Connect with us

Nasional

Menag Nasaruddin Umar: Kampus NU Harus Miliki Masjid Ikonik dan Program Asrama Wajib

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA – Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa pembangunan Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan kualitas akademik, tetapi juga harus mencerminkan identitas keagamaan yang kuat melalui desain kampus yang ikonik dan berkarakter.

Hal tersebut disampaikan Menag saat menerima audiensi Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Fahmy Akbar Idries, di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Pertemuan tersebut membahas standar dan desain ideal pengembangan Kampus UNU Yogyakarta agar mampu menjadi pusat kebanggaan warga Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus rujukan pendidikan tinggi berbasis nilai-nilai kepesantrenan. Audiensi turut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahmad Bahiej, serta jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY.

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin Umar menekankan bahwa keberadaan masjid yang megah dan representatif harus menjadi ikon utama kampus NU. Menurutnya, masjid tidak boleh ditempatkan di lokasi yang kurang strategis, melainkan harus berdiri di pusat kawasan kampus sebagai simbol identitas perguruan tinggi.

BACA JUGA  Mentan: Harga Gabah dan Jagung Naik Sesuai Arahan Presiden

“Kampus NU itu harus punya ikon yang bisa dijadikan kebanggaan. Bangunannya harus dirancang bertingkat (vertikal/high-rise) untuk menghemat lahan di kota, tetapi masjidnya harus berdiri anggun di lokasi utama dan mampu menampung minimal 50 persen dari total mahasiswa. Masjid adalah wajah citra perguruan tinggi NU,” ujar Menag.

Selain pembangunan masjid, Menag juga menegaskan pentingnya penyediaan asrama mahasiswa sebagai bagian dari sistem pembinaan karakter. Ia mengusulkan agar seluruh mahasiswa baru diwajibkan tinggal di asrama selama dua semester pertama.

Menurutnya, program tersebut menjadi ciri khas yang membedakan perguruan tinggi NU dengan perguruan tinggi umum lainnya karena mampu memperkuat pembentukan karakter dan nilai-nilai keagamaan.

BACA JUGA  Komisi VIII DPR Setujui Tambahan Anggaran Rp50,10 Miliar untuk Rampungkan Proyek Strategis UIN Malang

“Yang membedakan perguruan tinggi NU dengan kampus lain adalah unsur kepesantrenannya. Pada semester pertama dan kedua, seluruh mahasiswa wajib diasramakan. Di sinilah proses doktrinisasi ke-NU-an, penanaman akhlakul karimah, serta penguatan tradisi keagamaan ditanamkan secara kokoh,” tegasnya.

Lebih lanjut, Nasaruddin juga memaparkan sejumlah standar fasilitas yang perlu dipenuhi dalam pembangunan kampus NU modern. Selain masjid dan asrama, kampus diharapkan memiliki gedung rektorat yang representatif, pusat perpustakaan digital (e-library), ruang kuliah bertingkat, kantin dan pusat kegiatan mahasiswa, ruang terbuka hijau, serta aula berkapasitas besar yang mampu menampung kegiatan akademik maupun prosesi wisuda.

Menurut Menag, konsep tersebut diharapkan mampu menghadirkan kampus yang tidak hanya unggul dari sisi akademik, tetapi juga menjadi pusat pembinaan karakter, spiritualitas, dan budaya keislaman yang kuat.

BACA JUGA  DPD AMPHURI Sulampua Resmi Dilantik: H Muhammad Yasmar Yapid Ambil Peran Strategis

Sementara itu, pihak Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta menyambut positif berbagai masukan yang disampaikan Menteri Agama. Pihak kampus menyatakan komitmennya untuk menyelaraskan perencanaan pembangunan fisik maupun pengembangan kurikulum pembinaan mahasiswa sesuai visi Kementerian Agama.

Dengan konsep tersebut, UNU Yogyakarta diharapkan mampu berkembang menjadi perguruan tinggi modern yang tetap mempertahankan jati diri kepesantrenan serta menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi Islam yang unggul, berkarakter, dan menjadi kebanggaan warga Nahdlatul Ulama di Indonesia.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending