Connect with us

Entertainment

Deretan Karya Musisi Sulawesi Selatan yang Jadi Soundtrack Film Lokal Layar Lebar

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Sejumlah karya musisi Sulawesi Selatan hadir dalam film layar lebar, di antaranya Uang Panai, Silariang, Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui, Botting, dan Rannu. Film-film tersebut menghadirkan beragam kisah percintaan, konflik keluarga, dan budaya lokal yang memberi ruang bagi musik untuk memperkuat suasana cerita serta identitas Sulawesi Selatan.

Kehadiran lagu dalam film bukan sekadar pelengkap adegan. Musik dapat membangun emosi, mempertegas karakter, dan membuat cerita terasa lebih dekat dengan penonton. Sejumlah karya berikut memperlihatkan pertemuan antara pencipta lagu, penyanyi, dan sineas dalam mengangkat warna musik lokal ke layar lebar.

1. Sitengnga Atimi Pale — Akbar Natsir dan Maladewi AR

Lagu Sitengnga Atimi Pale diciptakan Akbar Natsir dan dibawakan Maladewi AR. Karya ini dikaitkan dengan film Botting dan menjadi contoh lagu ciptaan lokal yang terhubung dengan perfilman Sulawesi Selatan. Kehadiran lagu tersebut memperlihatkan potensi karya musik daerah untuk menjangkau pendengar lebih luas melalui film. Kredit resmi penggunaan lagu dalam film masih perlu dicocokkan dengan dokumentasi produksi.

2. Sajang Rennu — Yusuf Alamudi dan H. Jafar Abu

Sajang Rennu merupakan lagu Bugis ciptaan Yusuf Alamudi dan H. Jafar Abu yang dikenal melalui penampilan Anci La Ricci bersama Meity Baan. Lagu ini hadir dalam film Silariang (2017) melalui versi yang dibawakan Ika KDI bersama Art2tonic. Nuansa sedih dalam lagu tersebut selaras dengan kisah cinta Cia dan Ali yang menghadapi penolakan keluarga, serta persoalan silariang atau kawin lari dalam konteks nilai siri’ masyarakat Bugis-Makassar.

BACA JUGA  Malam Ini, Lyodra Siap Memukau Makassar di Tech-Culture Fest 2026

3. Silariang — Band Uyee

Band Makassar Uyee turut menyumbangkan lagu berjudul Silariang untuk film Uang Panai yang tayang pada 2016. Film ini mengangkat perjuangan Anca dan Risna menghadapi persoalan uang panai serta perbedaan kemampuan ekonomi keluarga. Judul lagu tersebut memiliki kedekatan dengan istilah silariang dalam budaya Bugis-Makassar. Nama pencipta individual lagu ini masih perlu dipastikan melalui kredit resmi.

4. Sahabat — Band Uyee

Selain Silariang, Uyee juga menyumbangkan lagu Sahabat untuk film Uang Panai. Karya ini melengkapi musik film yang memadukan percintaan, persahabatan, dan persoalan sosial dalam kehidupan masyarakat Makassar. Keterlibatan Uyee dengan lebih dari satu lagu memperlihatkan ruang bagi band lokal untuk berkontribusi dalam produksi layar lebar. Namun, pencipta individual lagu Sahabat masih perlu dikonfirmasi.

BACA JUGA  Makassar Bakal Berpesta! SUB Fest 2026 Hadirkan Ari Lasso, Reality Club hingga The Adams 3 September

5. I Love Makassar City — Fandy WD

Lagu I Love Makassar City yang dikaitkan dengan film Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui membawa identitas Makassar melalui judulnya. Karya ini menjadi bagian dari ragam musik yang mewarnai film tersebut dan memperlihatkan bagaimana soundtrack dapat membantu memperkuat kedekatan cerita dengan latar wilayahnya. Informasi kredit pencipta dan detail penggunaannya tetap perlu dicocokkan dengan dokumentasi resmi produksi.

6. Rumahku di Sisimu — El Matulessy

Rumahku di Sisimu yang dibawakan El Matulessy juga disebut dalam rangkaian musik film Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui. Judulnya membawa nuansa kedekatan dan rasa memiliki, tema yang selaras dengan cerita tentang hubungan, keluarga, dan pilihan hidup. Untuk melengkapi pencatatan karya ini, nama pencipta lagu serta kredit resminya masih perlu dipastikan.

7. Inninawa — Aransemen Nadya Fatira

Inninawa diaransemen ulang oleh Nadya Fatira untuk film Silariang: Cinta Yang (Tak) Direstui. Nadya juga terlibat sebagai penata musik film tersebut. Penggarapan ulang lagu daerah ini mempertemukan kekayaan musik lokal dengan pendekatan aransemen sinematik. Dalam pencatatan karya, nama pengaransemen perlu dibedakan dari pencipta asli agar kontribusi setiap pihak tetap tercatat dengan benar.

BACA JUGA  Kejar Mimpi Rising Start Competition 2026 Hadir di Makassar, Talenta Singing dan Dancing Unjuk Aksi

Musik lokal memperkuat identitas perfilman Sulawesi Selatan

Rangkaian karya tersebut memperlihatkan beragam cara musik hadir dalam film layar lebar, mulai dari lagu berbahasa Bugis hingga karya yang membawa nama Makassar. Musik lokal dapat memperkuat suasana cerita, menghadirkan kedekatan budaya, sekaligus membuka kesempatan bagi musisi untuk menjangkau pendengar baru.

Bagi pembuat film, penggunaan musik yang sesuai dengan latar cerita dapat memperkaya pengalaman penonton. Sementara bagi pencipta dan penyanyi, soundtrack menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan karya di luar panggung pertunjukan dan platform musik digital.

Meski demikian, dokumentasi kredit tetap menjadi hal penting. Nama pencipta, penyanyi, pengaransemen, serta hak penggunaan lagu perlu dicatat secara jelas agar kontribusi setiap pelaku memperoleh pengakuan yang layak. Hal ini juga membantu masyarakat menelusuri perjalanan musik Sulawesi Selatan dalam industri perfilman.

Dari Sitengnga Atimi Pale hingga Sajang Rennu, pertemuan musik dan film menunjukkan potensi kolaborasi yang dapat terus dikembangkan. Dengan dokumentasi yang akurat dan kerja sama berkelanjutan antara musisi serta sineas, karya musik lokal berpeluang semakin dikenal dan menjadi bagian dari perkembangan industri kreatif Sulawesi Selatan.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending