Entertainment
Musik Indonesia Makin Berani Keluar dari genre Baku , Batas Genre Mulai Kabur
KITASULSEL – MAKASSAR — Musik Indonesia perlahan menunjukkan wajah yang semakin beragam. Batas antara pop, rock, elektronik, jazz, dangdut, hip-hop hingga musik alternatif mulai terasa semakin tipis.
Musisi tak lagi selalu terpaku pada satu warna. Sebuah lagu pop bisa diberi sentuhan rock, musik elektronik dipadukan dengan instrumen akustik, sementara unsur tradisional kembali menemukan tempat di tengah produksi musik modern.
Fenomena itu terlihat dalam sejumlah agenda musik tanah air belakangan ini.
Synchronize Fest 2026, misalnya, menghadirkan ratusan musisi lintas generasi dan genre dalam satu panggung. Festival yang berlangsung 16–18 Oktober di Jakarta tersebut mempertemukan musisi dari ranah pop, rock, indie, elektronik, dangdut, reggae, hip-hop hingga jazz.
Bukan hanya keberagaman genre yang menjadi perhatian. Kolaborasi antarmusisi dari latar berbeda juga semakin sering terjadi.
Reality Club dijadwalkan tampil bersama penyanyi dan penulis lagu asal Thailand, Phum Viphurit. Keduanya memiliki hubungan musikal yang telah terjalin sejak 2019, ketika Reality Club menjadi penampil pembuka tur Phum Viphurit.
Pola serupa juga terlihat dalam Pestapora 2026. Festival tersebut menghadirkan 330 penampil dalam tiga hari, dengan sejumlah kolaborasi lintas generasi dan karakter musik.
Kerispatih tampil bersama Sammy Simorangkir, Raisa berkolaborasi dengan Andi Rianto, sementara Dewa 19 tampil bersama Ello. Tipe-X bahkan hadir dalam format orkestra.
Namun, perubahan selera dan cara bermusik itu bukan berarti genre lama kehilangan tempat.
Rock tetap memiliki ruang melalui nama-nama seperti For Revenge, Burgerkill, The SIGIT hingga Pee Wee Gaskins. Di sisi lain, musik pop masih menjadi bagian besar dari industri dengan kehadiran penyanyi seperti Tulus, Raisa, Bernadya, Mahalini dan Afgan.
Perkembangan tersebut juga terlihat dalam ajang penghargaan musik. AMI Awards 2026 menghadirkan berbagai kategori yang mencakup pop, rock, jazz, musik alternatif dan beragam bentuk karya lainnya.
Tema “Ruang Nada Nusantara” bahkan membawa perhatian pada pertemuan antara musik modern, tradisi dan kekayaan bahasa daerah.
Hal ini memperlihatkan bahwa identitas musik Indonesia semakin terbuka terhadap eksperimen.
Musisi memiliki ruang lebih luas untuk menggabungkan berbagai pengaruh tanpa harus kehilangan karakter. Pendengar pun mendapatkan pilihan yang semakin beragam.
Pada akhirnya, perubahan tersebut membuat pertanyaan tentang sebuah lagu harus masuk genre apa menjadi semakin tidak sederhana.
Musik boleh punya akar yang kuat, tetapi perkembangannya tidak harus berhenti di satu tempat.
Dan mungkin, di tengah industri yang terus berubah, justru keberanian untuk keluar dari kotak itulah yang membuat musik Indonesia tetap hidup, berkembang dan terus menemukan pendengarnya.
-
Nasional1 tahun agoAndi Syakira Harumkan Nama Sidrap, Lolos ke Panggung Utama Dangdut Academy 7 Indosiar,Bupati SAR:Kita Support Penuh!
-
3 tahun agoInformasi Tidak Berimbang,Dewan Pengurus KKS Kairo Mesir Keluarkan Rilis Kronologi Kejadian di Mesir
-
Politics2 tahun agoIndo Barometer:Isrullah Ahmad -Usman Sadik Pepet Budiman-Akbar,IBAS-Puspa Tak Terkejar
-
2 tahun agoTangis Haru Warnai Pelepasan Status ASN Hj Puspawati Husler”Tetaplah Kuat Kami Bersamamu”
-
4 tahun agoVideo Menolak Berjabat Tangan Dengan Seorang Warga Viral ,Ketua DPRD Luwu Timur Dinilai Tidak Mencerminkan Diri Sebagai Wakil Rakyat
-
3 tahun agoPj Gubernur Bahtiar Paparkan Rencana Pembangunan Sulsel di Depan Presiden Jokowi
-
4 tahun agoDari Kotamobagu, BMR Anies Bertekat Menangkan Anies Baswedan*
-
2 tahun agoDuet Birokrat dan Legislatif, NasDem Usung Syahar-Kanaah di Pilkada Sidrap










You must be logged in to post a comment Login