Connect with us

Entertainment

El Niño 2026 Bisa Jadi yang Terbesar dalam 1.000 Tahun, Dunia Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem Hingga 2027

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR – Fenomena El Niño yang sedang berkembang mulai membuat dunia waspada. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa El Niño kali ini berpotensi menjadi salah satu yang paling kuat dalam setidaknya 1.000 tahun, membawa risiko cuaca ekstrem ke berbagai wilayah dunia.

Peringatan tersebut disoroti The Guardian pada Kamis, 3 September 2026, setelah Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyampaikan bahwa fenomena pemanasan laut di Pasifik tengah dan timur diperkirakan terus menguat dan dapat bertahan hingga 2027.

El Niño sendiri bukan sekadar perubahan suhu laut. Fenomena ini dapat mengubah pola cuaca dalam skala global, menyebabkan sebagian wilayah mengalami kekeringan lebih panjang, sementara wilayah lain justru menghadapi hujan ekstrem dan banjir.

BACA JUGA  Kabar Gembira Buat Pencipta Lagu Tanah Air, Pencatatan Hak Cipta Kini Gratis

Dampaknya bahkan sudah mulai terlihat di sejumlah tempat.

Laporan The Guardian menyebut kondisi El Niño yang menguat ikut memperparah risiko kebakaran di Indonesia. Di kawasan lain, perubahan pola hujan juga mulai meningkatkan kekhawatiran terhadap pertanian, ketersediaan air, dan ketahanan pangan.

Yang membuat para ilmuwan semakin khawatir adalah kondisi tersebut terjadi ketika bumi sudah berada dalam periode pemanasan akibat perubahan iklim.

Dengan kata lain, El Niño datang ke planet yang memang sudah lebih panas.

WMO memperkirakan pemanasan laut akibat El Niño dapat mendorong suhu global semakin tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi ini juga berpotensi membuat tahun 2027 menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat.

BACA JUGA  Akhir Pekan Ini Jangan Bingung! 10 Film Bioskop yang Bisa Jadi Pilihan 22–23 Agustus 2026

Bagi Indonesia, ancaman tersebut patut mendapat perhatian karena El Niño secara historis berkaitan dengan kondisi yang lebih kering di banyak wilayah Indonesia.

Musim kemarau yang lebih panjang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, mengurangi ketersediaan air, serta memberi tekanan terhadap sektor pertanian.

Namun, dampaknya tidak selalu sama di setiap daerah. El Niño merupakan fenomena global dengan pengaruh lokal yang berbeda-beda, sehingga perkembangan cuaca tetap perlu dipantau melalui prakiraan dan peringatan resmi.

Para ahli kini memperingatkan bahwa dunia tidak hanya menghadapi satu fenomena alam, tetapi pertemuan antara El Niño yang menguat dan pemanasan global yang terus berlangsung.

Karena itu, El Niño 2026 bukan hanya cerita tentang suhu laut di Samudra Pasifik. Fenomena ini bisa berujung pada persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari—air, pangan, kebakaran, cuaca ekstrem hingga biaya hidup.

BACA JUGA  Kotak Resmi Tinggalkan Warner Music Indonesia Setelah 18 Tahun, Buka Babak Baru sebagai Band Indie
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending