Connect with us

Entertainment

Putri Marino dan Arya Saloka Bawa “Empat Musim Pertiwi” ke Panggung Dunia, Bukan Sekadar Film tentang Masa Lalu

Published

on

KITASULSEL – MAKASSAR — Film Indonesia kembali mendapat ruang di panggung perfilman internasional. “Empat Musim Pertiwi” karya sutradara Kamila Andini hadir di Busan International Film Festival (BIFF) 2026, setelah sebelumnya menjalani pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival.

Film yang dibintangi Putri Marino, Arya Saloka dan Christine Hakim itu menjadi salah satu karya Indonesia yang membawa cerita lokal ke hadapan penonton internasional. Di BIFF 2026, film tersebut masuk program A Window on Asian Cinema, yang menampilkan karya-karya sineas Asia dengan kekuatan artistik dan perspektif yang dianggap penting dalam perkembangan sinema kawasan.

Kehadiran Putri Marino dan Arya Saloka bersama Kamila Andini serta produser Ifa Isfansyah di Busan pun menjadi perhatian tersendiri. Mereka hadir untuk memperkenalkan film yang tidak hanya berbicara tentang kehidupan seorang perempuan, tetapi juga menyentuh persoalan kekerasan, stigma, trauma dan bagaimana seseorang berusaha mendapatkan kembali ruang untuk hidup setelah melewati masa kelam.

BACA JUGA  Harusnya Horor, Debut Reza Arap yang Penuh Tawa dan Kenangan Lula Lahfah

Cerita berpusat pada Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara selama dua dekade.

Namun kepulangan itu tidak serta-merta menjadi awal kehidupan baru.

Warga desa masih memandangnya melalui masa lalu. Bahkan keluarganya sendiri tidak sepenuhnya menyambut kepulangannya. Pertiwi kemudian harus berhadapan dengan stigma dan luka lama yang selama bertahun-tahun melekat pada dirinya.

Di sinilah film tersebut menjadi lebih dari sekadar drama tentang seseorang yang pulang ke kampung halaman.

Kamila Andini menggunakan perjalanan Pertiwi untuk mempertanyakan bagaimana masyarakat memberikan label kepada seseorang, bagaimana kekuasaan menentukan apa yang dianggap benar, serta bagaimana korban dan pelaku terkadang ditempatkan dalam posisi yang tidak sesederhana hitam dan putih.

BACA JUGA  5 cm: Revolusi Hati Bawa Cerita Baru, Hadirkan Generasi Pemeran Berbeda

Film ini juga menggunakan pendekatan lintas genre dengan memadukan realisme dan unsur surealis. Kamila bahkan memasukkan elemen fiksi ilmiah dalam karya terbarunya tersebut sebagai bagian dari eksplorasi artistiknya.

Menariknya, perjalanan film ini ke panggung dunia juga berlanjut ke Oscar 2027. “Empat Musim Pertiwi” telah dipilih sebagai wakil resmi Indonesia untuk diajukan dalam kategori Best International Feature Film di Academy Awards ke-99.

Arya Saloka bahkan menyampaikan rencana mengenakan batik saat menjalani rangkaian promosi di Amerika Serikat. Bagi Arya, membawa identitas Indonesia menjadi bagian penting dari perjalanan film tersebut di panggung internasional.

Film ini dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia 8 Oktober 2026, sehari setelah pemutaran di Busan pada 7 Oktober.

BACA JUGA  JYP Cari Calon Bintang Band Baru, Talenta Indonesia Punya Kesempatan Tembus Agensi K-Pop

Pada akhirnya, perjalanan “Empat Musim Pertiwi” menjadi menarik bukan hanya karena nama besar para pemainnya.

Film ini menunjukkan bahwa cerita Indonesia tidak harus meninggalkan akar lokal untuk bisa berbicara kepada dunia.

Justru dari persoalan tentang kampung halaman, stigma, kekerasan, keluarga dan perjuangan seorang perempuan menghadapi masa lalunya, sebuah cerita lokal bisa menemukan bahasa yang dipahami penonton dari berbagai negara.

Ketika cerita Indonesia dibawa ke dunia, yang ikut berjalan bukan hanya para pemain dan sineasnya, tetapi juga cara kita memperkenalkan wajah Indonesia melalui sebuah karya.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending