Connect with us

Sulsel Keren

Patonro dan Songkok Recca, Dua Penutup Kepala Tradisional yang Menyimpan Sejarah Besar 

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Bukan sekadar pelengkap pakaian adat, Patonro dan Songkok Recca menyimpan jejak sejarah, identitas, serta aturan sosial masyarakat Sulawesi Selatan pada masa kerajaan. Keduanya memiliki bentuk dan karakter berbeda, tetapi sama-sama memperlihatkan bagaimana penutup kepala pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan budaya Bugis-Makassar.

Di tengah perkembangan zaman, kedua warisan budaya ini masih dapat dijumpai dalam kegiatan adat, pernikahan tradisional, pertunjukan seni, hingga acara resmi yang mengangkat identitas daerah.

Namun, di balik bentuknya yang khas, terdapat sejarah panjang yang menarik untuk diketahui generasi muda.

Patonro, Identitas Khas Budaya Makassar

Patonro, yang juga dikenal sebagai passapu, merupakan penutup kepala tradisional berbahan kain yang dililitkan dengan bentuk tertentu. Penutup kepala ini lekat dengan identitas budaya masyarakat Makassar dan digunakan sebagai bagian dari busana tradisional laki-laki.

Pada masa kerajaan, penggunaan Patonro berkaitan dengan kedudukan dan peran seseorang dalam masyarakat. Bentuk serta cara pemakaiannya dapat mengandung makna tertentu sesuai tradisi yang berlaku.

Dalam sejumlah tradisi, bentuk Patonro yang tegak dikaitkan dengan kesiapsiagaan panglima, sedangkan bentuk dan cara pemakaian lainnya dapat berhubungan dengan kegiatan adat.

BACA JUGA  Royong, Sastra Lisan Makassar yang Kian Pudar, Doa dan Pesan Leluhur Terancam Terlupakan

Kini, Patonro masih digunakan dalam berbagai kegiatan budaya, termasuk upacara adat, pernikahan, penyambutan tamu, dan pertunjukan kesenian.

Keberadaannya menjadi pengingat bahwa pakaian tradisional bukan hanya persoalan penampilan, tetapi juga bagian dari cara masyarakat mewariskan identitas dan nilai budaya.

Songkok Recca, Warisan Kerajinan dari Bone

Berbeda dengan Patonro yang berbahan kain, Songkok Recca merupakan penutup kepala khas masyarakat Bugis, khususnya dari Kabupaten Bone.

Keunikannya terletak pada bahan pembuatannya, yakni serat pelepah daun lontar yang dipukul-pukul hingga menyisakan serat. Dalam bahasa Bugis, proses tersebut disebut direcca-recca, yang menjadi asal penyebutan Songkok Recca.

Serat lontar kemudian dipilah dan dianyam menggunakan cetakan yang disebut assareng hingga membentuk songkok.

Warna hitam pada seratnya juga memiliki proses tersendiri. Serat direndam dalam lumpur selama beberapa hari sehingga berubah menjadi lebih gelap secara alami.

Keterampilan membuat Songkok Recca diwariskan secara turun-temurun. Desa Paccing, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan tradisional tersebut.

Bagi masyarakat setempat, Songkok Recca bukan hanya aksesori pakaian, tetapi juga hasil keterampilan yang memiliki nilai budaya sekaligus ekonomi.

BACA JUGA  Maccelleng-Celleng, Tradisi Unik Pangkep: Keluarga Pengantin Saling Melempar Barang pada Malam Sebelum Pernikahan

Pernah Menjadi Penanda Kedudukan dalam Kerajaan

Sejarah Songkok Recca juga berkaitan erat dengan perjalanan Kerajaan Bone.

Menurut catatan sejarah yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Bone, penggunaan Songkok Recca sebagai penanda pasukan dikaitkan dengan masa Arung Palakka dalam konflik dengan pasukan Toraja pada 1683.

Pada masa pemerintahan Raja Bone ke-32, La Mappanyukki, yang mulai memerintah pada 1931, Songkok Recca berkembang menjadi penutup kepala kebesaran bagi kalangan kerajaan, bangsawan, dan pejabat kerajaan.

Songkok tersebut kemudian dikenal pula sebagai Songkok Pamiring atau Pamiring Pulaweng ketika menggunakan hiasan pinggiran emas.

Pada masa itu, ukuran atau proporsi hiasan emas berkaitan dengan tingkatan sosial pemakainya. Dengan demikian, songkok bukan hanya menunjukkan identitas daerah, tetapi juga mencerminkan struktur sosial yang berlaku pada zamannya.

Seiring perubahan kehidupan masyarakat, penggunaan Songkok Recca semakin terbuka dan tidak lagi terbatas pada kalangan bangsawan.

Warisan yang dahulu berkaitan dengan kedudukan kerajaan itu kini menjadi bagian dari identitas budaya Bugis yang dapat dikenakan oleh masyarakat luas.

Songkok Recca juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018.

BACA JUGA  Menolak Listrik dan Hidup Serba Hitam, Ammatoa Kajang Menjaga Aturan Leluhur di Tengah Modernisasi

Berbeda Bentuk, Sama-Sama Menjaga Identitas Daerah

Patonro dan Songkok Recca memperlihatkan kekayaan tradisi penutup kepala di Sulawesi Selatan.

Patonro menonjolkan keterampilan membentuk dan melilitkan kain, sedangkan Songkok Recca memperlihatkan ketelitian mengolah serta menganyam serat pelepah lontar.

Keduanya memiliki latar budaya dan sejarah yang tidak sepenuhnya sama. Patonro lekat dengan tradisi masyarakat Makassar, sementara Songkok Recca dikenal sebagai warisan kerajinan masyarakat Bugis Bone.

Perbedaan tersebut justru memperlihatkan bahwa identitas budaya Sulawesi Selatan dibangun dari beragam tradisi yang memiliki ciri khas masing-masing.

Melestarikan keduanya bukan sekadar mempertahankan bentuk pakaian lama. Upaya tersebut juga berarti menjaga pengetahuan tentang bahan, teknik pembuatan, sejarah, dan nilai sosial yang diwariskan antargenerasi.

Di tengah perubahan gaya hidup, tantangannya adalah memastikan bahwa generasi muda tidak hanya mengenali Patonro dan Songkok Recca dari penampilannya, tetapi juga memahami cerita yang menyertainya.

Sebab, sebuah warisan budaya akan lebih bermakna ketika masyarakat bukan hanya menggunakannya, melainkan juga mengetahui sejarah dan alasan tradisi tersebut tetap dipertahankan hingga hari ini.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending