Connect with us

Entertainment

Bukan Sekadar Horor, “Putri Jangan Gentayangan Lagi” Angkat Luka Keluarga dan Komunikasi yang Terlambat

Published

on

KITASULSEL – MAKASSAR — Film horor Indonesia kembali menawarkan cerita yang tidak hanya mengandalkan sosok menyeramkan. “Putri Jangan Gentayangan Lagi” garapan sutradara Rizal Mantovani mencoba mempertemukan teror mistis dengan persoalan keluarga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Film produksi MVP Pictures ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 5 November 2026. Lembaga Sensor Film telah menetapkannya untuk penonton usia 13 tahun ke atas dengan durasi 104 menit.

Cerita berpusat pada Putri, diperankan Kawai Labiba, yang kembali ke rumah setelah cukup lama pergi. Ia pulang dalam kondisi sakit setelah melahirkan seorang bayi. Kondisinya kemudian semakin memburuk hingga meninggal dunia.

Setelah kematiannya, berbagai kejadian misterius mulai menghantui warga. Sosok Putri disebut masih gentayangan karena ada persoalan yang belum terselesaikan.

BACA JUGA  Paramount Kembangkan Film Transformers Baru, Kursi Sutradara Tak Lagi Ditempati Steven Caple Jr.

Namun, di balik cerita horornya, film ini justru memberikan ruang cukup besar untuk membahas hubungan ibu dan anak, komunikasi dalam keluarga, serta keputusan yang diambil ketika seseorang berada dalam situasi sulit.

Kinaryosih yang memerankan Mak Eli, ibu Putri, membawa sisi emosional yang cukup kuat. Karakternya digambarkan sebagai seorang ibu yang menyayangi anak-anaknya, tetapi kesibukan bekerja dan mengurus keluarga membuat komunikasi dengan Putri tidak selalu berjalan baik.

Penyesalan kemudian datang setelah semuanya terlambat.

Sementara itu, Denisha yang memerankan Alana menyebut kekuatan film ini tidak hanya berada pada unsur horornya. Menurutnya, persoalan komunikasi keluarga menjadi salah satu pesan penting yang ingin disampaikan kepada penonton.

BACA JUGA  Afgan Jadi Pemeran Utama Agensi Rumah Tangga, OST yang Digarap Hanya Dua Jam Curi Perhatian Jelang Tayang

Film ini juga menyentuh persoalan yang selama ini masih dianggap tabu, termasuk pendidikan kesehatan reproduksi antara orang tua dan anak.

Pesan tersebut membuat “Putri Jangan Gentayangan Lagi” memiliki lapisan cerita yang lebih luas. Teror dalam film bukan hanya tentang sesuatu yang datang dari dunia lain, tetapi juga tentang persoalan keluarga yang tidak dibicarakan sejak awal.

Dari sisi produksi, para pemain juga menghadapi tantangan berbeda. Denisha harus membangun rasa takut sejak proses pengambilan gambar, sementara Fadi Alaydrus dituntut menjaga konsistensi logat sekaligus menjalani adegan pertarungan yang cukup menguras tenaga.

Bintang Agara bahkan menyebut sejumlah adegan lebih banyak menggunakan efek praktikal dan benturan secara langsung, sehingga para pemain tidak bisa hanya mengandalkan efek visual untuk membangun ketegangan.

BACA JUGA  Saat Dinosaurus Menguasai Jalanan dan Tak Ada Jalan Pulang, The End of Oak Street Siap Menguji Nyali Penonton

Film ini sendiri diadaptasi dari kisah viral yang sebelumnya dikenal melalui siniar YouTube Lentera Malam. Lembaga Sensor Film mencatat cerita tersebut kemudian dikembangkan menjadi film layar lebar oleh MVP Pictures.

Pada akhirnya, “Putri Jangan Gentayangan Lagi” mencoba menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar membuat penonton takut.

Sebab di balik arwah yang gentayangan, ada keluarga yang kehilangan. Di balik teror, ada penyesalan. Dan di balik cerita mistisnya, ada satu pesan sederhana yang mungkin justru paling dekat dengan kehidupan banyak orang: jangan menunggu kehilangan untuk mulai benar-benar mendengarkan keluarga.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending