Sulsel Keren
Royong, Sastra Lisan Makassar yang Kian Pudar, Doa dan Pesan Leluhur Terancam Terlupakan
KITASULSEL — MAKASSAR — Di tengah derasnya arus hiburan digital, Sulawesi Selatan menyimpan warisan budaya yang tidak sekadar berisi keindahan suara, tetapi juga doa, harapan, dan nilai kehidupan. Warisan itu bernama Royong, sastra lisan masyarakat Makassar yang keberadaannya kini menghadapi tantangan pewarisan antargenerasi.
Royong bukan nyanyian biasa. Tradisi ini mengandung ungkapan harapan dan doa yang diwariskan melalui lantunan lisan. Dalam sejumlah praktik tradisional, Royong digunakan pada momen tertentu dalam kehidupan masyarakat, termasuk untuk mengiringi pengasuhan anak dan rangkaian adat.
Penelitian mengenai Royong di Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar, yang diterbitkan pada 2025 mencatat bahwa tradisi ini semakin memudar sehingga membutuhkan upaya pelestarian dan pengembangan.
Bukan Sekadar Nyanyian, Ada Doa di Dalamnya
Dalam tradisi masyarakat Makassar, Royong memiliki dimensi budaya dan spiritual. Syair yang dilantunkan memuat harapan serta doa, sehingga pelaksanaannya dalam konteks adat tidak selalu dapat diperlakukan sebagai pertunjukan hiburan biasa.
Sejumlah kajian kebudayaan juga mencatat bahwa Royong memiliki hubungan dengan tradisi masyarakat Gowa dan Takalar. Nilai yang terkandung di dalamnya memperlihatkan bagaimana masyarakat terdahulu menyampaikan harapan, keyakinan, dan pandangan hidup melalui sastra lisan.
Warisan seperti ini penting untuk dipahami generasi muda agar budaya lokal tidak hanya dikenal dari namanya, tetapi juga dimengerti makna dan konteks penggunaannya.
Ketika Penutur Semakin Sulit Ditemukan
Salah satu tantangan pelestarian sastra lisan adalah ketergantungannya pada orang-orang yang menguasai tradisi tersebut. Berbeda dengan karya tulis yang dapat dibaca kapan saja, sastra lisan membutuhkan penutur yang memahami bahasa, syair, dan tata cara penyampaiannya.
Penelitian di Sanrobone menunjukkan perlunya strategi untuk menjaga keberadaan Royong. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah memperluas pengenalan tradisi ini melalui dokumentasi dan konten digital, tanpa menghilangkan penghormatan terhadap nilai adatnya.
Warisan Leluhur Perlu Diberi Ruang
Pelestarian Royong membutuhkan keterlibatan keluarga, pelaku budaya, komunitas seni, sekolah, dan pemerintah daerah. Dokumentasi audio-visual, pengenalan dalam kegiatan kebudayaan, serta pencatatan pengetahuan para penutur dapat membantu menjaga keberlanjutan tradisi ini.
Teknologi digital juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan Royong kepada generasi baru. Namun, rekaman saja tidak cukup apabila pengetahuan tentang bahasa, makna syair, dan konteks adatnya tidak ikut diwariskan.
Royong mengingatkan bahwa kekayaan budaya Sulawesi Selatan tidak hanya hadir dalam rumah adat, pakaian tradisional, atau festival. Ada pula warisan yang hidup melalui suara manusia, menyimpan doa dan pesan leluhur yang layak terus dikenal oleh generasi berikutnya.
-
Nasional1 tahun agoAndi Syakira Harumkan Nama Sidrap, Lolos ke Panggung Utama Dangdut Academy 7 Indosiar,Bupati SAR:Kita Support Penuh!
-
3 tahun agoInformasi Tidak Berimbang,Dewan Pengurus KKS Kairo Mesir Keluarkan Rilis Kronologi Kejadian di Mesir
-
Politics2 tahun agoIndo Barometer:Isrullah Ahmad -Usman Sadik Pepet Budiman-Akbar,IBAS-Puspa Tak Terkejar
-
2 tahun agoTangis Haru Warnai Pelepasan Status ASN Hj Puspawati Husler”Tetaplah Kuat Kami Bersamamu”
-
4 tahun agoVideo Menolak Berjabat Tangan Dengan Seorang Warga Viral ,Ketua DPRD Luwu Timur Dinilai Tidak Mencerminkan Diri Sebagai Wakil Rakyat
-
3 tahun agoPj Gubernur Bahtiar Paparkan Rencana Pembangunan Sulsel di Depan Presiden Jokowi
-
4 tahun agoDari Kotamobagu, BMR Anies Bertekat Menangkan Anies Baswedan*
-
2 tahun agoDuet Birokrat dan Legislatif, NasDem Usung Syahar-Kanaah di Pilkada Sidrap










You must be logged in to post a comment Login