Sulsel Keren
Jejak Laut Purba di Leang-Leang Maros, Jutaan Tahun Kemudian Jadi Rumah Manusia Prasejarah
KITASULSEL — MAROS — Sebelum dikenal sebagai kawasan gua prasejarah dengan lukisan cadas, Leang-Leang merupakan bagian dari bentang alam yang terbentuk melalui proses geologi sangat panjang. Sejarahnya bahkan jauh lebih tua daripada keberadaan manusia di Sulawesi.
Kawasan karst Maros-Pangkep, tempat Leang-Leang berada, tersusun atas batu gamping Formasi Tonasa yang terbentuk dari endapan karbonat di lingkungan laut pada rentang Eosen hingga Miosen, atau jutaan tahun lalu. Setelah mengalami pengangkatan dan erosi, batuan tersebut berkembang menjadi bentang alam karst yang kini dikenal dengan bukit-bukit kapur, tebing terjal dan ratusan gua.

Karena itu, istilah “jejak laut purba” pada Leang-Leang memiliki dasar geologi. Namun, secara ilmiah lebih tepat mengatakan bahwa batuan penyusun kawasan tersebut terbentuk dari endapan laut purba, bukan menyimpulkan bahwa seluruh kawasan Leang-Leang pada suatu waktu merupakan dasar laut seperti kondisi laut masa kini.
Jutaan Tahun Membentuk Karst

Proses perubahan tersebut berlangsung sangat lama. Setelah batu gamping terangkat menjadi daratan, air hujan dan air tanah masuk melalui rekahan batuan. Pelarutan secara perlahan membentuk rongga-rongga, lorong dan gua.
Proses erosi kemudian menghasilkan bentang alam khas Maros-Pangkep berupa menara-menara karst dan bukit kapur yang berdiri di antara dataran rendah.
Penelitian geologi modern menggambarkan kawasan Maros-Pangkep sebagai bentang karst sekitar ratusan kilometer persegi yang tersusun oleh batu gamping laut Eosen hingga Miosen dan kemudian mengalami pengangkatan serta erosi.
Di titik inilah sejarah geologi kemudian bertemu dengan sejarah manusia.
Ketika Gua Menjadi Ruang Kehidupan
Ratusan gua dan ceruk di kawasan karst Maros-Pangkep menyimpan bukti aktivitas manusia prasejarah. Penelitian arkeologi menemukan berbagai tinggalan, mulai dari alat batu, sisa makanan hingga seni cadas.
Penelitian terhadap Leang Bulu Bettue, misalnya, menemukan rekaman hunian manusia yang sangat panjang. Lapisan arkeologinya bahkan memberikan bukti aktivitas manusia sejak periode Pleistosen hingga Holosen.
Di kawasan Maros-Pangkep juga ditemukan seni cadas yang usianya mencapai puluhan ribu tahun. Penanggalan menggunakan metode uranium-series terhadap endapan mineral yang berkaitan dengan gambar cadas di sejumlah situs menunjukkan usia minimum sekitar 40 ribu tahun untuk salah satu cap tangan di Leang Timpuseng.
Penelitian lebih baru bahkan menunjukkan bahwa seni cadas figuratif di kawasan Maros-Pangkep telah ada setidaknya 51.200 tahun lalu, berdasarkan penanggalan pada situs Leang Karampuang.

1950: Penelitian Mulai Membuka Cerita Leang-Leang
Sejarah penelitian arkeologi modern di kawasan ini juga memiliki catatan panjang.
Pada 1950, arkeolog Belanda H.R. van Heekeren melakukan penelitian terhadap situs-situs prasejarah di sekitar Maros. Laporan tahun tersebut mencatat keberadaan lukisan cadas dan temuan prasejarah di kawasan itu.
Penelitian kemudian berkembang kembali pada 1969 melalui ekspedisi arkeologi Indonesia-Australia yang melibatkan D.J. Mulvaney dan R.P. Soejono. Penelitian berikutnya memperluas pemahaman mengenai kronologi hunian manusia dan kebudayaan prasejarah di gua-gua Maros-Pangkep.
Sejak saat itu, kawasan ini terus menjadi salah satu laboratorium penting untuk memahami sejarah manusia di Sulawesi.
Bukan Sekadar Lukisan di Dinding Gua
Nilai Leang-Leang tidak hanya terletak pada gambar-gambar di dinding gua.
Di balik lukisan cadas terdapat bentang alam yang terbentuk jutaan tahun sebelumnya. Batuan kapurnya merekam lingkungan laut purba, sementara gua yang terbentuk kemudian menjadi ruang yang digunakan manusia.
Dengan demikian, satu kawasan menyimpan dua arsip sejarah sekaligus.
Arsip pertama adalah sejarah bumi—tentang laut purba, endapan karbonat, pengangkatan daratan dan pembentukan karst.
Arsip kedua adalah sejarah manusia—tentang kedatangan manusia, kehidupan di gua, teknologi, makanan dan ekspresi seni yang ditinggalkan pada dinding batu.
Keduanya memiliki rentang waktu yang sangat berbeda, tetapi bertemu di tempat yang sama.
Dari Laut Purba hingga Manusia Modern
Jika perjalanan Leang-Leang disusun secara sederhana, urutannya bukanlah sekadar “laut kemudian manusia”.
Jauh lebih tepat jika dibaca sebagai rangkaian panjang: endapan karbonat terbentuk di lingkungan laut purba, batuan mengalami pengangkatan, proses pelarutan dan erosi membentuk karst, gua berkembang, manusia kemudian memanfaatkan ruang tersebut dan meninggalkan jejak budaya.
Itulah yang membuat kawasan Leang-Leang begitu penting.
Hari ini pengunjung melihat bukit-bukit kapur dan gua yang tampak kokoh. Namun setiap lapisan bentang alam tersebut menyimpan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sejarah manusia yang dapat ditulis.
Leang-Leang bukan hanya tempat melihat peninggalan manusia prasejarah. Ia adalah ruang tempat sejarah bumi dan sejarah manusia bertemu—dari laut purba jutaan tahun lalu hingga jejak manusia yang masih dapat dibaca di dinding gua hari ini.
-
Nasional1 tahun agoAndi Syakira Harumkan Nama Sidrap, Lolos ke Panggung Utama Dangdut Academy 7 Indosiar,Bupati SAR:Kita Support Penuh!
-
3 tahun agoInformasi Tidak Berimbang,Dewan Pengurus KKS Kairo Mesir Keluarkan Rilis Kronologi Kejadian di Mesir
-
Politics2 tahun agoIndo Barometer:Isrullah Ahmad -Usman Sadik Pepet Budiman-Akbar,IBAS-Puspa Tak Terkejar
-
2 tahun agoTangis Haru Warnai Pelepasan Status ASN Hj Puspawati Husler”Tetaplah Kuat Kami Bersamamu”
-
3 tahun agoPj Gubernur Bahtiar Paparkan Rencana Pembangunan Sulsel di Depan Presiden Jokowi
-
3 tahun agoVideo Menolak Berjabat Tangan Dengan Seorang Warga Viral ,Ketua DPRD Luwu Timur Dinilai Tidak Mencerminkan Diri Sebagai Wakil Rakyat
-
4 tahun agoDari Kotamobagu, BMR Anies Bertekat Menangkan Anies Baswedan*
-
2 tahun agoDuet Birokrat dan Legislatif, NasDem Usung Syahar-Kanaah di Pilkada Sidrap










You must be logged in to post a comment Login