Connect with us

NEWS

Jelajahi Pelosok Nusantara, Bunyamin Yapid Pastikan Semangat Pendidikan As’adiyah Terus Menyala

Published

on

KITASULSEL BOMBANA, – Komitmen memperkuat jaringan pendidikan Islam hingga ke pelosok Nusantara terus ditunjukkan Ketua Yayasan Pondok Pesantren As’adiyah, DR. H. Bunyamin M. Yapid, LC., MA.

Kali ini, DR. Bunyamin melakukan kunjungan langsung ke Pondok Pesantren As’adiyah Cabang Bombana, Sulawesi Tenggara. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar pengurus yayasan untuk memberikan dukungan moril kepada para santri, tenaga pendidik, serta para pejuang pendidikan As’adiyah yang mengabdikan diri di berbagai daerah.

Bagi Bunyamin, keberadaan cabang-cabang As’adiyah di berbagai wilayah Indonesia bukan sekadar perluasan lembaga pendidikan, tetapi juga merupakan bagian dari perjuangan dakwah dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Karena itu, ia secara intensif berkeliling mengunjungi sejumlah cabang pesantren, melihat secara langsung kondisi lembaga, pola pendidikan, metode pembelajaran, hingga semangat para guru dalam mendidik generasi muda.

Dalam kunjungannya di Bombana, Bunyamin mengaku terharu sekaligus bersyukur melihat perjuangan para tenaga pendidik yang membangun dan mengembangkan pesantren dengan segala keterbatasan.

BACA JUGA  Pertamina Turun Langsung ke Pengungsian, Pastikan Bantuan Korban Gempa NTT Tepat Sasaran

“Saya berterima kasih dan bersyukur sekali melihat semangat para guru, para pejuang As’adiyah di sini. Luar biasa sekali. Mereka betul-betul memulai dari nol dengan semangat yang luar biasa,” ungkapnya.

Ia menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh keluarga besar As’adiyah di Bombana yang terus menjaga semangat pengabdian dalam mengembangkan pendidikan dan dakwah Islam.

Menurutnya, perjuangan tersebut sejalan dengan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional yang dimulai dari masyarakat di tingkat akar rumput.

Bunyamin menilai, Pondok Pesantren As’adiyah telah mengambil bagian dalam upaya membangun masyarakat dari kampung, termasuk menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses pendidikan.

“Kalau kita berbicara tentang membangun Indonesia dari kampung, saya melihat As’adiyah sudah berada di garis terdepan. Jauh sebelum berbagai program pembangunan digaungkan, As’adiyah sudah bergerak menjangkau masyarakat di pelosok, bahkan di sejumlah wilayah perbatasan Republik Indonesia,” ujarnya.

BACA JUGA  Kemenag Tampil Perdana di Cairo International Book Fair 2026, Promosikan Islam Moderat Indonesia

Ia mencontohkan, kehadiran lembaga pendidikan As’adiyah di berbagai daerah, termasuk Kalimantan dan Sulawesi Tenggara, menjadi bukti bahwa dakwah pendidikan tidak boleh hanya terpusat di perkotaan.

Justru dari kampung, dari kawasan pegunungan, dan dari masyarakat yang memiliki keterbatasan fasilitas, lahir generasi-generasi yang kelak memiliki kesempatan untuk berkontribusi bagi bangsa.

“Anak-anak dari kampung, dari gunung, bisa turun untuk mendapatkan pendidikan. Dengan segala keterbatasan yang ada, mereka tetap memiliki semangat yang luar biasa,” tuturnya.

Di hadapan para santri dan tenaga pendidik, Bunyamin juga memberikan motivasi agar tidak pernah merasa kecil karena berasal dari daerah atau belajar dalam kondisi yang sederhana.

Menurutnya, kekayaan terbesar seseorang bukan semata-mata terletak pada materi, melainkan pada pemikiran, ilmu pengetahuan, dan semangat untuk terus berkembang.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan sosok Ketua Umum Pengurus Pusat As’adiyah, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, sebagai teladan dalam menempuh perjalanan pendidikan dan meraih kesuksesan.

BACA JUGA  Pemilik Media Sidrap Sepakat Perkuat SMSI Lewat Pra Muscab di Warkop Hadide

Bunyamin mengajak para santri untuk meneladani perjalanan hidup dan perjuangan Prof. Nasaruddin Umar yang juga memiliki latar belakang pendidikan pesantren As’adiyah.

“Perjuangan Ande Gurutta Prof. Nasaruddin Umar harus menjadi inspirasi bagi kita semua. Beliau pernah menempuh pendidikan di lingkungan As’adiyah. Perjalanan dan perjuangannya patut kita contoh, bagaimana pendidikan pesantren dapat melahirkan sosok yang memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan negara,” katanya.

Ia berharap, semangat para guru dan santri As’adiyah Cabang Bombana terus terpelihara. Keterbatasan fasilitas tidak boleh menjadi penghalang untuk melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan memiliki daya saing.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuatan besar As’adiyah tidak hanya terletak pada nama besar lembaga, tetapi juga pada ketulusan para guru dan pengelola pesantren yang bekerja di pelosok negeri.

Dari Bombana, semangat itu kembali diteguhkan: membangun pendidikan, merawat dakwah, dan menyiapkan masa depan bangsa dari kampung-kampung Nusantara.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending