Connect with us

Sulsel Keren

Time Travel ke Zaman Prasejarah! Sumpang Bita Pangkep Simpan Cerita Ribuan Tahun di Dalam Gua

Published

on

KITASULSEL — BALOCCI, PANGKEP — Bayangkan melakukan time travel tanpa mesin waktu. Cukup datang ke Taman Purbakala Sumpang Bita, Kelurahan Balocci Baru, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Di balik perbukitan karstnya, tersimpan jejak manusia prasejarah yang membuat tempat ini terasa seperti pintu menuju masa lalu.

Sumpang Bita berada dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Di kawasan ini terdapat dua situs gua yang dikenal luas, yakni Gua Sumpang Bita dan Gua Bulu Sumi.

Gua yang Menyimpan Jejak Manusia Masa Lalu

Daya tarik utama Sumpang Bita berada di dalam gua. Pada dindingnya terdapat seni cadas berupa cap tangan manusia dan gambar hewan.

Cap tangan tersebut menjadi salah satu bentuk tinggalan budaya yang menunjukkan bahwa manusia pada masa prasejarah telah memanfaatkan ruang gua sekaligus meninggalkan ekspresi visual di dindingnya.

Bagi pengunjung masa kini, sebuah cap tangan mungkin terlihat sederhana. Namun dalam konteks arkeologi, jejak tersebut merupakan bagian dari informasi penting untuk memahami kehidupan manusia masa lalu—mulai dari aktivitas, lingkungan hingga perkembangan budaya mereka.

BACA JUGA  Dulu Cuma Bisa Lihat di TikTok, Kini Jajanan Viral Ini Muncul di Makassar

Gua juga bukan sekadar ruang kosong di dalam batu. Dalam penelitian arkeologi, lantai gua dan lapisan tanah di dalamnya dapat menyimpan berbagai tinggalan, seperti artefak batu, sisa makanan dan material lain yang membantu peneliti merekonstruksi kehidupan penghuninya.

Ada Cerita di Balik Nama Sumpang Bita

Sumpang Bita juga memiliki cerita yang berkembang di tengah masyarakat. Kisah-kisah lokal mengenai kawasan gua menjadi bagian dari memori budaya masyarakat sekitar.

Namun, cerita rakyat dan fakta arkeologi perlu ditempatkan pada ruang yang berbeda. Cerita masyarakat merupakan warisan budaya lisan, sedangkan keberadaan lukisan cadas, artefak dan lapisan arkeologis merupakan bukti yang dapat diteliti secara ilmiah.

Justru perpaduan keduanya membuat kawasan ini semakin menarik. Pengunjung tidak hanya datang melihat batu dan gua, tetapi juga dapat mengenal bagaimana masyarakat sekitar memaknai ruang yang telah digunakan manusia sejak masa lampau.

BACA JUGA  Pengumuman Pemenang Festival Kelong All Genre 2026, Ini Daftar Lengkapnya

Petualangan Dimulai dari Ratusan Anak Tangga

Untuk mencapai kawasan gua, pengunjung harus melewati ratusan anak tangga. Bagi anak muda, perjalanan ini bisa menjadi bagian paling seru dari petualangan.

Keringat, tanjakan dan suasana hutan menjadi “harga” sebelum sampai pada ruang yang menyimpan tinggalan prasejarah.

Sesampainya di atas, pemandangan kawasan karst menjadi bonus tersendiri. Tebing batu kapur dan pepohonan menciptakan suasana yang berbeda dari destinasi wisata perkotaan.

Dari Kota Makassar, perjalanan menuju Sumpang Bita sekitar 59 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 hingga 2 jam, tergantung kondisi perjalanan.

 

Bukan Sekadar Tempat Foto

Di era ketika tempat wisata sering dicari karena spot-nya yang menarik untuk media sosial, Sumpang Bita menawarkan sesuatu yang berbeda.

BACA JUGA  Resep Original Coto Makassar Berdasarkan Arsip Budaya, Diwariskan Turun-Temurun

Di sini, pengunjung dapat berdiri di depan dinding gua yang menyimpan jejak manusia masa lalu dan membayangkan kehidupan masyarakat yang pernah memanfaatkan kawasan tersebut.

Tidak ada layar digital yang memutar ulang kehidupan mereka. Yang tersisa justru benda-benda dan gambar yang bertahan melewati perubahan zaman.

Itulah yang membuat pengalaman di Sumpang Bita terasa seperti time travel.

Manusia masa lalu meninggalkan cap tangannya di dinding gua. Ribuan tahun kemudian, manusia modern datang membawa kamera untuk mengabadikan jejak tersebut.

Sumpang Bita pada akhirnya bukan hanya tentang gua, tangga dan pemandangan karst. Ia adalah ruang tempat sejarah, arkeologi, alam dan cerita masyarakat bertemu.

Dan setiap langkah menuju gua seolah membawa pengunjung semakin jauh dari masa kini—hingga akhirnya berhadapan langsung dengan salah satu jejak manusia yang pernah hidup di Sulawesi Selatan pada masa prasejarah.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending