Connect with us

NEWS

BMKG Catat 7.029 Gempa Susulan di NTT, Aktivitas Mulai Menurun

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA – Aktivitas kegempaan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus berlangsung setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Selasa (25/8) pukul 05.00 WIB, telah terjadi 7.029 kali gempa bumi susulan.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan ribuan gempa susulan tersebut memiliki kekuatan yang beragam. Gempa susulan terkecil yang tercatat memiliki magnitudo 1,1.

Sementara itu, sebanyak 32 gempa susulan tercatat memiliki kekuatan di atas magnitudo 5. Dari keseluruhan aktivitas tersebut, BMKG mencatat 141 gempa susulan dirasakan oleh masyarakat.

“Total gempa bumi susulan yaitu 7029 (kali),” kata Wijayanto dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).

Aktivitas Gempa Mulai Berkurang

BACA JUGA  Cekcok Berujung Dugaan Pemukulan, Dirreskrimum Polda Sumbar dan Pengendara Akhirnya Berdamai

BMKG menyebut aktivitas gempa susulan di NTT saat ini mulai menunjukkan tren penurunan. Dalam 12 jam terakhir, tidak terdapat laporan terbaru mengenai gempa yang dirasakan masyarakat.

“Tidak ada update gempa dirasakan sejak 12 jam yang lalu,” ujar Wijayanto.

Meski intensitasnya mulai menurun, masyarakat tetap diminta waspada. BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan mendatang.

“Gempa susulan diperkirakan berlangsung sekitar 3-4 minggu,” kata Wijayanto.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah serta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Korban Meninggal Capai 91 Orang

Dampak gempa NTT juga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan sebelumnya menyampaikan jumlah korban meninggal akibat bencana tersebut mencapai 91 orang hingga Minggu (23/8/2026).

BACA JUGA  Merah Putih Kembali Berkibar di Masjid Raya Baiturrahman Usai Kericuhan Hari Damai Aceh

“Hingga pukul 16.00 WIB, Minggu, 23 Agustus 2026, jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa, atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya,” kata Berton dalam konferensi pers, Minggu (23/8).

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 32 orang. Berikutnya Manggarai Timur sebanyak 31 orang, Nagekeo 14 orang, Sikka enam orang, Ngada lima orang, Ende dua orang, dan Manggarai Barat satu orang.

Dari total 91 korban meninggal dunia, sebanyak 40 orang berjenis kelamin laki-laki dan 48 perempuan. Sementara tiga korban lainnya masih dalam proses identifikasi.

Berdasarkan kelompok usia, korban meninggal terdiri dari 39 lansia, empat batita, satu balita, 12 anak-anak dan remaja, serta 35 orang dewasa.

BACA JUGA  Kuasa Hukum 69 Korban Minta Surya Paloh Panggil Putri Dakka Terkait Dugaan Kasus Subsidi Umrah

BNPB mencatat sekitar 51 persen korban meninggal dunia akibat dampak langsung gempa, seperti tertimpa reruntuhan bangunan. Sementara 49 persen lainnya meninggal akibat dampak tidak langsung dari bencana tersebut.

Selain korban meninggal, sebanyak 1.286 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Manggarai Timur menjadi daerah dengan jumlah korban luka terbanyak, yakni 643 orang. Selanjutnya Kabupaten Manggarai Barat mencatat 504 korban luka.

Dengan aktivitas gempa susulan yang masih berlanjut, pemerintah bersama lembaga terkait terus melakukan pemantauan serta penanganan terhadap masyarakat terdampak. Warga diminta tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan potensi bahaya dari gempa susulan dan kondisi bangunan yang telah mengalami kerusakan.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending