Connect with us

NEWS

Dr. Bunyamin Yapid Ajak Sarjana Syariah Masuki Dunia Bisnis, dari Industri Halal hingga Ekonomi Berbasis Masjid

Published

on

KITASULSEL—PALU — Tenaga Ahli Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, Lc., M.H., mengajak mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu untuk memperluas ruang aktualisasi diri dengan terjun ke dunia kewirausahaan berbasis iman dan nilai-nilai syariah.

Ajakan tersebut disampaikan Dr. Bunyamin saat membawakan kuliah umum di Aula Pascasarjana UIN Datokarama Palu, Selasa (27/10/2026), dengan tema “Memperluas Ruang Aktualisasi Sarjana Syariah: Menjadi Entrepreneur Berbasis Iman dan Nilai Syariah.”

Dalam pemaparannya, Dr. Bunyamin menekankan bahwa sarjana syariah memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam mengembangkan berbagai sektor bisnis yang menerapkan prinsip-prinsip Islam.

Menurutnya, perkembangan industri yang mengusung identitas syariah saat ini membuka ruang luas bagi generasi muda, khususnya lulusan Fakultas Syariah, untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga tampil sebagai pelaku usaha, inovator, dan penggerak ekonomi umat.

“Sekarang kita melihat banyak bisnis yang menggunakan label syariah. Ada salon syariah, fashion syariah, perbankan syariah, hingga kos-kosan syariah. Ini menunjukkan bahwa pasar dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan berbasis syariah terus berkembang,” ujarnya.

Ia menilai, peluang tersebut seharusnya menjadi ruang aktualisasi bagi mahasiswa dan alumni Fakultas Syariah. Bekal keilmuan Islam, hukum, serta prinsip-prinsip muamalah yang mereka miliki dapat menjadi modal penting dalam membangun usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menjunjung tinggi etika, keadilan, dan kebermanfaatan.

BACA JUGA  Kapolda Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir di Makassar

“Jangan sampai ruang-ruang bisnis syariah justru lebih banyak diisi oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang keilmuan syariah. Saya mengajak adik-adik mahasiswa untuk mulai melihat peluang ini dan mempersiapkan diri menjadi pelaku usaha yang memahami nilai-nilai Islam,” tegasnya.

Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Ekonomi Umat

Tidak hanya mendorong mahasiswa memasuki industri halal, Dr. Bunyamin juga mengajak Fakultas Syariah UIN Datokarama Palu untuk mengambil bagian dalam pengembangan ekonomi berbasis masjid.

Ia menyoroti potensi masjid dan musala di Indonesia yang menurutnya dapat dikembangkan lebih jauh sebagai pusat pemberdayaan umat, tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat ibadah.

Dengan jumlah masjid dan musala di Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 733.000 unit, pengelolaan rumah ibadah dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui pendekatan yang lebih inovatif, profesional, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

“Kalau kita melihat jumlah masjid dan musala di Indonesia, potensinya sangat besar. Pengelolaannya perlu terus diperbarui agar masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah mahdah, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.

Menurut Dr. Bunyamin, pengembangan ekonomi berbasis masjid dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan produktif yang tetap menjaga kesucian, kehormatan, dan fungsi utama rumah ibadah.

Salah satu gagasan yang disampaikannya ialah membangun ruang-ruang interaksi anak muda di lingkungan masjid, seperti kedai kopi bernuansa Islami, pusat kegiatan kreatif, ruang diskusi, hingga unit usaha yang dikelola secara profesional.

BACA JUGA  Status Tersangka Digugat, Praperadilan Eks Wakil Kepala BGN Digelar 12 Agustus di PN Jakarta Pusat

Ia menilai, pendekatan semacam ini dapat menjadi alternatif untuk mendekatkan generasi muda, termasuk Generasi Z dan Generasi Alfa, dengan lingkungan masjid melalui kegiatan yang relevan dengan kehidupan mereka.

“Anak-anak muda sekarang senang berkumpul di warung kopi. Mengapa tidak kita bangun kerja sama untuk menghadirkan ruang usaha dan ruang pergaulan positif di lingkungan masjid? Tentu harus dikelola dengan baik, tetap menjaga adab dan fungsi masjid, serta memberikan manfaat bagi umat,” ungkapnya.

Gagasan tersebut, lanjutnya, membutuhkan keterlibatan generasi muda yang memiliki wawasan keislaman, kemampuan manajerial, serta kreativitas dalam membaca peluang ekonomi.

Dalam konteks inilah, mahasiswa Fakultas Syariah dinilai mempunyai posisi strategis. Mereka dapat berkontribusi dalam perancangan model bisnis, pengelolaan aset produktif, pendampingan hukum usaha, hingga pengembangan tata kelola masjid yang transparan dan akuntabel.

Dari Ruang Kuliah Menuju Kemandirian Ekonomi

Dr. Bunyamin menegaskan bahwa pendidikan syariah harus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori dan regulasi, tetapi juga memiliki keberanian untuk menciptakan peluang dan menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.

Menurutnya, kewirausahaan berbasis syariah merupakan salah satu jalan untuk memperluas kontribusi sarjana Muslim dalam pembangunan ekonomi nasional sekaligus memperkuat kemandirian umat.

BACA JUGA  Lestari Moerdijat: Kesetaraan Perempuan Merupakan Agenda Peradaban Bangsa

Mahasiswa perlu dibekali pola pikir kreatif, kemampuan membaca kebutuhan pasar, pemahaman terhadap akad dan transaksi yang sesuai syariah, serta integritas dalam menjalankan usaha.

Ia juga mendorong agar gagasan pengembangan bisnis syariah dan ekonomi berbasis masjid tidak berhenti sebagai wacana akademik. Perguruan tinggi, mahasiswa, pengelola masjid, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi agar ide-ide tersebut dapat diwujudkan menjadi program nyata yang berkelanjutan.

Kuliah umum ini menjadi momentum untuk mengajak mahasiswa melihat masa depan profesi sarjana syariah secara lebih luas. Peluang karier tidak hanya terbatas pada sektor formal yang berkaitan dengan hukum dan keagamaan, tetapi juga terbuka dalam industri halal, keuangan syariah, konsultasi hukum bisnis, pengembangan usaha, serta pengelolaan ekonomi umat.

Melalui kuliah umum tersebut, Dr. Bunyamin berharap mahasiswa Fakultas Syariah UIN Datokarama Palu mampu menjadi generasi yang berdaya saing, berjiwa entrepreneur, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

Sebab, di tengah perkembangan ekonomi modern, tantangan sarjana syariah bukan sekadar memahami hukum Islam, melainkan juga menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam praktik kehidupan, termasuk dalam dunia usaha yang produktif, berkeadilan, dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Sarjana syariah harus mampu menjadi bagian dari solusi, membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi umat, dan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi dalam membangun masa depan.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending