Connect with us

Kominfo Makassar

Jangan Asal Sebar! Ini 7 Cara Mengenali Berita Hoaks di Media Sosial

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat siapa pun semakin mudah membuat foto, video, dan suara yang tampak meyakinkan. Namun, kemudahan ini juga membuka celah penyalahgunaan, termasuk pembuatan informasi palsu demi menarik klik, mengejar jumlah penayangan, dan memperoleh pendapatan dari monetisasi media sosial.

Konten yang dikemas secara sensasional dapat memancing pengguna untuk mengeklik, berkomentar, dan membagikannya. Sebagian pembuat konten mungkin memanfaatkan strategi tersebut untuk mengejar keuntungan, meski motif monetisasi tidak bisa disimpulkan hanya dari jumlah penayangan atau gaya penyajian sebuah unggahan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat perlu memahami bahwa banyaknya penonton, komentar, atau tanda suka tidak membuktikan sebuah informasi benar.

1. Jangan Hanya Membaca Judul

Judul sensasional sering digunakan untuk menarik perhatian dan memancing emosi pembaca. Kalimat seperti “Sebarkan Sekarang!” atau “Informasi Ini Sengaja Ditutupi!” patut dicermati.

Namun, judul yang heboh tidak otomatis berarti hoaks. Baca isi informasi secara utuh dan periksa apakah isinya benar-benar sesuai dengan judul.

BACA JUGA  Kadis Kominfo Makassar Paparkan Transformasi Digital di Seminar Nasional UGM

2. Periksa Sumber Informasi

Pastikan informasi berasal dari sumber yang jelas. Periksa identitas penulis, alamat situs, akun yang mengunggah, serta apakah sumber tersebut memiliki rekam jejak yang dapat ditelusuri.

Jika informasi berkaitan dengan kebijakan pemerintah, bencana, kesehatan, atau keamanan, bandingkan dengan pengumuman resmi lembaga yang berwenang.

3. Bandingkan dengan Sumber Lain

Jangan langsung percaya hanya karena sebuah informasi dibagikan banyak akun. Cari kata kunci utama melalui mesin pencari dan periksa apakah informasi serupa dapat ditemukan dari beberapa sumber tepercaya.

Jika informasi penting hanya beredar dalam bentuk tangkapan layar tanpa tautan atau sumber asli, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa informasi tersebut benar.

4. Perhatikan Tanggal dan Lokasi Kejadian

Foto atau video lama dapat kembali beredar seolah-olah menggambarkan peristiwa terbaru. Karena itu, periksa tanggal publikasi, lokasi kejadian, dan konteks asli konten tersebut.

BACA JUGA  Muhammad Roem Dilantik Jadi Kadiskominfo Makassar, Tonggak Baru Menuju Kota Cerdas Digital

Informasi yang benar pada masa lalu belum tentu menggambarkan keadaan saat ini.

5. Cek Keaslian Foto dan Video

Teknologi AI dapat menghasilkan atau memanipulasi gambar, video, dan suara sehingga terlihat meyakinkan. Salah satu bentuknya adalah deepfake, yakni konten yang membuat seseorang seolah-olah mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Gunakan pencarian gambar seperti Google Lens untuk menelusuri sumber foto. Periksa pula apakah visual sesuai dengan narasi, tanggal, dan lokasi yang disebutkan. Jangan menjadikan tampilan yang realistis sebagai satu-satunya bukti keaslian.

6. Waspadai Informasi yang Memancing Emosi

Hoaks kerap menggunakan rasa takut, marah, atau kegembiraan berlebihan agar orang segera bertindak. Pesan yang mendesak pembaca untuk menyebarkan informasi tanpa pemeriksaan patut diwaspadai.

Di era AI, konten palsu dapat diproduksi dan disebarkan dengan cepat. Sebagian unggahan juga dirancang untuk mengejar klik dan penayangan yang berpotensi mendukung monetisasi. Meski demikian, motif tersebut perlu dibuktikan dan tidak boleh langsung dilekatkan pada setiap konten viral.

BACA JUGA  Buka Workshop Dakwah Digital, Plt Kadis Kominfo Makassar Tekankan Pentingnya Pemanfaatan Teknologi Bijak

Jangan biarkan emosi menggantikan proses berpikir kritis. Berhenti sejenak dan periksa faktanya sebelum mengambil kesimpulan.

7. Manfaatkan Kanal Pemeriksa Fakta

Jika masih ragu, masyarakat dapat mencari klarifikasi melalui kanal pemeriksa fakta seperti TurnBackHoax.id dan CekFakta.com. Untuk informasi resmi, periksa pula situs atau akun lembaga terkait.

Tidak ditemukannya sebuah klaim di situs pemeriksa fakta bukan berarti klaim tersebut otomatis benar. Jika belum ada klarifikasi, lakukan pemeriksaan lebih lanjut dan hindari menyebarkannya sebagai fakta.

Jangan Biarkan Kejar View Mengalahkan Kebenaran

Penyalahgunaan AI untuk membuat informasi palsu dapat merugikan masyarakat, mulai dari kesalahan mengambil keputusan hingga pencatutan identitas dan penipuan. Ketika konten menyesatkan terus dibagikan, kepercayaan publik terhadap informasi digital juga berisiko melemah.

Teknologi AI bukan masalah dengan sendirinya. Teknologi ini dapat mendukung pendidikan, kreativitas, dan penyampaian informasi. Persoalan muncul keti

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending