan menjaga kesinambungan produksi, memperkuat cadangan pangan, serta memastikan harga komoditas tetap terjangkau bagi konsumen tanpa mengabaikan kesejahteraan petani.

Dengan kombinasi cadangan yang tersedia, realisasi produksi, dan rencana pengembangan lahan, pemerintah berharap ketahanan pangan nasional dapat terus diperkuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending